
menjelang siang, beberapa kerabat karin sudah terlihat meninggalkan rumah keluarga pak santoso. setelah proses pengambilan foto mempelai bersama orang tua dan sanak family, sang pengantin baru itupun sudah diperbolehkan mengganti baju mereka.
"ma, karin keatas dulu ya mau ganti baju. ini udah berat semua rasanya." karin segera keatas menuju kamarnya, yang kemudian disusul oleh suaminya.
"abang ngapain?."
"mau ganti baju, gerah."
"sini aku bantu," aksa mendudukkan karin di depan meja riasnya, dengan telaten membuka hiasan kepala dan melati yang ada di kepalanya.
"abang." karin menyilangkan kedua tangannya, saat tiba-tiba aksa akan membukakan kebayanya.
"kenapa sayang?."
"aku.. malu."
"ngapain malu? ini milikku." ucap aksa sambil mencium pipi kanan karin.
"dan ini milikku." aksa kemudian mencium pipi karin. karin hanya mampu memejamkan matanya, saat bulu kulitnya terasa meremang.
ucapan "milikku" yang aksa lontarkan, menyadarkannya bahwa saat ini jiwa dan raganya seutuhnya milik suaminya.
"dan ini...," ibu jari aksa berhenti di bibir mungil karin, sambil mengulasnya lembut aksa mendekatkan bibirnya, ******* pelan benda kenyal yang terasa begitu manis.
seakan ikut terbawa suasana, karin membalas ciuman aksa. saling mengecap dan bertukar ludah, ciuman lembut tadi berubah sangat menuntut.
"ini juga milikku.." aksa beralih ke leher jenjang putih karin, menciuminya bertubi-tubi sedangkan karin menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara. rasa geli dan nikmat menjadi satu.
"abang..." karin memegang kedua pundak aksa agar menghentikan kegiatannya.
"terlebih ini, ini milikku seutuhnya." suara serak aksa membuat jantung karin berdetak lebih cepat dari biasanya, aksa mulai membuka kancing kebaya karin. reflek karin menyilangkan kedua tangannya lagi, namun dengan cepat aksa mencegahnya. tatapan mata aksa membuat karin luluh dan menurunkan kedua tangannya.
aksa mulai melepaskan semua kain yang ada di badan karin, hanya meninggalkan bh dan cd. terpampang jelas tubuh polos karin membuat aksa menelan salivanya kasar.
"abang, ngapain buka baju disini?."
"kamu lupa? kita sudah sah sayang."
"i..iya, tapi tetap aja kan..." aksa tetap melanjutkan membuka baju dan celananya. karin melotot dan berbalik membelakinganya. tiba tiba dia dikagetkan dengan tangan kekar yang sudah melingkar di pinggang rampingnya.
"sayang...." selalu saja, suara aksa yang seperti ini, membuat karin memejamkan matanya mencoba mengatur nafasnya agar tetap stabil.
bulu bulu halus di dada aksa sangat terasa di punggung karin, begitu juga jambang aksa yang berada di pundaknya membuatnya semakin merasa geli.
aksa membalikkan tubuh karin agar menghadap ke arahnya, karin langsung memalingkan wajahnya saat matanya tertuju pada dada bidang aksa, pasti pipinya sekarang sudah bersemu merah saking malunya.
"tatap aku!."
"kenapa abang melihat ku seperti itu?."
"aku.. sudah tidak tahan."
"a.. apa?."
"ini." aksa menuntun tangan karin ke arah pusakanya yang mulai mengeras.
__ADS_1
"a..apa?"
"apa kamu mau berkenalan dengan adikku? bagaimana kalau mulai sekarang kita menamainya unyu unyu, menggemaskan bukan?." karin mengerjapkan matanya berulang kali, ini pertama kali dalam hidupnya menyuntuh barang itu. keterkejutan karin tidak berhenti sampai disitu, karena aksa langsung membopongnya ke arah kasur.
tok
tok
tok
"aksa, karin, kalian belum selesai?." karin langsung mendorong tubuh aksa yang sedang mengungkungnya, dan tergesa gesa mencari baju gantinya.
"abang, ada mama ayo cepat pakai bajunya."
astaga! mama mertua merusak momen, apa dia tidak ingin segera menimang cucu?
