
sore itu saat karin dan rio berada di lobi, arsyi menghubungi karin dan mengajak karin berbelanja. karin yang merasa sangat lelah tidak bisa menolak ajakan arsyi yang mengatakan bahwa dia sedang bersama ramon, karin segera menuju ke mol yang arsyi tunjukkan.
"io, gue duluan ya. gue mau ketemu kakak gue di mol." rio pun mengangguk.
hiruk pikuk udara sore hari disebabkan kemacetan penduduk yang baru selesai bekerja. taxi karinpun keluar dari lobi, sesaat karin melihat keatas, lantai paling atas di gedung yang sekarang menjadi kantornya. seulas senyum terbit dari bibir mungilnya saat mengingat kelakuan konyol aksa.
arah mol yang berada di ujung barat kantornya, membuat karin menyaksikan senja seolah membuat gedung-gedung pencakar langit bak sketsa lukisan.
apa kita sedang melihat langit yang sama? mengingat ruang kerja aksa berada di lantai paling atas gedung ini, karin kembali melihat ke gedung yang mulai menghilang dari pandangannya.
cinta,
apa deskripsi pertama saat mendengarnya?
kerinduan? cemburu?
aku tidak bisa menjabarkan apa itu cinta,
hanya saja, cukup dengan melihatnya tertawa aku senang...
meski alasan dia tertawa bukanlah aku,
cinta,
melihatnya bersedih, membuat hatiku sakit. bahkan aku ingin menyakiti siapapun yang membuatnya bersedih. aneh bukan?
aku tau om mencintaiku, aku hanya ingin om berjuang..
bukan terlalu naif, bukan juga mau sok jual mahal
hanya saja aku takut, aku takut untuk menjalani hubungan yang belum pernah aku tapaki.
aku harap kita saling menghargai perasaan kita.
aku juga mencintai om....
"neng, sudah sampai." ucap pak sopir mengagetkan karin.
"eh iya pak."
"neng dari tadi ngelamun ya, sampai saya ajak ngomong neng gak nyaut." karin merasa bersalah hanya tersenyum kikuk.
__ADS_1
"ma'af ya pak," pak sopir hanya mengangguk. karin mengetuk dahinya, gara gara memikirkan aksa dia sampai tidak fokus pada keadaan sekitarnya.
Ramon terlihat asyik menemani arsyi memilih pakaian, arsyi mengambil pakaian dan sesekali bertanya kepada ramon. apa pakaian ini cocok? apa warnanya cocok? apa aku kelihatan gemuk memakai yang ini? apa aku bagus memakai yang itu? ramon sesekali menjawab, kadang memberikan kritik dan juga memberi saran. setidaknya celotehan itu yang terdengar di telinga karin yang sudah sampai di salah satu butik pilihan arsyi.
"karin? sudah dari tadi?."
"gak kak, baru sampai." arsyi menggeret tangan karin dan mengajaknya berkeliling memilih beberapa pakaian untuk mereka. karin senang arsyi selalu meminta pendapatnya saat sedang memilih barang. seperti iparable banget!
"karin." panggilan itu membuat karin dan asryi menoleh bersamaan. arsyi seperti pernah melihat pria di depannya itu.
"akdhan?."
"lagi belanja?." tanya akdhan, karin mengangguk.
"kamu yang pernah ke rumah kan?." tanya arsyi
"iya kak, kakak adiknya om aksa ya?."
"iya, kamu pacar karin?." pertanyaan arsyi yang terkesan blak blakan berhasil membuat akdhan kikuk.
seandainya om aksa tidak menyukai karin, begitu juga karin. sudah pasti saat ini aku dan karin berpacaran. batin akdhan
"bukan kak, dia temen SMA aku. baru pindah dari jogja." arsyi hanya mengangguk, arsyi bisa melihat pandangan akdhan yang tidak biasa kepada karin karena itu dia bertanya. arsyi kembali ke tempat ramon menunggunya, meninggalkan akdhan dan karin.
"putri ultah minggu depan, aku pengen ngasih hadiah buat dia." karin hanya ber'oh' saja, saat tau akdhan mencarikan hadiah untuk adiknya.
"rin, bantu aku carikan hadiah buat dia ya."
