Jangan Panggil Aku Om!

Jangan Panggil Aku Om!
Tidak Usah Kembali


__ADS_3

Beda halnya di jogja. di Jakarta, riko disibukkan dengan banyak pekerjaan lantaran ditinggalkan bosnya itu. untung saja ada kinan yang selalu menemaninya dan membantu mempermudah pekerjaannya.


"sayang, bagaimana dengan rekrutmen bagian pemasaran?."


"coba kamu hubungi bagian HRD!." jawab riko


"kamu merekrut akdhan?." tanya kinan, setelah menutup panggilannya ke bagian HRD.


"akdhan?."


"iya, akdhan. kamu merekrutnya?."


"entahlah, dari pengalaman kerja juga nilai dia semua bagus. dan saat wawancara aku tidak ada disana, tapi nilai yang diberikan oleh juri sangat memuaskan. bukankah pantas kalau aku merekrutnya?."


"iya, tapi bagaimana kalau aksa tidak setuju?."


"biarin aja, lagian kenapa dia nyuruh aku buat ngehandel semua kerjaan kantor." riko mendengus sebal


"maklumin aja, dia kan pengantin baru. tentu dia butuh waktu buat menikmati momen kebersamaannya bersama karin."


"astaga! si bujang lapuk itu benar benar membuatku kualahan. sebentar lagi aku ada meeting dengan perusahaan mahardika. kamu bersiap karena kita akan segera berangkat."


tok


tok


tok


"permisi pak, bu, ada tamu yang ingin bertemu dengan pak aksa." shinta berdiri di ambang pintu.


"siapa?."


wanita cantik, tinggi dengan rambur ikal bergelombang muncul dari belakang shinta. tatapan riko menajam saat wanita yang pernah menjadi tunangan sepupunya itu tersenyum ke arahnya.


"selamat siang rik."


"siang." ucap kinan karena riko hanya diam tidak membalas sapaan jasmine.


kinan berdiri dan mempersilahkan wanita itu untuk duduk.


"silahkan duduk nona."


"apa dia sekretaris baru aksa?."


"bukan, dia kakak ipar aksa." ucapan riko sengaja dia pertegas agar jasmine tau dimana batasannya saat ini.


dan benar saja, raut wajah jasmine menjadi pias, memucat seperti tidak ada darah yang mengalir dalam tubuhnya. senyum yang sejak kedatangannya mengembang, perlahan hilang.


"kamu baik baik saja?." kinan menepuk bahu jasmine saat melihat matanya mulai mengembun.


"apa aksa sudah memiliki kekasih?." pertanyaan itu dia tunjukkan kepada riko yang masih terlihat acuh tak acuh.

__ADS_1


"dia sudah menikah kemarin, dan dia adalah kinan, kekasihku. kakak dari istri aksa." tunjuk riko kepada kinan.


seperti dihantam ribuan batu, air mata jasmine mengalir begitu saja. pupus sudah harapannya untuk kembali kepada aksa. penyesalan dan hanya penyesalan yang bisa dia rasakan. sesak di dadanya karena dengan begitu mudah melepaskan aksa hanya demi seorang pria brengsek seperti suaminya saat ini.


"bolehkah aku minta nomer ponsel aksa?."


"untuk apa?." suara riko mulai meninggi


"sayang, aku keluar dulu. aku mau ke pantry, kamu mau kopi?." tanya kinan penuh kelembutan. dan disambut oleh anggukan riko.


"rik, aku mohon, berikan aku nomer ponsel aksa."


"jas, aksa sudah bahagia sekarang, jangan mengganggunya lagi."


"ada permasalahan yang ingin aku katakan padanya."


"kamu boleh mengatakannya kepadaku, aku yang akan menyampaikan kepadanya."


jasmine benar benar frustasi karena riko ikut membentengi dirinya, menutup akses untuk bertemu dengan aksa.


"kamu tahu waktu itu kamu membuangnya? kamu tahu betapa sakit dan frustasinya dia? kamu tahu kalau sampai harus pergi ke luar negeri karena ulahmu? kamu memeluknya.. kamu memegang erat tangannya, lalu saat dia nyaman, saat dia mulai bergantung kepadamu, kamu menghempaskannya begitu saja. harusnya kamu tidak usah kembali jas."


