
aksa merapikan penampilannya di depan kaca, sebenarnya sudah berulang kali karin mengatakan kalau dia lebih menyukai aksa apa adanya. tapi itu tidak berlaku bagi aksa saat ini, bertemu dengan bapak karin terasa lebih berat daripada bertemu dengan pemegang saham.
aksa memasuki rumah karin yang sebagian besar interiornya menggunakan material kayu, nuansa kehangatan yang menyertainya memang dapat menciptakan kenyamanan tersendiri.
"abang, duduk!." aksa duduk disamping karin berseberangan dengan pak santoso.
"kamu aksa anak arya?." tanya pak satoso datar
"iya om."
"panggil saja bapak, kalau om sudah tidak pantas. sudah tua." pak santoso tertawa renyah, membuat aksa kaget namun dia hanya tersenyum.
"iya pak."
"sudah besar ya sekarang, dulu terahir kali ketemu kamu masih kelas SMP, wah,, sudah lama."
"i.. iya pak."
suasana tiba-tiba sunyi, aksa tidak tau harus mulai darimana mengutarakan niatnya untuk melamar karin.
"pak." aksa memanggil pak santoso yang hanya menoleh ke arahnya
"sebenarnya saya datang kesini karena saya ingin melamar anak bapak."
"siapa?."
"putri bapak," ucap aksa gugup
"saya punya dua putri," bagaimana aksa bisa lupa kalau karin mempunyai seorang kakak.
"saya ingin melamar karin pak."
"apa kamu bersungguh sungguh?." pertanyaan itu berhasil membuat nyali aksa sedikit menciut.
"saya serius pak, saya mencintai karin."
"sebuah hubungan tidak hanya butuh cinta, disana juga dibutuhkan kejujuran, kepercayaan dan komitmen."
"kami memang berjanji akan saling jujur dan terbuka pak, agar hubungan kami awet sampe tua seperti bapak dan ibu." ucap aksa lancar
astaga! ni mulut kenapa lancar banget kayak rem blong, pake acara bercanda segala. aksa merutuki kebodohannya sendiri.
karin berdiri mengikuti ibunya ke dapur, meninggalkan aksa berdua dengan pak santoso.
kenapa malah diem gini? bikin tambah gerogi.
"kamu istirahat saja dulu, pasti capek nyetir sendiri dari jakarta. nanti sore ikut bapak!." pak santoso meninggalkan aksa di ruang tamu.
"abang, kenapa ngelamun?."
"siapa yang ngelamun, nggak kok."
"ayo aku antar ke kamar tamu."
kamar tamu yang akan ditempati aksa, ternyata tidak jauh dari karin.
__ADS_1
"abang tidur aja dulu, pasti capek nyetir dari tadi malam." aksa menutup pintu, dan memeluk tubuh mungil karin. menopang dagunya di bahu karin.
"abang..."
"biarkan seperti ini, sebentar saja..." aksa menghirup aroma segar dari tubuh karin, membuat sedikit perasaannya membaik. tangan kekar aksa melingkar di pinggul ramping karin.
"apa berat?." karin mengelus lengan kekar aksa yang ditumbuhi rambut rambut halus.
"tidak, aku akan berjuang mendapatkan restu orang tuamu." jawaban aksa menghangatkan perasaan karin. karin tersenyum dan berbalik menghadap aksa, mengalungkan kedua tangannya dan mengecup sekilas bibir kekasihnya itu.
CUP
"terimakasih." aksa yang sangat gemas dengan tingkah karin, menarik pinggang karin agar semakin menempel ke tubuhnya. menahan tengkuk karin dan ******* bibir mungil kecil itu.
"i love you, karina."
"i love you more." karin tersenyum dan keluar dari kamar tamu membiarkan aksa beristirahat.
"karin."
"iya buk,"
"sini!." karin menghampiri bu rita yang sedang berada di dapur
"ada apa bu?."
"rin, kamu sejak kapan pacaran sama si aksa?."
"belum lama, menurut ibu, bapak setuju gak kalo abang ngelamar karin?."
"ish, tapi karin sayang sama abang."
"kalau begitu. kamu harus belajar masak."
"kenapa?."
