Jangan Panggil Aku Om!

Jangan Panggil Aku Om!
Perbincangan Hangat


__ADS_3


jangan lupa mampir ke karya othor yang satunya ya...😀😀😀😀


*************×***************


"Karin..." ibu rita memanggil karin dari luar kamar. ini sudah ketiga kalinya dia pergi ke kamar anaknya. sejak tadi, mamah dedeh sebutan yang karin berikan kepada ibunya mengetuk pintu berulang ulang namun tak kunjung ada jawaban dari dalam sana.


"karin. kenapa sampai jam segini belum bangun, aksa.. karin. apa mereka bertempur sehebat itu semalam? sampai siang begini tidak juga bangun."


"ck, emang kalo nikah sama om om, nafsunya gede, pasti minta jatah terus. udahlah, kalo laper nanti mereka bakal turun sendiri." ibu rita memilih meninggalkan kamar pengantin baru, memilih untuk menemani suaminya ke sawah.


"mereka belum bangun bu?." tanya pak santoso ketika melihat wajah istrinya sedikit cemberut.


"belum pak, kayaknya kecapean. padahal ibu sudah masakin makanan favorit mantu ibu."


"kecapean? emang kerja apa mereka ampek kecapean?."


"yaelah si bapak, masak gitu aja masih nanya."


"mereka ikut beberes dekor?."


"bukan pak. bapak kalo udah makan ayo kita berengkat aja, katanya tadi mau ke sawah."


"ibu mau ikut? tumben."


"iya. ibu takut denger suara suara."


"suara apa bu?."


"udah lah pak, bapak dari tadi ibu ngomong apa aja malah gak nyambung."


"ibu gak jelas soalnya ngomongnya." ibu rita sungguh kesal, terkadang otak suaminya agak loading untuk masalah begituan.


"mereka lagi kerja bikin cucu buat kita, udah yuk berangkat." pak santoso mendengus kesal saat tau arti ucapan istrinya, kenapa sulit sekali hanya untuk mengatakan begituan.


di kamar pengantin, aksa sebenarnya sudah bangun saat ibu mertuanya mengetuk pintu untuk ketiga kalinya. tapi dia memilih untuk tetap berbaring di kasur bersama istri mungilnya.


"selamat pagi abang." karin menggeliat


"selamat siang sayang."


"siang?."


"em, sekarang sudah jam sebelas siang."


"apa???? abang belum sarapan dong! aduh, maaf ya, aku kecapean bangunnya ampek kesiangan."


"tidak apa istriku, sini." aksa membenarkan posisinya, menyuruh karin agar tidur di lengan kekarnya.


"abang gak bakal ngapa ngapain aku kan?." tanya karin penuh kecurigaan, pasalnya tadi malam aksa melakukannya sampai subuh dan membuat badan karin benar benar remuk.


"gak, asal gak hilaf. sini!." karin mengerucutkan bibirnya tapi dia tetap saja mengikuti permintaan suaminya.


"kamu bahagia menikah denganku?." belaian lembut di ujung kepala karin, membuatnya menenggelamkan wajahnya ke ketek aksa. seperti kebiasaan baru, entah kenapa karin sangat menyukai hal itu.


"tentu, bagaimana dengan abang?."


"aku? tentu aku lebih sangat bahagia."

__ADS_1


"pekerjaan abang di jakarta bagaimana? apa tidak masalah ditinggalkan begitu lama?."


"ada riko sama papa."


"sayang...."


"em."


"ada hal yang ingin aku ceritakan."


"ceritakan saja, aku akan jadi pendengar yang baik." karin tersenyum


"tapi, berjanjilah untuk tidak marah!." aksa berpikir ini waktu yang tepat untuk menceritakan tentang jasmine kepada karin, bisa jadi saat mereka kembali ke jakarta mereka bertemu dengan jasmine. aksa tidak ingin ada kesalah pahaman diantara mereka berdua.


"apa tentang mantan pacar abang?."


"kenapa kamu berpikir kesana?."


"lalu, apa ada hal yang bisa membuatku marah selain karena abang takut aku cemburu?." aksa menggenggam tangan karin lembut, ini hal yang sangat dia sukai dari karin. selalu bisa berpikir dewasa dan tidak langsung mengambil kesimpulan.


"aku mencintaimu karina...."


