Jangan Panggil Aku Om!

Jangan Panggil Aku Om!
Calon Bojo


__ADS_3

Aksa mengikuti pak santoso yang masuk ke dalam mobil pajero dakar putih yang sudah siap di halaman rumah.


"kamu saja yang nyetir!."


"iya pak."


aksa berputar membuka pintu mobil dan duduk di kursi kemudi.


ini kerarah mana ya? kanan atau kiri? tanya aksa dalam setelah menghidupkan mobil.


"ke selatan."


astaga! mana aku tau dimana selatan dan utara? rumah ini aja aku bingung arahnya mengahadap kemana?


"selatan itu, ke kanan apa ke kiri ya pak?."


"kiri." ucap pak santoso sambil memasang sabuk pengaman.


perjalanan sore hari yang mungkin saja sangat menyenangkan jika saja karin ikut dengan mereka, setidaknya akan ada seseorang yang memecah keheningan diantara calon mantu dan calon mertua itu.


"perempatan di depan, kanan!." aksa mengangguk,


kenapa jadi gerogi parah sih, ajak ngomong aja kali ya. kalo dijawab syukur, kalo gak dijawab gimana? lagi lagi aksa berbicara dengan dirinya sendiri.


"karin memang suka gambar desain dari dulu ya pak?." aksa bertanya dengan sangat pelan, dan mengontrol detak jantungnya agar tidak terlalu kikuk.


"iya, dari kecil memang sudah suka gambar. makin besar bakatnya semakin terlihat."


yes, dijawab!


"kemarin karin mendapatkan proyek baru. seorang investor sangat menyukai hasil desain karin." aksa melanjutkan.


"alhamdulillah, syukur kalau begitu. tapi ingat, dia masih perlu dibimbing. kamu kan lebih mahir daripada dia, tidak ada salahnya kamu mengajarinya."


apa aku sudah mendapatkan restu? shit, kenapa sangat ambigu.


"iya pak, saya akan membantu karin sebisa saya."


"jangan karena kamu CEO di perusahaan karin, kamu memberikan dia akses kemudahan."


"tidak pak, karin belum mau mengumumkan hubungan kami di kantor." pak santoso menyambungkan alisnya mendengar ucapan aksa.


"kenapa?."


"dia bilang tidak enak, takut kalau orang kantor akan mengira yang tidak-tidak. padahal kalau saya pribadi, saya malah senang kalau semua orang tau hubungan kami."


pak santoso tersenyum sangat tipis, bahkan mungkin aksa tidak akan melihat senyum yang begitu samar itu.


"habis ini belok kiri!." aksa mulai melajukan mobilnya memasuki daerah pedesaan, hamparan sawah terbentang luas berpetak, dari jauh tampak aksa melihat takjub dua gunung yang berdekatan.


"apa itu gunung merapi pak?."

__ADS_1


"betul, kamu belum pernah ke jogja?." aksa menggeleng tidak menjawab, karena pandangannya terfokus pada keindahan alam di depannya.


"di sebelahnya gunung merbabu," tunjuk pak santoso


"oh, saya jadi teringat teman saya waktu kulu. dia orang jogja, kadang dia memakai blangkon ke kampus. dia sangat bangga dengan Indonesia. bukankah dulu gunung merapi bernama gunung candrageni?."


"betul, dan gunung merbabu bernama gunung candramurka. sisi lain, sejarah Gunung Merbabu juga ditemui dalam catatan-catatan pra-islam yang menyebutnya Gunung Damalung atau Gunung Pamarihan."


"wah,,, bapak kayaknya suka pelajaran sejarah." aksa terkekeh, dan langsung membungkam mulutnya saat tersadar kalau dia sedang keceplosan.


"betul,"


hampir saja, huh!


"saya juga pernah mendengar legenda gunung merapi dan gunung merbabu, yang mengatakan bahwa konon kedua gunung tersebut adalah tumpukan batu kyai...." aksa lupa kyai siapa yang pernah dia dengar


"saya lupa pak kyai siapa namanya." aksa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"namanya kyai bakuh, ia jatuh hati kepada seorang bidadari, Retna Lestari. saat ingin mempersunting sang bidadari, ia diberikan syarat. Retna Lestari ingin meraih mega di langit


dengan tangannya sendiri dan meminta kyai bakuh untuk bertelungkup."


"dengan posisi seperti itu, badan kyai bakuh terus ditimbun oleh batu dengan alasan agar cepat mencapai langit. namun lama kelamaan tubuhnya malah tertimbun sepenuhnya."


