
padahal,
segunung apapun diamku merenung
tak mungkin sampai pada pemahaman
mengapa aku mencintaimu
-sujiwo tejo-
aksa mengetuk meja kerja mang ucup di pos satpam. setelah mang ucup menghubungi karin tadi dan mengatakan bahwa dirinya sedang berada di hotel. membuat pikiran aksa travelling kemana-mana.
apa yang dilakukan anak gadis malam sabtu seperti ini di hotel? apa dia bersmaa cecunguk itu? apa yang sedang mereka lakukan?
"dhan jangan seperti ini!", karin menurunkan tangan akdhan yang memeluk erat pinggangnya.
bukan melepaskan akdhan justru mengeratkan pelukannya. mengendus ceruk leher jenjang karin. karin yang merasa geli hanya menggigit bibir bawahnya. ia takut melepaskan suara yang sedari tadi ditahannya.
"karin, aku mencintaimu... sangat". akdhan mengecup pucuk kepala karin
"tapi.... aku".
"bisakah kamu membalas cintaku? aku jelas mencintaimu rin, sedangkan om itu? dia tidak membalas perasaanmu."
"mungkin saat ini aku tidak bisa memberikan apapun yang kamu mau. tapi, asalkan kamu mau mendampingiku, berada disampingku, aku akan bekerja keras untuk membuatmu bahagia".
karin hanya diam mendengarkan. akdhan tersenyum dan membelai lembut pipi karin. lampu kamar hotel yang remang didukung oleh cahaya lilin dan aroma terapi yang membuat rileks pikiran.
akdhan membuka kancing kemejanya satu persatu, lalu menanggalkan pakaiannya diatas kasur. kembali memeluk karin dari belakang.
"karin.. jadilah milikku malam ini", akdhan membaringkan karin diatas kasur.
"tidaaaaakkkkkkkkk". Aksa berteriak mengagetkan mang ucup yang mulai mengantuk.
"dimana tuan, dimana malingnya?". mang ucup langsung mengambil tongkat satpam yang tidak jauh dari mejanya.
"maling apa mang?" Aksa baru sadar ternyata dari tadi hanya hayalannya saja.
"jadi tidak ada maling?", Aksa menggeleng memijat pelan keningnya. memikirkan karin yang ada di hotel membuat pikirannya travelling ke dunia kemesuman.
"aku pergi dulu mang", Aksa segera masuk ke garasi dan mengeluarkan mobilnya.
berdiam diri tidak akan membantunya menemukan keberadaan karin saat ini. hanya dengan memakai celana pendek dan kaos polosnya aksa keluar dari rumah.
di jakarta banyak sekali hotel. darimana dia akan memulai? seperti orang bodoh aksa mulai mencari dari yang dekat dengan perusahaannya.
"kenapa aku seperti orang bodoh? aku bisa meminta arsyi untuk menanyakan keberadaannya". aksa menghubungi arsyi namun tidak ada jawaban.
"siapa lagi yang bisa aku hubungi? shinta. ya shinta pasti punya nomernya". aksa menghubungi shinta, tak butuh waktu lama aksa segera mengetahui keberadaan karin saat ini.
aksa berbelok ke arah hotel yang shinta sebutkan. diluar dugaannya yang mengira karin sedang berada di dalam hotel bersama akdhan, ternyata karin berada di warung nasi goreng yang berada di samping hotel.
__ADS_1
"apa yang mereka lakukan di warung itu? apa mereka tidak masuk ke dalam hotel? atau sudah keluar dari hotel? astaga!", aksa memilih turun daripada menerka dan mengira yang tidak tidak lagi.
karin dan akdhan menunggu pesanan mereka. mengaduk es teh yang baru saja datang dan menikmati krupuk yang tersedia di depan mereka.
"hem", Aksa berdehem dan segera duduk di samping karin. karin memilih diam dan tidak mempedulikannya.
"eh om Aksa". sapa akdhan
"tumben om datang ke tempat seperti ini?".
"kebetulan lewat saja dan gak sengaja lihat karin. karena sudah malam, aku akan mengajak karin pulang. tidak baik jam segink anak gadis masih berkeliaran diluar". jawab aksa menyindir akdhan
"ma'af om, saya tidak izin membawa karin. tapi om tidak usah hawatir saya akan selalu menjaga karin. keselamatan dia adalah prioritas saya". akdhan tersenyum
aksa melihat karin yang seperti sengaja mendiamkannya. apa dia masih marah dengan kejadian di kantor siang tadi?