"sebentar ma, aku nunggu abang lagi mandi."
"oh, menantu mama lagi mandi? ya udah selesai mandi langsung turun, gak enak masih ada mertua kamu di bawah. kalau mau nyicil entar malem aja."
"nyicil?."
"iya nyicil, nyicil bikinin mama cucu."
"mama." teriak karin membuat bu rita turun sambil tertawa, ternyata anak bungsunya benar benar masih polos.
"mana mereka bu?."
"karin masih nunggu aksa mandi pak."
"sa, kalian mau ikut ke jakarta sekarang atau masih mau disini?."
"aku terserah karin pa, lagian riko udah balik ke jakarta. jadi perusahaan ada dia yang ngurus."
"aku terserah abang, kalau abang mau balik gak pa pa. atau kalau abang masih mau disini juga gak masalah."
"uluh uluh istri solehah," goda mama erin.
"kita disini dulu pa, masih mau menikmati indahnya kota jogja, aku gak bisa bulan madu dalam waktu dekat karena karin ada proyek di perusahaan. gak masalah kan sayang?."
"iya, aku terserah abang aja."
"kalau begitu, papa sama mama akan kembali ke jakarta duluan."
"iya pa."
keluarga pak santoso mengantarkan besan mereka sampai depan rumah, karena tidak memungkinkan mengantar mereka sampai ke bandara, di rumah pak santoso masih banyak tetangga yang membantu membereskan rumah selesai acara.
karin menyalami tangan mertuanya, disusul aksa melakukan hal sama, hal sederhana yang tidak pernah dia lakukan lagi semenjak remaja.
"sa, jangan lupa siapkan tenaga buat entar malem." bisik pak arya
"papa tenang aja, aksa bakal segera ngasih papa cucu."
"nah itu baru anak papa." kedua papa dan anak itu sontak tertawa, membuat semua orang yang berada disana keheranan.
__ADS_1
"kalau begitu, kami pamit dulu. jangan lupa segera ke jakarta!." pak santoso memeluk teman smanya dulu itu.
"aku usahakan akan segera kesana."
"rin, ayo bantu ibu di dapur."
"iya bu, abang mau makan? dari tadi pagi kita belum makan. aku siapin ya."
aksa menunggu karin menyiapkan makanannya, dia hanya tersenyum saat mengingat dulu waktu karin menyiapkan makanannya, andai dia tahu bahwa wanita yang akan dinikahinya adalah karin, mungkin dia tidak akan menolak.
betapa beruntungnya aksa karena mendapatkan wanita sebaik dan sedewasa karin, keinginannya hanya ingin membahagiakan karin dan keluarganya nanti.
"abang, ayo makan."
"kamu juga makan."
"iya."
"rin, setelah makan ibu tunggu di taman belakang ya."
"iya bu."
ya ampun bu, apalagi???? tidak bisakah ibu membiarkan aku berdua dengan karin? rasa frustasi aksa sedari tadi siang karena tidak bisa menyalurkan hasratnya membuatnya merasa pusing tujuh putaran bundaran HI.
"abang keatas duluan ya, sebentar lagi aku nyusul."
"jangan lama lama, unyu unyu gak sabar pengen ketemu."
"abang! jangan keras-keras, nanti ada yang denger!." aksa terkekeh melihat ekspresi karin yang salah tingkah.
"lagian gak ada yang tau kan, mereka gak bakalan ngerti."
"udah ah, aku mau ketemu ibu dulu."
karin pergi ke taman belakang, sedangkan aksa memilih untuk menunggu istrinya di kamar. bu rita terlihat sibuk meracik minuman untuk karin.
"rin, sini duduk! minum ini!."
"ini apa bu?."
"udah minum aja, ini bagus untuk kesehatan kamu." tak mau berdebat dengan ibunya, karin langsung meneguk habis jamu yang ibu rita buat.
"pahit bu."
"namanya juga jamu, kalo gak mau pahit, jamu buyung upik."
"ini jamu apa bu? pahit banget."
"sudah gak usah dibahas, sekarang ibu mau tanya. unyu unyu siapa rin?."
"hah?????"
kasian si Om, lagi dianggurin istrinya... kikikik...
__ADS_1