
"karin?". Aksa segera melepaskan pelukan angel.
Rin, jangan menangis di depannya, jangan tunjukkan kelemahanmu, kamu kuat! karin menguatkan dirinya sendiri.
"rin, aku bisa jelaskan. jangan salah paham!". Aksa berjalan mengahampiri karin yang mencoba tersenyum.
kenapa aku seperti mempunyai firasat buruk melihat senyumannya itu. debar jantung aksa sudah berdebur seperti ombak.
"siapa yang salah paham? dan apa yang mau dijelaskan? kenapa om takut seperti ketahuan selingkuh? apa om lupa, perasaanku sama om sudah lama berakhir dengan siapapun om berkencan dan apapun yang akan om lakukan aku tidak akan peduli", karin berbisik.
kenapa hatiku sakit, apa secepat itu dia menghapus perasaannya untukku? Aksa mencengkram erat tangan karin.
"apa kamu sungguh sudah melupakan perasaanmu untukku?". karin mengangguk dan menghampiri shinta.
"kak shinta, ayo makan di ruangan kakak saja!".
shinta yang sedari tadi melihat interaksi antara atasannya, angel dan karin seperti bisa menebak apa yang terjadi antara mereka bertiga.
"sayang... aku juga mau makan siang", angel bergelanyut manja pada lengan kekar aksa. namun aksa segera menghempaskannya.
"apa tante kepanasan?", tanya karin yang mengurungkan langkahnya untuk keluar saat melihat tingkah angel seperti cacing kepanasan.
"eh jangan kurangajar ya anak kecil!".
"Ngel, berhenti! mulai sekarang kita akhiri hubungan kita!", Aksa segera meninggalkan ruang kerjanya.
"Aksa tunggu! kamu gak bisa kayak gitu donk sa. aku salah apa?", angel terus mengejar aksa sedangkan karin hanya menatap punggung aksa yang semakin lama semakin tak terlihat dari pandangannya.
"rin, ayo kita makan", shinta mengajalk karin untuk pergi ke ruangannya. mungkin karena kejadian tadi, nafsu makan karin sudah tidak lagi.
makanan yang shinta belikan jelas adalah makanan kesukaannya. namun lagi lagi ia tidak berkeinginan untuk menyantapnya.
"kenapa?", pertanyaan shinta berhasil menyadarkan karin dari lamunannya.
"hah? gak apa apa kak".
"terus kenapa cuma diliatin aja makanannya?".
"tiba tiba gak nafsu kak". karin tersenyum
"apa nona angel menganggumu?", karin menggeleng
"apa mereka sudah lama berpacaran?".
"apa kamu cemburu?", karin menggeleng
"aku hanya penasaran".
"kamu tidak melihat tuan aksa?", karin mendongak menatap shinta tak mengerti
"dia terlihat menyukaimu".
"tidak mungkin. dia pasti hanya merasa kasihan kepadaku".
"maksudmu?", tanya shinta penasaran
__ADS_1
"aku menyukainya tapi dia mencintai orang lain".
"siapa?". karena setau jasmine aksa sering bergonta ganti pacar
"cinta pertamanya, cinta yang belum usai".
"hah, memang susah kalau berurusan dengan Clbk, bukan cinta lama bersemi kembali tapi cinta lama belum kelar, seperti hubungan mereka menggantung tidak putus dan tidak lanjut". jelas shinta
"begitulah kak, sebentar lagi aku magang disini, akan jadi apa kalau setiap hari aku harus bertemu dengannya dan kekasihnya itu".
"apa tuan aksa tau perasaanmu?". karin mengangguk
"tapi sudah lama aku mengatakan padanya, bahwa aku akan mengakhiri perasaanku".
"tapi rin, tebakanku tidak mungkin salah. tuan aksa mencintaimu".
"sudahlah kak, aku dengannya sangat jauh berbeda. dalam segala hal".
"apa salahnya kita buktikan. kalian saling mencintai hanya saja kalian terlalu gengsi. oh ya aku punya ide".
"apa?".
shinta mengutarakan ide yang dimilikinya, karin akhirnya setuju dan mengiyakan ide tersebut.
"Aksa, berhenti!".
"apalagi ngel?".
"aku tidak mau putus, tadi kita baik baik saja. kenapa tiba-tiba minta putus?". angel mencek tangan aksa
"bahagia itu bisa kita ciptakan sa, ayo kita mulai lagi dari awal".
