Jangan Panggil Aku Om!

Jangan Panggil Aku Om!
Cemburu bikin bodoh.


__ADS_3

Resah, gelisah itu yang saat ini dirasakan Aksa. memikirkan bagaimana cara agar Akdhan segera pergi dari rumahnya.


'kalau aku mengusirnya, karin akan semakin membenciku'


'kalau aku turun ke bawah, akan terlihat jelas kalau aku tidak suka dia mendekati karin'


'kalau aku memarahi karin, pasti dia akan mengira aku cemburu'


'kalau aku menanyakannya langsung untuk apa dia kemari, pasti aku dibilang kepo'


Aksa mengacak rambutnya frustasi. akhirnya Aksa memutuskan untuk turun ke bawah. karin dan akdhan masih dalam keadaan sama.


melewati ruang tamu menuju dapur, tawa mereka mengusik ketenangan telinga Aksa. gemuruh di dadanya membuat nafasnya naik turun tidak teratur. Aksa berjalan dengan gaya coolnya, kedua tangannya dia masukkan ke kantong boxernya. sayangnya karin tidak meliriknya sama sekali.


berjalan pelan berharap ada sedikit pembicaraan yang bisa dia dengar tapi harapan tinggallah harapan, Aksa tidak bisa mendengar pembicaraan mereka sama sekali.


Aksa melirik ke arah ruang tamu, dia melihat Akdhan dengan intens menatap wajah karin penuh cinta.


'benar ingin ku congkel bola matanya'


"tuan, apa yang tuan muda lakukan di dapur?". bi ijah heran karena tuan mudanya itu jarang sekali menginjakkan kakinya ke dapur.


"suuuuut", Aksa meletakkan jarinya didepan mulut bi ijah


"kenapa tuan?". bisik bi ijah


"bi, jangan rame! biar aku disini dulu. bibi ngapain?", bi ijah terlihat sibuk menyiapkan teh hangat


"bibi buatin teh buat neng karin sama temennya".


"bi, coba dengerin mereka berdua lagi ngomongin apa".


"maksud tuan, neng karin dan temannya?",Aksa mengangguk


"jangan bilang sama siapapun kalo aku nyuruh bibi nguping".


"okey dokey tuan". bi ijah mengacungkan jempolnya


bi ijah segera membawa nampan dengan dua gelas teh ke ruang tamu dengan siaga memasang telinganya untuk melaksanakan tugas tuannya.


sedangkan Aksa dari balik dinding dapur mengintip ke arah ruang tamu.


"oh, oke kalau gitu. gimana kalo pas weekend". Akdhan tersenyum melihat bi ijah menyuguhkan minuman kepadanya.


"diminum dulu dhan tehnya!",


"silahkan neng, den!". bi ijah segera menggeser tubuhnya kesamping karin


"ada yang dibutuhkan lagi neng?".

__ADS_1


"gak ada bik, makasih ya". bi ijah mengangguk, dan berbelok menuju dapur. dengan semangat empat lima, bi ijah menyunggingkan senyum kepada Aksa yang dari tadi menunggunya.


"tuan, sini!", bi ijah memanggil Aksa agar mendekat


"apa yang bibi dengar ?", Aksa berbisik


"oh oke kalo gitu. gimana kalo pas weekend, gitu tuan yang bibi dengar". Aksa mengangkat kedua alisnya


"lalu?".


"lalu? lalu... lalu apalagi tuan?"


"astaga bi... jadi bibi dengernya cuman kayak gitu?".


"hehe iya tuan. masak bibi mau tanya langsung mereka mau ngapain pas weekend. kan gak lucu tuan, nanti dikiranya bibi kepo". bi ijah merapikan clemeknya


"kalo gitu bibi kesana lagi, dan dengerin lagi apa yang mereka bicarakan!", Aksa memerintah dengan tegas. bi ijah hanya melongo mendapati tuannya yang saat ini sedang dilanda ke'kepo'an


"tuan muda, boleh bibi nanya?" Aksa menoleh ke arah bi ijah tanda menyetujui pertanyaan yang akan bi ijah tanyakan padanya.


"ma'af ya tuan, tapi bukan gimana gimana, tuan kenapa kepo banget sama neng karin dan aden itu", muka Aksa memerah menahan malu, bisa-bisanya bi ijah menanyakan hal itu langsung kepadanya.