"ok."
akdhan dan karin berkeliling mencari hadiah yang cocok untuk adik akdhan, arsyi melihat kedekatan keduanya. akdhan terlihat begitu melindungi karin, saat tadi tanpa sengaja ada seorang anak kecil yang berlarian dan hampir menabrak karin dengan sigap akdhan menggiring karin agar tidak terbentur. dan lagi saat tadi seorang pelayan toko pria yang kegenitan melihat karin, buru-buru akdhan menunjukkan keposesifannya.
"kamu kenapa bee?." tanya ramon melihat arsyi sedari tadi memandangi akdhan dan karin.
"akdhan kayaknya suka sama karin."
"em, bakal jadi saingan berat aksa nih." ucap ramon, membuat arsyi seketika berbalik menatapnya.
"maksud kamu hon?."
"kamu gak sadar kalo kakak kamu tuh suka sama karin?." arsyi tiba-tiba teringat kejadian beberapa malam sebelumnya saat dirinya mendapati aksa dan karin sedang berada di dapur, disana terlihat aksa dan karin sedang bertatapan dan seperti membicarakan hal serius. namun setelah dirinya datang, aksa terlihat sangat kesal dan tidak menghabiskan makanannya.
__ADS_1
"astaga!!! apa kak aksa waktu itu marah sama aku? bodoh! kenapa aku gak sadar sih kalo kak aksa lagi deketin karin." arsyi terlihat kesal
"hei, apa yang kamu lakukan?." tanya ramon saat melihat arsyi mengetuk kepalanya.
"aku gak boleh biarin akdhan deketin karin. ayo hon kita kesana, kita harus secepatnya membuat si akdhan itu jauhin karin." ramon hanya pasrah mengikuti arsyi.
"rin, aku laper yuk makan!." arsyi berpura pura kelaparan dan memegangi perutnya
"tapi kak...."
"ayo rin, nanti magh kak arsyi kambuh loh kalo dia telat makan." ucap ramon mendukung akting arsyi
karin menoleh ke arah akdhan karena sebenarnya mereka berdua belum menemukan hadiah yang cocok untuk putri. selain baju, mereka berencana membelikan putri perhiasan, namun belum sempat mencari, arsyi sudah mengajak mereka makan.
"gak papa, kita makan dulu." akdhan menyetujui
ya ampun, ini bocah kenapa malah mau ikutan sih. gerutu arsyi. mereka berempat akhirnya memutuskan untuk makan di restoran jepang. setelah menemukan meja, arsyi meminta mereka untuk berfoto dan menjadikannya status di salah satu media sosialnya.
aku harap kak aksa melihat status ku. arsyi terlihat begitu tidak menyukai akdhan yang mendekati calon kakak iparnya itu.
alih alih aksa, justru riko lah yang melihat status arsyi. setelah aksa berpamitan kepada aruna dengan cepat dia mengendarai mobilnya.
"sa, tenang bro!."
"gimana gue bisa tenang, si cecunguk itu lagi sama karin."
"iya gue tau, tapi gak gini juga sa. kita bisa mati konyol tau gak." ucap riko yang berada di kursi penumpang. aksa mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata membuat riko komat kamit membaca doa agar selamat.
"diem lo! jangankan berfoto dengan karin. gue bahkan gak rela kalo cecunguk itu berbagi udara bersama karin." riko membelalak tak percaya dengan tingkat kebucinan aksa.
"sa, lo kalo mau bucin kira-kira donk." ucap riko sambil terus membaca do'a
"gak bisa bayangin gue, si cecunguk itu deketin karin, tersenyum atau bahkan menyentuh karin." aksa semakin menginjak gasnya.
"gak usah bayangin yang aneh aneh deh lo. inget sa, jangan sampek lo bertingkah bodoh di depan karin dan membuat dia ilfeel sama lo."
tidak sampai lima menit mereka sampai di mol dan mencari restoran jepang yang arsyi tunjukkan. benar saja aksa melihat ramon, arsyi, karin dan akdhan berada di satu meja.
arsyi senang bukan main melihat kedatangan aksa, tidak sia sia dia memposting foto mereka. tidak sampai lima menit aksa sudah datang entah dari mana pikir arsyi.
dengan langkah panjang aksa menuju meja, karin tidak melihatnya karena dia membelakangi pintu. dengan tangan mengepal karena melihat akdhan yang terlihat tertawa lepas bersama karin. debaran jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya, api cemburu entah mengapa begitu menguasainya. namun aksa mengingat kata kata riko untuk tidak membuat karin ilfeel kepadanya.
__ADS_1
dengan lembut aksa memegang pundak karin, "hai sayang...!"