"cukup!!!" jasmine berteriak


"kamu tidak tahu bagaimana rasanya menjadi aku." sambungnya lagi


"iya, aku memang tidak tahu bagaimana rasanya menjadi kamu. tapi aku tahu jelas bagaimana rasanya menjadi aksa. pria polos yang kamu rubah menjadi pria brengsek!!!." suara riko kembali menggelegar sampai membuat kinan yang berada di balik pintu mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam.


"sekarang, ada perempuan yang tulus mencintainya. perempuan yang dengan telaten merubahnya menjadi dirinya sendiri. lalu kamu datang dan berharap kembali lagi kepada aksa?."


"cukup rik! aku tidak butuh celotehanmu!." jasmine berteriak sambil menangis


"oke fine, tapi aku tidak akan membiarkanmu merusak rumah tangga mereka. sekarang kamu bisa keluar karena sebentar lagi aku ada rapat."


dengan langkah gontai jasmine pergi dari perusahaan hudaverdi. entah kemana dia harus pulang sekarang. dia tidak ingin pulang ke rumah suaminya yang sudah seperti nereka baginya, namun dia juga tidak bisa pulang ke rumah orang tuanya, karena mamanya akan memarahinya.


************x**************


"abang,,, udah ih jangan peluk peluk terus. aku lapar, ayo kebawah."


"iya iya." dengan berat hati aksa melepaskan pelukannya.


mereka berdua menuruni tangga dengan aksa yang selalu menggenggam tangan karin. seperti anak kecil yang takut kehilangan ibunya.


"aduuh... pengantin baru. gak laper baru turun?."


"iya bu.. aku bangunnya kesiangan." seloroh karin sambil mengambil piring untuknya dan untuk suaminya.


"ya sudah cepat makan," ibu rita meninggalkan sepasang suami istri itu.


untuk pertama kalinya karin melayani suaminya di meja makan. aksa yang sudah mulai terbiasa dengan masakan yang karin pilihkan, sangat menikmati masakan ibu mertuanya.

__ADS_1


"enak?."


"enak. apa ibu yang membuatnya sendiri?."


"em, ibu membuatnya khusus buat abang."


"dua hari lagi kita harus kembali ke jakarta."


"iya, kalau aku terserah abang aja, mau dibawa kemanapun aku manut."


"iya, habis ini aku bawa kamu ke kasur." aksa terkekeh


"abang!!! jaga kalo ngomong nanti ada ibu sama bapak yang denger."


"mereka juga pernah muda sayang."


"tapi tetep aja gak enak," karin mengerucutkan bibirnya.


setelah makan, pak santoso mengajak aksa bermain catur. walaupun sangat tidak ingin, tapi karena merasa tidak enak akhirnya aksa mengiyakan dan menemani bapak mertuanya di halaman belakang.


"betah disini?."


"betah pak."


"bagus, kapan rencana kembali ke jakarta?."


"dua hari lagi pak."


"bapak titip karin, kalau karin melakukan kesalahan dan kamu mau marah kepadanya marah saja tapi jangan sampai bermain tangan. dia anak bungsu bapak, mungkin sesekali dia akan bersikap seperti anak anak."


"tidak pak, istri saya sangat dewasa." aksa tersenyum


"dewasa dalam artian?." pertanyaan pak santoso sukses membuat beberapa asumsi di kepala aksa, dewasa? tidak mungkin aksa mengatakan dewasa dalam urusan ranjang, bisa bisa bapak mertuanya akan menertawakannya.


"dalam semua hal pak." aksa kembali tersenyum.


"berarti dia sudah dewasa sekarang."


dari kejauhan aksa melihat karin sedang makan ice cream, entah kenapa saat menjilatinya karin terlihat begitu seksi. tubuh aksa mulai memanas, dengan berat hati dia meminta izin kepada mertuanya untuk kembali ke kamarnya.


"bu, saya pinjem karin dulu ya."


"mau kemana?."


"em, unyu unyu teman karin mau bertemu." dengan cepat aksa menarik tangan istrinya ke kamar.


"duh, ini ponsel karin ketinggalan." bu rita membawa ponsel karin keatas, tapi saat dia berada di depan pintu niatnya untuk memberikan ponsel karin diurungkannya.


"ah sayang, sebentar lagi aku akan keluar..." suara erangan aksa terdengar ke telinga bu rita yang sedang membulatkan mulut dan matanya.


"apa unyu unyu yang dimaksud aksa adalah....????"

__ADS_1


__ADS_2