"aku tidak bisa, aku mencintai orang lain". Aksa meninggalkan angel.
bagaimanapun caranya, kamu harus tetap menjadi milikku sa. batin angel
setelah selesai makan siang, karin memutuskan untuk menemui akdhan. selain karena kemarkn dia sudah berjanji untuk nonton bersama, ada hal yang harus dia bicarakan kepadanya.
akdhan yang sedari tadi menunggu karin, tersenyum melihat kedatangan wanita yang dicintainya. dicintai namun tak dapat dimiliki..
"dhan sudah lama nunggunya?".
"gak kok. baru juga sampai", akdhan berbohong, nyatanya dia sudah menunggu karin sejak dua jam yang lalu. bukan karena karin terlambat, namun karena dia yang terlalu bersemangat datang satu jam sebelum waktunya.
"ya sudah ayo kita berangkat!". akdhan membawa motor ninjanya. karin segera naik, dan mengambil jarak agak jauh dari akdhan.
"rin, jauh banget duduknya. berasa kayak tukang ojek aku".
"biasanya juga ditengah sini ada tas." cebik karin
jam setengah lima sore macetnya jalanan jakarta jangan ditanya lagi. para pekerja yang membawa kendaraan mobil sendiri sangat banyak, akhirnya jalanan semakin macet.
saat lampu hijau menyala, sebaiknya siapkan kapas untuk menutup telinga karena bunyi klakson terdengar hampir dari seluruh pemilik kendaraan. bukan hanya dari yang beroda dua dan empat tapi juga dari yang beroda tiga.
karena kemacetan dan seringnya akdhan menginjak rem motornya, karin memutuskan untuk berpegangan. lebih tepatnya memasukkan tangannya ke dalam kantung jaket akdhan.
__ADS_1
sepanjang perjalanan ke mol, senyum tak pernah lepas dari bibir akdhan. Akdhan sesekali berteriak ketika berbicara, karena karin tidak dapat mendengarnya dengan jelas lantaran angin dan mereka yang memakai helm.
matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, senja mulai menyapa dengan gumpalan awan dengan semburat jingga. andai waktu terhenti..
akdhan menghela nafasnya, dia mulai berpikir jernih kembali. dia tidak mau mementingkan perasaannya sendiri.
sesampainya di salah satu mol terbesar di jakarta, akdhan dan karin langsung menuju bioskop. karin membeli tiket sedangkan akdhan membeli camilan.
setelah satu jam menonton mereka memutuskan untuk makan malam dan pulang.
sedangkan di kediaman Hudaverdi...
Aksa mondar mandir di depan gerbang. hatinya sedari tadi gelisah, tidak tenang. saat dia pulang dari kantor sore tadi, dia melihat Akdhan menjemput karin.
aksa sempat mengikuti mereka sayangnya sampai di lampu merah, dirinya melihat karin memeluk akdhan dan memasukkan tangannya ke saku jaket akdhan. saat lampu hijau menyala, akdhan dengan cepat melajukan motornya. sedangkan aksa terjebak kemacetan dan kehilangan jejak mereka.
aksa melihat jam rolex yang berada di pergelangan tangannya. sudah jam sembilan kenapa karin belum datang juga tanyanya.
"tuan muda, apa tuan tidak capek dari tadi mondar mandir seperti gosokan?".mang ucup dengan polosnya bertanya kepada aksa.
namun aksa tidak berselera untuk menjawab pertanyaan mang ucup. hatinya sedang galau segalau galaunya.
lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, setengah jam kemudian belum ada tanda kedatangan karin.
"tuan, sebenarnya tuan menunggu siapa?"
"karin"
"oh neng karin, kenapa gak ditelepon saja tuan?"
"kalau saya punya nomernya gak usah mang ucup suruhpun akan saya telepon dia".
"lah, tuan gak nanya. ini saya punya nomernya. apa perlu saya telepon kan?"
sepertinya ide bagus.
"hubungin dia, jangan bilang kalau saya yang nyuruh mang ucup".
"siap tuan".
tut... tut.... tut....
"halo neng, neng ada dimana?" tanya mang ucup
"iya. ini mang ucup"
"hah?? hotel?" tanya mang ucup lagi membuat aksa yang mendengarnya bertambah panas dingin.
.
.
.
#ada yang tau ide apa yang shinta berikan kepada karin?
__ADS_1