
aksa menggertakkan giginya, menahan sesuatu yang mungkin sudah on dibawah sana. dengan pelan aksa meraih tangan karin yang masih meremas kaosnya dengan begitu erat. sepertinya karin dan dirinya benar-benar hampir saja terhanyut dalam kegiatan memabukkan itu.
"abang.." karin mengatur deru nafasnya yang memburu.
"sayang..." suara serak aksa tak kalah membuat bulu kulit tangan karin meremang.
"abang, kita tunggu halal dulu ya." ucap karin menunduk, aksa tersenyum dan mengangkat dagu karin, kedua pasang manik mata mereka beradu saling menyelami perasaan mereka masing-masing.
"bersiaplah, aku akan prepare buat halalin kamu." karin terkekeh dan mencubit dada bidang aksa.
"aw, sayang sakit."
"abis ngegombal terus."
"seriously, aku ingin segera menghalalkanmu." karin kembali menatap manik mata aksa, dia dapat merasakan ketulusan dan kasih sayang aksa.
"em, sekarang sudah malam ayo kita tidur." karin berbalik untuk membuka pintu kamarnya,
"sayang." panggil aksa
"iya..."
"ada yang lupa,."
"apa?." tanya karin bingung. aksa mendekat dan memegang kedua bahu karin, mendaratkan ciuman lembut di dahinya.
"selamat tidur calon makmum."
"ih, udah sana tidur," karin segera pergi ke kamarnya setelah menutup rapat pintunya. karin langsung bergulung dengan selimut saking bahagianya.
setelah subuh, aksa mencari keberadaan mama erin dibawah, setelah mencari ke kamarnya lalu ke dapur, aksa melihat mama erin yang sedang menyiram koleksi bunga langkanya.
"ma...."
"aksa? tumben habis subuh ke bawah?." aksa melihat aksa yang beberapa kali mengusap tengkuknya. kebiasaan aksa saat dirinya ingin mengutarakan sesuatu atau meminta sesuatu kepada orang tuanya. mama erin yang mengerti dengan tingkah aksa. menggiring anak sulungnya untuk duduk di bangku taman samping rumahnya itu.
"ada apa hm?." aksa senang mendapati mamanya selalu tau apa yang anaknya rasakan, bahkan aksa belum mengucapkan sepatah katapun.
"aku ingin melamar karin ma." kata aksa sambil menatap mamanya berharap mama erin akan menyetujui keinginannya.
__ADS_1
tidak semudah itu ferguso! kamu harus tahu rasanya berjuang anakku.. mama karin menatap aksa datar
"apa mama tidak menyetujuinya?." mama erin menggeleng pelan dan memegang tangan aksa.
"apapun pilihanmu, mama akan selalu mendukung sa. karin gadis yang baik, dia sopan dan dia selalu dewasa dalam menyikapi situasi. tidak seperti pacarmu itu." sindir mama erin
"siapa?."
"iya, mama gak suka sama dia. keliatannya aja baik. tapi sebenarnya dia tidak ikhlas kalau mama suruh melakukan sesuatu seperti kemarin. waktu dia kesini, bantu mama bikin kue mama pikir dia memang mau membantu tapi ternyata setelah kamu pergi, dia malah ikutan pergi."
"hahaha... lagian mama gak ada kerjaan ngajakin dia."
"kamu beneran pacaran sama dia?."
"aku nunggu waktu buat nyari bukti kelakuan busuk dia waktu ngejebak arsyi."
"astaga sa, emang kamu gak punya orang-orang handal yang bisa nemuin bukti itu?." mama erin melongo tak percaya sebab biasanya ketika ada kesulitan di perusahaan suaminya, aksalah yang dengan cepat menemukan jalan keluar. kenapa saar dirinya terjerat masalah sendiri malah kesusahan.
"udah aku coba ma, tetep gak berhasil."
"sa, mama gak mau tau kamu harus cepat menemukan bukti itu. mama gak mau sampai karin salah paham nantinya."
"hmmmm... memang menantu idaman."
"oh ya ma, menurut mama gimana sikap dan sifat orang tua karin. aku takut mereka gak setuju kalo aku ngelamar putri bungsu mereka." suara aksa terlihat seperti frustasi, sebab bukan tidak mungkin orang tua karin tidak tau kalau dulunya aksa selalu berganti pacar.