"konon katanya tumpukan batu di kepala bakuh menjadi gunung merapi dan tumpukan batu di bagian kakinya menjadi gunung merbabu."


"wah, sampai segitunya ya?."


"tentu saja, saya akan melakukan persyaratan itu selagi saya mampu. tapi untuk apa saya melakukan persyaratan itu kalau pada ahirnya saya mati, dan tidak bisa bersama dia. bukankah kalau memang Retna lestari mencintai kyai bakuh harusnya tidak perlu memberikan syarat yang mustahil? sama saja dia menolak dengan kejam." aksa tiba-tiba nyerocos karena geram dengan dongeng Retna lestari tadi.


"betul, bapak satu server dengan kamu." pak santoso mengangguk mantap.


"betul kan pak, retna lestari memang sengaja memberikan syarat yang mustahil berhasil. kenapa tidak dia tolak saja!." aksa kembali ngegas.


"andai bapak hidup dalam dongeng itu, pasti akan bapak suruh kyai bakuh untuk tidak menuruti kemauan retna lestari." ucapan pak santoso, langsung mengundang gelak tawa aksa yang menggelegar.


ternyata seru juga kalau sudah satu server sama calon mertua.


tak terasa mereka sampai di sebuah rumah kecil di pinggir sawah.


"parkir saja disitu!."


"siap pak."


aksa turun dan mengikuti pak santoso yang langsung masuk ke dalam rumah. pak santoso mengambil dua pasang sepatu boat dan dua ember.


aksa masih tebengong heran saat pak santoso memberikan sepasang sepatu tadi kepadanya, dan tak lupa ember yang sekarang sudah berada di tangan kanannya.


"pakai itu!."


"i..iya pak." aksa membuka sepatunya, menggangti dengan sepasang sepatu boat hitam tadi.

__ADS_1


pak santoso mengisyaratkan agar aksa mengikutinya. mereka berdua berjalan ke samping rumah, melewati jalan kecil dan sampai di kandang hewan ternak pak santoso.


"ini sapi perah, bantu bapak memerah susunya."


seumur umur aksa belum pernah berdekatan dengan hewan ini, sekarang dia malah diminta untuk memerah susu sapi?


"ba..bagaimana caranya pak?."


"kemari." pak santoso mengarahkan tangannya agar aksa mendekat dan benar saja belum lama aksa berada di dekat si sapi, hampir saja dia terkena cambuk ekor sapi.


"astaga! hampir saja."


"jangan ragu, kalau kamu setengah-setengah mendekatinya, dia akan merasa sedang dalam bahaya." aksa mengangguk dan mendekati pak santoso.


setelah pak santoso memberikan les private memerah susu sapi kepada calon menantunya. aksa dengan suka hati melakukannya.


"loh neng kene pak santoso?" tanya seorang perempuan paruh baya yang menghampiri dua lelaki itu. membuat mereka menghentikan aktifitasnya.


"enggeh bu, bu mirna saka ngendi?."


"sawah pak, sopo kuwi cah lanang ganteng banget?." tanya bu mirna, membuat aksa hanya tersenyum saat si ibu tersenyum kepadanya.


"ayo dakkenalake, iki aksa." aksa kembali mengangguk, meski dia tidak mengerti apa arti ucapan pak santoso, tapi aksa sedikit memahami gerak tubuh dua orang tua didepannya.


"aksa?."


eh kenapa namaku disebut sebut?


"enggeh, calon bojo karin."


"cocok pak, seng wedok ayu, seng lanang ganteng. permisi dulu ya pak," pak santoso tersenyum.


"sa, bapak ke dalam dulu mau ambil air."


sepeninggal pak santoso, aksa mencoba mencari sosok perempuan paruh baya tadi. menyusuri beberapa petak sawah, naik dan turun. ahirnya aksa melihat sang ibu tadi.


"bu..."


"ono opo le?"


"saya mau bertanya sesuatu, tapi sebelumnya bisakah ibu tidak memakai bahasa jawa? karena saya tidak mengerti."


"ada apa nak aksa?"


"tadi, waktu di kandang sapi. pak santoso ngomong apa ya bu?." demi apa, aksa rela berlari hanya untuk menanyakan hal itu.


"tidak ada, saya hanya bertanya kamu itu siapa? kata pak santoso, kamu calon suami karin." aksa masih mematung mencerna ucapan ibu tadi.


"saya calon suami karin?." tanyanya heran seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"loh, kata pak santoso gitu. memangnya bukan?."

__ADS_1


"hah? benar bu, saya calon bojo karin." ucap aksa nyengir kuda.


__ADS_2