Jangan Panggil Aku Om!

Jangan Panggil Aku Om!
Rencana (3)


__ADS_3

"aksa, kamu harus menjadi milikku!." dengan terus meracau tak jelas, clara menggapai gapai udara.


aksa dengan cepat menghubungi Arga temannya yang berprofesi sebagai dokter dan juga Leo seorang hacker.


kedua teman aksa yang memang sudah mempersiapkan diri langsung berangkat ke apartemen clara.


tak sampai lima menit, mereka sampai di apartemen. Leo sudah dari beberapa menit yang lalu ia meretas cctv apartemen clara dan memutus pengamanannya.


"kita harus begerak cepat!." leo menghidupkan ponselnya, dengan cepat dia melancarkan aksinya. sudah jauh jauh hari ia melacak keberadaan ponsel yang pernah clara tunjukkan kepadanya melalui seorang waiters.


"ponsel itu ada di ruangan ini. Ga, lo urus si wanita rubah itu!." arga mengangguk, leo dan aksa masuk ke dalam kamar clara.


"aksa... kamu harus jadi milikku!." sekali lagi suara teriakan clara, berhasil membuat aksa gugup. dia segera keluar dan melihat arga yang sedang menyuntikkan obat penenang.


"tenang aja, dia gak bakal bangun sampai besok bahkan lusa." ucap arga yang melihat arga keluar lagi dari kamar clara


"kenapa gak sekalian lo bikin dia gak bangun selamanya!." ucap aksa asal


"lo pikir gue malaikat Izrail?" arga melotot karena sikap aksa yang sering membuatnya jengkel. kalau bukan karena temannya sejak smp, arga tidak mau menuruti kemauan aksa ini.


"sa, disini." leo menunjuk sebuah lemari.


aksa membuka lemari tadi, tapi hanya barisan pakain rapi yang menggantung rapi disana. aksa meraba raba setiap kantong yang ada di baju itu, tapi dia tidak menemukan ponsel itu.


"gak ada, coba lo cek lagi!."


"bener, posisinya disini." leo berpikir sejenak lalu menepikan semua pakaian. dirabanya semua dinding lemari tadi.


'klik' benar saja, ada lubang berbentuk kotak disana. jika dilihat sekilas, tidak akan ada yang menyangka karena warna dinding lemari yang sama rata.


leo mengambil ponsel yang sedang dalam keadaan mati itu, dan menggantinya dengan ponsel yang sudah dia siapkan.


"lo bener bener jenius, ayo kita keluar." aksa berjalan keluar dan dilihatnya arga yang sedang serius menatap ponselnya.


"udah?"


"yuk cabut!."


"eh cewek lo gimana?." tanya arga


"kalo lo mau, bawa aja!."


"dasar edan."


jam satu dini hari Dengan hati berbunga, aksa kembali ke rumahnya. hanya mang asep yang terlihat sedang asik berjoget dengan handset terpasang di telinganya.


Tatapanmu, senyumanmu


Tiada pernah aku lupakan


Bisikanmu, suaramu


Merdu merayu menggoda


Tiada siang, tiada malam


Raut wajahmu s'lalu terbayang

__ADS_1


Beginilah, oh rasanya


'Pabila sedang kasmaran


jogetan dan suara fals mang asep terdengar sampai ke telinga aksa yang sedari tadi menunggu seseorang membukakan gerbang untuknya. lama menunggu, aksa memutuskan untuk membukanya sendiri. dan ternyata mang asep yang ia kira sudah tidur malah sedang asik menyanyikan lagu koplo dengan jogetannya.


Jatuh cinta berjuta rasa


Ada rindu bila tak jumpa


Jatuh cinta berjuta rasa


Ingin s'lalu mesra berdua


Bersamamu aku bahagia


Kepadamu ku 'kan setia


berkali kali aksa memanggil mang asep namun mang asep tidak kunjung mendengarnya bahkan terlihat seperti lebih mengeraskan suaranya.


Kemarilah, oh sayangku


Jangan kau jauh-jauh dariku


Bernyanyilah bersamaku


Dalam irama yang syahdu


"mang asep," aksa membuka handset di telinga mang asep


"apaan sih ganggu ganggu orang lagi asik nyanyi juga!." mang asep tidak menyadari bahwa saat ini aksalah yang sedang berada didepannya.


"mang asep keasikan joget sampek aku panggil puluhan kali gak denger."


"ma'af tuan, kirain tuan muda tidak akan pulang karena sudah larut begini."


"ga papa, ini buat mang asep." aksa memberikan martabak yang sengaja dia beli di perjalanan pulang, karena dia tau penjaga di rumahnya belum tidur.