"bibi belum pernah makan gurita mentah kan bi? mau nyoba?", seringai Aksa membuat bulu kudu bi ijah meremang


"eh gak tuan, ya sudah bibi kesana dulu. pura-pura bawain cemilan", bi ijah segera ngacir karena berpikir bahwa ucapan Aksa tadi adalah ancaman.


dengan nampan berisi snack bi ijah kembali ke ruang tamu. berjalan pelan agar dapat mendengar pembicaraan mereka lebih banyak.


"kalo gitu sabtu sore aku jemput kamu kesini",


"neng, den silahkan dimakan snacknya!".


"bi ijah repot banget bi, makasih ya bi"


'kalau bukan karena ancaman tuan muda, bibi gak mau nguping pembicaraan neng karin sama aden ini, ya tuhan ma'afkan hambamu ini. daripada disuruh makan gurita mentah.' batin bi ijah.


bi ijah kembali ke dapur dengan Aksa yang masih menunggunya.


"tuan, weekend ini mereka mau nonton. dan aden itu akan menjemput neng karin sabtu sore itu yang bibi dengar", bi ijah melihat muka aksa yang nampak gusar.


"ya sudah bi. bibi balik kerja lagi", ketika hendak keluar dari dapur. ternyata ada mama Erin yang baru datang dan langsung menghampiri Karin.


"eh ada tamu, teman kamu rin?"


"iya ma. kenalain dhan, ini mama erin". akdhan mengambil tangan mama erin dan menyalaminya


'dasar cari perhatian' Aksa melipat kedua tangannya di depan dapur. mama erin yang tidak sengaja melihat Aksa melipat kesal mukanya saat melihat interaksi karin dan Akdhan hanya tersenyum.


"nak Akdhan sekalian makan malam disini ya. sebentar tante siapkan"

__ADS_1


"tidak usah tante, biar saya pulang saja".


"eh gak boleh nolak, karin ajak akdhan makan malam disini ya!".


"iya ma".


mama Erin pergi menuju dapur, dilihatnya anak sulungnya itu tidak menyadari kedatangannya.


"hmmm. ngapain kamu berdiri disitu?".


"gak ada, lagi pengen aja".


"ayo siap-siap sebentar lagi kita akan makan malam sekalian sama teman karin yang tampan itu".


"ck, tampam darimananya dibanding aku jauh lebih tampan aku ma". Aksa berjalan mengekori mama erin yang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Aksa.


setelah sepuluh menit, semua sudah berkumpul di ruang makan. pak arya, mama erin, aksa, karin, arsyi dan akdhan. karin melihat Aksa sekilas, pandangan mereka bertemu namun karin langsung memalingkan mukanya.


'apa dia begitu marah sampai tidak mau melihat wajahku?' Aksa membatin


mama Erin menyiapkan makanan untuknya dan untuk pak arya. Arsyi mengambil makanannya begitu juga aksa disusul karin yang mengambil makanan untuknya dan mengambilkan makanan untuk akdhan.


mama erin menyaksikan pemandangan asyik menurutnya. melihat aksa menahan amarah saat melihat karin mengambilkan makanan untuk Akdhan.


"sa, ayo makan jangan cuman diaduk aduk itu makanannya", Aksa melihat makanan di piringnya berantakan tanpa bentuk.


"rin, apa nak akdhan ini pacarmu?", tanya pak Arya.


"uhuuk uhuuuuk", karin melirik aksa yang tersedat makanannya


"Aksa, pelan-pelan minum dulu. kamu ini kenapa sih?", mama erin menyodorkan air kepada Aksa yang hanya menggelengkan kepalanya.


"bukan pa. dia teman aku".


"kirain pacar, kalian berdua cocok. kamu cantik dan nak Akdhan ganteng", pak arya menimpali


'cih, makin besar kepala cecunguk ini'


"rin kalau makan yang bener dong, jangan belepotan gini", karin meraba bibirnya tapi dengan cepat Akdhan mengambilkan tisu dan membersihkan sisa makanan di bibir karin.


"biar aku saja dhan, kamu makan aja!", karin mengambil tisu dan mengelap bibirnya sendiri


"ya ampun Aksa.... hentikan!". suara mama erin menggema di ruang makan.


Aksa kaget mendengar mamanya bertiak dan membulatkan matanya melihat keadaan meja didepannya yang sangat kotor.


"kenapa kamu memeras botol saus itu sa?".


Aksa meluruskan pikirannya, karena cemburu melihat karin dan akdhan dia sampai tidak sadar kalau sedari tadi dia memeras botol saus dengan kuat sampai isinya belepotan kemana-mana.

__ADS_1


'ternyata cemburu bisa membuat seseorang bertingkah bodoh'


__ADS_2