"sebagai istri, kita itu harus pandai memanjakan suami rin. selain urusan ranjang, urusan perut juga tidak kalah penting." karin hanya mengangguk.
siang hari karin menengok aksa ke kamar tamu, ternyata kekasihnya itu masih tidur dengan lelap. iseng, karin memainkan bulu mata lentik aksa.
hidung mancungnya seperti perosotan, pikir karin.
"apa kamu begitu menyukaiku sayang?." goda aksa yang sejak tadi sudah bangun.
"abang?." karin ingin kabur, tapi aksa dengan cepat menarik tangan karin sampai terjatuh ke pangkuannya. aksa menatap intens wajah karin, sampai tatapannya fokus pada bibir karin. karin menutup matanya saat aksa mendekatkan wajahnya.
"karin...." suara bu rita terdengar memanggil karin dari luar membuat karin kaget membuka matanya dan sedikit mendorong tubuh aksa.
"iya bu..."
"abang, cepetan pake baju! kebiasaan banget tidur gak pake baju." aksa yang baru sadar dari tidurnya, kaget dengan panggilan ibu karin saat dirinya akan mencium karin.
"iya sebentar." aksa memakai bajunya sembarangan
"rin, kamu disini?." tanya bu rita saat melihat karin akan keluar dari kamar tamu
__ADS_1
"iya bu, bangunin abang buat makan siang."
"nak aksa, ayo kita makan!."
"iya bu."
di ruang makan, pak santoso sudah menunggu mereka. aksa mengatur nafasnya agar tidak salah tingkah dan berbicara omong kosong lagi seperti tadi pagi.
"nak aksa, ayo dimakan. ini gudeg, makanan khas jogja." karin mengambilkan nasi, gudeg dan rendang untuk aksa.
"iya bu." mereka berempat makan dengan senyap, sejak datang ke rumah ini aksa tidak sekalipun melihat kakak karin. mungkin calon kakak iparnya sibuk, pikir aksa.
"karin, di jakarta kamu bertemu akdhan?."
'uhuuuuk uhuuuuk', aksa menepuk dadanya karena tersedak makanan.
"pelan-pelan!." karin menepuk pelan bahu aksa
"iya pak, karin beberapa kali bertemu dengan dia. bapak tau kalau akdhan ke jakarta?."
"iya, sebelum berangkat dia pamit kesini. bapak rasa tidak ada yang perlu kita tutupi. nak aksa, akdhan adalah teman karin sejak kecil. dia pria yang baik, sopan dan menghormati orang tua." pak santoso menjelaskan kepada aksa.
glek! aksa menelan kasar salivanya.
"sebelum dia berangkat, dia sempatkan datang kesini karena dia ingin mengejarmu rin. dia bilang dia menyukaimu sejak dulu." karin menunduk tidak tau apa yang harus ia katakan. kenapa akdhan tidak pernah mengutarakan isi hatinya saat dia berada di jogja.
"kamu sudah dewasa, terlebih nak aksa juga sepuluh tahun lebih tua dari kamu. kalian memang sudah sepantasnya menentukan pasangan hidup sendiri. bapak sebagai orang tua, sebagai kepala keluarga yang masih wajib membimbing kamu. hanya ingin yang terbaik untuk putri bapak." karin meneteskan air matanya, sungguh perkataan pak santoso mengena langsung di hatinya.
apa pak santoso lebih menyukai akdhan? kenapa aku merasa seolah tidak masuk kriteria calon menantu idamannya? tanya aksa dalam hatinya.
"nak aksa, kalau sudah selesai. ayo ikut bapak!."
"iya pak." aksa berdiri meninggalkan meja makan mengikuti pak santoso.
"abang." aksa menoleh dan tersenyum saat melihat karin sedikit berlari mengejarnya.
"sayang.. apapun yang terjadi kamu percaya kan kalo aku sayang sama kamu?."
"iya." karin mengangguk mantap
"sabar ya, ini ujian." aksa tersenyum mengelus rambut karin dan pergi keluar rumah mengikuti pak santoso.
.
.
gimana, gimana? si abang kira2 mau diajak kemana sama pak santoso???😀😀😀
.
.
.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE..😍