"makasih tuan muda, maafin mang asep ya gak denger tadi kalo tuan muda datang."


"em."


dengan terburu-buru aksa menaiki lift, ingin sekali dia bertemu dengan karin. tapi apa gadis kecilnya sudah tidur? tentu saja, ini sudah jam satu pagi.


nyatanya, sampai diatas aksa dikagetkan dengan karin yang tertidur di depan kamarnya dengan ponsel yang sudah tergeletak dibawah.


"astaga, apa dia menungguku?." aksa menundukkan badannya dan mengangkat tubuh mungil karin.


"aku bawa kemana ya? ke kamarku? atau ke kamarnya?." aksa ingin membuka kamarnya, namun sesaat kemudian dia mengurungkannya.


"tidak, nanti aku hilaf." aksa menggelengkan kepalanya dan berbalik membuka kamar karin. merebahkan tubuh mungil karin.


aksa membelai lembut pipi karin dan mengusap lembut bibir mungilnya itu. merasa tidak ada pergerakan, aksa mengecup bibir karin dan mel*matnya dengan begitu lembut. bibir manis yang saat ini bagaikan candu baginya.


"selamat mimpi indah sayang, sampai bertemu besok." aksa mematikan lampu kamar karin dan beranjak menuju kamarnya


****////****

__ADS_1


cuitan merdu burung tak kunjung membangunkan tubuh kekar yang masih bergulung dengan selimut, bak kepompong putih aksa menutup seluruh tubuhnya.


karin yang sejak tadi menunggu aksa bangun segera membuka tirai kamar aksa, tapi tetap saja tak ada tanda tanda pria itu akan bangun.


sedikit berjongkok, karin mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi kasur aksa. perlahan ia buka selimut putih tebal yang aksa pakai. menyusuri setiap inci wajah tampan aksa menikmati keindahan ciptaan tuhan.


abang sangat tampan walaupun dalam keadaan tidur. karin tersenyum sangat telunjuknya menyentuh hidung mancung aksa.


'grep' aksa menggenggam tangan karin yang masih berada di hidungnya.


"selamat pagi sayang." suara serak aksa yang selalu terdengar begitu seksi di telinga karin. saat ia membuka matanya, dia merasa sangat bahagia. selain karena rencananya berhasil, ternyata pacarnya sedang berada di depannya.


"abang," karin menarik tangannya, hendak pergi dari kamar aksa karena ia yakin kalau pipinya sudah merah merona saking malunya ketahuan memandangi aksa.


aksa menarik tangan karin, dan membawanya ke dalam dekapannya. karin hanya melototkan matanya saat ia membuka matanya dia melihat aksa yang bertelanjang dada dengan bulu bulu halus di dada bidangnya. aksa tersenyum melihat ekspresi muka karin.


"apa kamu menyukainya?."


"menyukai apa?."


"ini." aksa meraih tangan karin, dan menuntunnya untuk menyentuh dada bidang itu. sungguh darah aksa berdesir hebat sedangkan karin menjadi sangat kikuk tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang.


"abang jangan gitu!!!!" karin segera bangun dan mendudukkan tubuhnya.


"hahaha. nanti juga kamu akan terbiasa."


"hem, abang pukul berapa pulang tadi malam?." karin mencoba menetralkan kegugupannya dan beralih dengan tujuan utamanya pergi ke kamar aksa.


"pukul satu."


"apa abang berhasil?." karin merendahkan suaranya, jujur ia takut mendengar kabar dari aksa. lebih tepatnya ia takut aksa gagal mendapatkan rekaman itu.


"tentu." aksa tersenyum dan mencium tangan karin berkali kali


"sungguh?." karin melompat memeluk aksa.


"iya sayang, kita berhasil. dan sekarang, ayo bersiap siap."


"aku sudah siap." karin memang sudah memakai baju kantorannya sedari tadi.


"kita tidak akan ke kantor hari ini." ucap aksa sambil berdiri menuju kamar mandi


"lalu?."


"kita akan ke Jogja. aku akan menemui orang tuamu." aksa tersenyum sambil berjalan ke kamar mandi, meninggalkan karin yang masih terbengong dengan ucapan aksa.



.


Haii... ayooo siapa yang mau ikut abang aksa ke Jogja?? hehehe


.


betewe..makasih buat para readers yang masih ingat sama Fahri.. kita ketemu abang fahri entaran aja ya😀😀


.

__ADS_1


.


jangan lupa like dan komennya ya😍😍... biar otor tambah semangat upnya..😍😍


__ADS_2