"em, kenapa tiba tiba? ceritakan dulu, nanti aku putuskan. aku marah atau tidak."


"memang bisa begitu?."


"bisa. ih abang lama ceritanya." karin mendengus kesal, padahal sebenarnya dia begitu penasaran.


"iya iya, kamu tau kan pengusaha yang memintamu untuk mengerjakan desain proyeknya?."


"pak ariel?" aksa mengangguk


"sebenarnya dia..."


"dia adalah suami jasmine."


"jasmine?." karin mengerutkan keningnya.


jasmine? bukankah dia cinta pertama abang? lalu apa hubungannya dengan pak ariel masuk ke perusahaan?


"iya, jasmine adalah.."


"cinta pertama abang." cebik karin


"kamu tahu?."


"iya aku tahu, apa abang akan kembali kepadanya? dia dulu meninggalkan abang tanpa kata putus kan? jadi bisa dibilang masih ada urusan yang belum kalian selesaikan." aksa dengan cepat meraih leher karin, dan ******* bibirnya dengan rakus.


"abang, aku gak bisa nafas."


"apa kamu meragukan aku?." karin menatap lembut mata suaminya, dan menggeleng lemah.


"aku tidak meragukan abang, bukankah yang aku katakan benar?."


"tapi aku tidak suka dengan pertanyaanmu, kenapa kamu bertanya aku akan kembali padanya?kamu seperti tidak percaya kalau aku benar benar mencintaimu karin. aku tidak peduli kalaupun jasmine ada di indonesia, bahkan kalau nanti aku dipertemukan dengannya secara tidak sengaja, aku tidak akan memperdulikannya."


"astaga! abang sensian banget. terus intinya mereka berdua kenapa?."


"aku gak tau kenapa ariel atau yang biasanya dipanggil fahri itu tiba-tiba mau memakai desain dari perusahaan kita. terlebih dia langsung mau memakai desainmu,"

__ADS_1


"menurut abang, mereka berdua merencanakan sesuatu?."


"entahlah, aku awalnya tidak perduli apa yang akan fahri lakukan. tapi karena dia berurusan denganmu dan seperti tertarik kepadamu maka ini akan menjadi urusanku."


"cie... mulai posesif ni ye."


"sayang, aku serius. dia itu tertarik sama kamu, dari cara dia memperhatikan kamu udah beda."


"masaaaakkkk sih?." goda karin sok genit


"sayang, jangan seperti itu. atau aku akan memakanmu."


"gimana kalau jasmine dateng terus minta balikan sama abang?."


pletak!


"aw, sakit. kenapa abang nyentil dahiku?."


"walaupun dia mau balikan atau apa aku gak peduli, di hatiku cuman ada satu wanita dan dia istriku."


"gombal!."


"serius, aku hanya ingin menikah satu kali dalam hidupku."


"iya, aku tahu."


"ingat kan apa komitmen kita?."


"em, harus saling jujur apapun itu. terutama hal yang mengganjal dalam hati kita."


"good girl." aksa mengacak rambut karin


"abaaaang, rambutku jadi berantakan ih." karin pura pura sebal sambil mengembungkan kedua pipinya.


"kamu sungguh menggemaskan sayang. aku tidak tahan untuk tidak memakanmu."


pengantin baru itupun melakukan olah raga siang mereka di atas ranjang.


"bu.. mereka belum turun juga?." pak santoso bertanya sambil mengambil air di kulkas.


"kayaknya belum pak, ni makanan diatas meja masih utuh, gak ada yang nyentuh. emang dasar mentang mentang pengantin baru."


"udahlah bu, dulu juga kita begitu."


"dulu beda pak, waktu hari pertama jadi istrimu, ibu malah masak buat bapak. padahal paha ibu waktu itu sakit banget."


"jadi ingat masa muda ya bu." pak santoso tertawa geli


"udah lah pak, ayo kita makan siang."


saat menikmati makan siang, ada suara aneh yang terdengar dari atas kamar diatas dapur. rumah karin yang kebanyakan berbahan kayu, membuat dentuman keras bisa sedikit terdengar ke ruang di bawahnya.


"pak, dengar sesuatu gak?."


"iya bu, ibu dengar juga?."


"iya pak, seperti suara?."


"udahlah bu, ayo kita lanjutkan makannya."

__ADS_1


"seperti suara ranjang bergoyang ya pak."


"astaga bu!!!."


__ADS_2