Jangan Panggil Aku Om!

Jangan Panggil Aku Om!
Jangan Membuatku Gila!!


__ADS_3

karin merenggangkan ototnya, sangat melelahkan bekerja seharian. akhirnya sudah pukul empat, karin segera membereskan semua kertas di mejanya.


"io, gue balik duluan ya."


"oke. ayo bareng," Rio juga merapikan mejanya dan keluar bersama karin.


seperti biasa semua karyawan terlihat begitu lesu setelah seharian beradu dengan kertas dan komputer. beberapa dari mereka memilih langsung pulang ke rumah, beberapa lagi memilih untuk hang out bersama sahabat dan beberapa lagi entah mereka sibuk dengan urusan apa.


karin sempat berpikir, kalau dia bekerja dengan bebas dia bisa melakukan banyak hal. seperti berbelanja setelah bekerja, hang out bersama sahabat sahabatnya. namun ekspektasinya salah karin merasakan lelah teramat lelah saat dia pulang dari kantor.


"nyet, liatin karin. dia sudah pulang apa belum?."


"eh buaya! perasaan liat karin ke ruangannya akhir akhir ini jadi pekerjaan tambahan gue." aksa menatap tajam riko, mengerti arti tatapannya, riko segera keluar.


"shin, coba kamu lihat karin sudah pulang atau belum?."


"karin? barusan saya lihat dia di lobi pak bersama Rio."


riko kembali ke ruangan aksa, terlihat aksa masih fokus membaca berkas yang dia berikan.


"sa, karin udah pulang." aksa menutup berkasnya dan melihat kearah riko.


"kenapa lo liatin gue kayak gitu?."


"lo udah ke ruangannya?."


"belum, tapi gue tanya ke shinta. dia tadi ngeliat si karin di lobi. bisa jadi dia udah pulang kan jam kerja sudah selesai." aksa mengangguk mengiyakan.


"bentar lagi jangan lupa kita, ada meeting sama klien sekalian makan malam."


"iya inget gue." aksa kembali memeriksa berkas didepannya namun pikirannya sedang berkelana entah ke belahan dunia mana.


aksa berdiri menghadap jendela panjang di ruangannya. terlihat keindahan kota jakarta saat senja menyapa, keramaian kota saat sore, pertanda sebagian penduduk kota ini sedang beristirahat setelah seharian bekerja.


aksa berpikir, apa yang sudah dia lakukan selama tiga puluh tahun hidupnya? selain mejadi CEO dan bekerja, dia hanya bermain main dengan wanita. tapi, saat ini sungguh dia merasa lelah.


lagi lagi aksa tersenyum mengingat betapa konyolnya dia tadi saat mengungkapkan perasaannya. terlintas raut wajah karin yang sangat menggemaskan.


aku butuh rumah, dan aku sudah menemukanmu untukku pulang. karin, aku akan berusaha mendapatkan hatimu. bagaimanapun caranya, entah aku harus bersikap posesif, entah aku harus bersikap arogan aku tidak peduli seperti apa aku menurutmu...


riko yang sejak tadi memperhatikan aksa, hanya berdecak heran, pasti sepupunya itu sudah gila. tersenyum, mengelus dadanya, memijat keningnya setidaknya itu yang dilihat riko sedari tadi.


"sa, lo jadian sama karin?."


aksa berbalik menghadap riko yang sejak tadi menunggunya di sofa.


"belum."

__ADS_1


"kenapa?."


"dia takut."


"apa yang ditakutin?."


"dia merasa insicure, dia bilang cewek yang ngedeketin gue lebih dari dia."


"itu alasan aja sa, dia aslinya belum yakin sama lo."


"em, bisa jadi. gue nyesel, waktu dia ngungkapin perasaanya kenapa gue malah nyuruh dia nunggu. harusnya waktu itu gue bilang aja kalo gue juga ada rasa sama dia."


"dih, geli gue denger omongan lo."


"gimanapun caranya, gue harus dapetin hati karin."


"eits, lo jangan gegabah sa, lo gak boleh ngekang dia, apalagi posesif. dia bisa ilfeel sama lo."


"tapi nyet, lo tau kan banyak cowok yang deketin dia."


"lo juga tau kan kalo banyak cewek yang deketin lo." ucap riko membalik ucapan aksa


"ck, gue gak rela aja dia deket sama siapapun, terlebih cowok yang mandang beda sama dia."