"ini nasi goreng dengan wortel mentahnya neng dan ini nasi goreng tanpa sayurnya". aksa tersenyum melihat kebiasaan karin yang aneh menurutnya.
wanita sederhana yang selalu memikirkan orang lain, makan di warung pinggiran memamg menjadi salah satu kebiasaan karin. memilih makanan yang jauh dari keistimewaan dan harga mahal tentunya. yang penting bisa membantu si penjual mendapat rejeki, itu yang selalu ia katakan.
ah, ingin rasanya meluk kamu.
"om kenapa? om mau makan?", karin sejak tadi sebenarnya sudah tau kalau aksa memandanginya.
"apa om Aksa biasa makan di tempat seperti ini?", tanya Akdhan.
pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, namun sedikit melukai harga dirinya. aksa memang kaya, tapi dia juga tidak suka menindas orang yang keadaan ekonominya berada jauh darinya.
"hahahha, bercanda om. pak nasi gorengnya satu lagi". ucap akdhan memesankan makanan untuk aksa.
mereka bertiga makan dengan khidmat, tidak ada yang berbicara. sesekali akdhan melempar senyum kearah karin.
"kalo makan, makan aja". ketus aksa.
"eh? iya om".
"karin biar pulang sama aku. kamu langsung pulang saja".
"tapi om..." akdhan tidak melanjutkan ucapannya karena lirikan tajam aksa mampu membuatnya bergedik ngeri.
di dalam mobil, karin memilih untuk melihat keluar jendela.
"rin".
"em". karin tetap tidak menoleh
"tentang tadi siang di kantor. aku tidak mencintai angel, aku sudah memutuskan hubunganku dengannya". karin masih tetap tidak bergeming
"rin, percaya donk sama aku!". pinta Aksa
"terus kalo aku percaya sama om apa untungnya? gak ada kan? terus kalo aku gak percaya juga gak ada ruginya"
__ADS_1
Aksa menghembuskan nafasnya, dia sebenarnya bingung bagaimana harus menjelaskannya lagi.
"tentu saja kepercayaan kamu penting buat aku".
"emang kenapa bisa penting?".
Karena aku mencintaimu karina ayu dewi. aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku sebelum aku menemukan bukti kejahatan clara. karena sebelum waktu itu tiba kamu pasti akan mengira aku cowok playboy.
"karena kamu orang terpenting dalam hidup aku". karin mencebik mendengar jawaban Aksa.
"oh ya, kapan kita akan menjalankan rencana kita?", tanya aksa
"om punya rencana juga?"
"gak, tapi riko yang ngasih ide. aku gak yakin kamu mau jalanin ide ini". jawab Aksa
"emang apa idenya? aku jadi penasaran".
"jadi gini..". aksa menjelaskan panjang lebar kepada karin tentang ide yang Riko sampaikan kepadanya tadi di kantor. dan reaksi karinpun sama dengan dirinya tadi, awalnya biasa lalu terlihat seperti marah lalu tersenyum begitu terus raut wajanya berubah rubah seiring dengan rencana aksa.
"apa kamu setuju?"
"apa om yakin rencana kita akan berhasil?".
"aku yakin berhasil". yakin aksa.
dan harus berhasil. aku ingin segera mengungkap kebenaran perasaanku.
"baiklah kita pakai ide kak riko."
"apa minggu depan kamu mulai magang di perusahaan?". karin mengangguk
aksa tersenyum, membayangkan dirinya akan semakin dekat dengan karin. ah, membayangkannya saja membuat jantung Aksa berderbar hebat.
"tadi kamu dan cecunguk itu darimana saja?".
"akdhan?"
"iya siapa lagi".
"kita cuma jalan-jalan aja lagian gak masalah aku jalan sama dia. malah yang jadi masalah kalo aku jalan sama om". jelas karin
"kenapa gitu?".
"soalnya pacar om itu TTA". aksa semakin tidak mengerti dengan singkatan singkatan aneh remaja milenial saat ini.
"TTA?". tanya aksa.
"iya... tiap tikungan ada".
'Jedar!!!!!!' mak jleb banget ucapan karin sampai membuat aksa mati kutu.
__ADS_1