"nah itu dia, kalau ibuknya sih baik sa, welcome orangnya. yang harus diwaspadai itu bapaknya." ucap mama karin mendramatisir
glek! aksa menelan salivanya, berarti benar kata karin kalau bapaknya memang sedikit galak.
"emang gimana ma?."
"agak galak sih kalau menurut mama, jadi kamu harus siap-siap menghadapi ini. selamat berjuang." mama erin menyemangati aksa. sedangkan aksa menarik nafasnya dan menghembuskannya kasar. apa dia benar akan berjuang? selama ini aksa bisa dengan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan, ya walaupun memang harus berusaha keras.
tapi entah kenapa rasanya saat ini berbeda, karena dia harus melunakkan hati calon mertuanya yang entah seperti apa sikap dan sifatnya. aksa bukan lagi merasa takut, bahkan dia merasa insicure karena takut ditolak.
*******
suasana hati yang bahagia, memang akan mempengaruhi semua kegiatan kita, pekerjaan yang berat akan terasa ringan. seperti yang karin rasakan, tugas yang begitu banyak tidak terasa sudah ia kerjakan dengan cepat.
__ADS_1
"rin, lo ngebut?."
"apaan? kan udah biasa kali kerja kayak gini." jawab karin enteng
"ini mah bukan biasa, ini luar biasa." rio tidak menyangka, karin bisa melakukan pekerjaan yang harusnya terselesaikan dalam tiga hari bisa selesai dalam sekejap saja.
"oh ya, bentar lagi kita ada meeting. jangan lupa sediakan berkasnya," ucap karin
"oke, saat presentasi nanti kita harus bisa menunjukkan kehebatan kita." rio dan karin ber'tos' ria.
tidak terasa waktu meeting sudah tiba. karin dan rio berjalan menuju ruang meeting di lantai atas. rasa deg degan karena ini merupakan pertama kalinya dia diberikan kesempatan untum mempresentasikan hasil desain gambarnya di depan klien baru.
karin melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan yang baru beberapa orang saja di dalamnya. tak lama kemudian, klien mereka datang bersama dengan pemilik perusahaan, siapa lagi kalau bukan aksa.
karin mencoba bersikap biasa saat tatapan aksa menuju kepadanya, tadi mereka tidak berangkat bersama karena aksa harus mampir ke salah satu cabang kantornya.
karin dengan apik menjelaskan desain yang ia gambar, beberapa kali sang klien mengangguk mengerti dan terlihat puas dengan penjelasan karin.
"tuan aksa, saya sangat suka dengan penjelasan gadis itu. anda sangat beruntung memiliki karyawan sebaik dia. saya akan menggunakan desainnya untuk proyek saya." karin sangat bahagia, mungkin kalau tidak orang lain dia akan berlari dan memeluk kekasihnya yang saat ini tengah tersenyum bangga ke arahnya.
"terimasih tuan, saya memang beruntung bahkan sangat beruntung memilikinya." aksa menekan kata terakhirnya dan kembali tersenyum melirik karin. riko yang berada di samping aksa, langsung memberikan dua jempolnya sekaligus.
karin dan rio sudah kembali ke ruangan mereka sedangkan aksa terlihat masih mengobrol dengan klien tadi.
tuan ini banyak sekali bicara, kenapa lama sekali sih? aku kan ingin mengucapkan selamat kepada karin. aksa hanya mengangguk menanggapi pembicaraan mereka, ingin mengusir kliennya tapi tidak mungkin. aksa memijat keningnya mencari cara. kemudian dia menyuruh sekretarisnya untuk pura pura menghubungi kliennya itu.
"tuan aksa, saya permisi dulu. sepertinya ada seseorang yang menunggu saya dibawah."
"iya tuan, silahkan."
aksa langsung menghubungi karin, dan menyuruhnya datang ke ruangannya.
ceklek! karin menutup ruangan aksa.
"sayang...." aksa merentangkan tangannya. karin langsung berlari dan menabrak dada bidang aksa.
"abang.." karin seperti anak kecil yang sedang mendapatkan permen. memeluk erat tubuh aksa dan menggosokkan wajahnya ke dada aksa.
"sayang... jangan begini. kau membangun 'adik'ku."
__ADS_1