"dasar bucin! pelan aja sa, jalani dengan santai. jangan sampe dia ngerasa tertekan sama lo." riko menepuk bahu aksa.


riko dan aksa berangkat bertemu dengan klien di salah satu restoran terkenal di jantung kota jakarta. makan malam ini merupakan undangan dari aruna karena terjalinnya hubungan kerjasama diantara mereka.


"sa, muka lo jangan ditekuk gitu donk, keliatan tambah tua lo."


"gak usah mulai lo, kalo lo gak maksa gak bakal mau gue ikut kesini."


riko terpaksa mesang senyumnya saat melihat aruna dan asistennya sudah menunggu mereka. begitu pula aksa, yang dengan sangat terpaksa tersenyum.


"selamat datang tuan". aruna menyapa


"selamat malam nona." jawab riko


"ayo silahkan duduk!." aksa dan riko duduk bersebelahan.


restoran yang biasa mereka datangi biasanya akan direservasi, namun aksa sudah menegaskan dari awal bahwa dia tidak mau jika makan malam ini bersifat sangat private.


aruna menyetujui permintaan riko asal bisa mengajak aksa. aruna termasuk wanita hebat dalam dunia bisnis, selain cantik dia juga sangat pintar. tapi berapa kalipun dia mencoba merayu aksa, aksa memilih cuek atau lebih baik menghindarinya.


"tuan silahkan." makanan pembuka datang, aksa melirik riko. apa dia yang memberi tahu makanan kesukaan aksa? kenapa semua menu yang terhidang adalah masakan kesukaannya. riko kembali melirik aksa, dan menggedikkan bahunya tidak tahu.


"silahkan cicipi ini, ini adalah menu favorite di restoran ini." entah kenapa malam ini aruna bertingkah sangat kalem berbeda dengan pertama kali bertemu.

__ADS_1


aksa mencicipi sup kerang hijau di hadapannya.


"bagaimana rasanya."


"enak." satu jawaban aksa berhasil membuat aruna tersenyum bangga. seperti orang baru menang undian, aruna kembali mengambilkan beberapa makanan seafood untuk aksa.


riko terlihat jengah melihat aruna yang sengaja mencuri perhatian aksa.


"sa, gue mau dong sup kerangnya, masak lo doang yang dikasih." dengan cepat aksa menyodorkan semangkuk sop kerang tadi ke hadapan riko.


sialan! dasar asisten riko, udah tahu aku sengaja ngasih tu sup buat tuan aksa. malah dia yang makan. riko melirik aruna yang terlihat sangat kesal karena dia sengaja mengerjainya.


gue gak bakal biarin lo deketin aksa! dia hanya tersenyum smirk.


"tuan coba cicipi yang ini!." aruna kembali menyodorkan sepiring cumi pedas kehadapan aksa.


"kayaknya enak." riko mengambil cumi tadi dengan garpu dan langsung memakannya.


"kalo lo mau makan aja!." aksa kembali memberikan sepiring cumi pedasnya kepada riko.


bener bener ni asisten! kalo gini terus gimana aku bisa deketin tuan aksa. aruna menggeram kesal.


cara apalagi yang bakal lo lakuin? gue udah dapet mandat dari tante erin dan om arya untuk menjaga aksa dengan baik. riko kembali mengejek aruna dalam hatinya.


aruna menyantap makanannya tanpa mengganggu aksa lagi. percuma dia memberikan makanan kalau pada akhirnya rikolah yang menghabiskannya.


riko mengambil ponselnya dan hampir saja dia menjatuhkannya karena kaget.


"kenapa?." tanya aksa


glek!


riko bimbang, apa dia harus memberi tahukan aksa? karena tak kunjung menjawab, aksa mengambil ponsel riko, dan melihat status whatsapp adiknya, terlihat Ramon, Arsyi, Karin dan Akhdan sedang berada di sebuah restoran.


"karin, jangan membuatku gila!." gumam aksa mengepalkan tangannya. aksa berpamitan kepada aruna dan segera keluar dari restoran. rikopun menyusul aksa.


"bahaya nih! bentar lagi kayaknya bakal gempa!!!"


.


.


.


.


__ADS_1



silahkan mampir ke karya aku yang lain... tinggal klik profil aku, luv you all..💜💜💜


__ADS_2