Jangan Panggil Aku Om!

Jangan Panggil Aku Om!
aku cemburu..


__ADS_3

"eh buaya! kesambet apaan lo dari tadi diem mulu." ucap riko yang sedari tadi mondar mandir ke ruangan aksa dan melihat aksa yang terlihat sedang murung.


"menurut lo, misal kita suka sama cewek terus si cewek deket sama cowok lain."


"terus?". tanya riko penasaran sebab aksa menggantung ucapannya.


"terus....."


"terus apaan sih lo, bikin penasaran."


"terus kita bilang kalo kita cemburu. tapi si cewek malah diem. not responding gitu."


"kenapa bisa diem gitu? bukannya dia harusnya seneng dicemburuin?"


"itu dia... dianya malah diem aja gitu. gue kan jadi keki, apa gue salah? bilang kalo gue cemburu? apa dia marah? atau dia kaget? atau gimana kan heran gue." aksa mengingat tadi setelah dia mengatakan kalau dia cemburu, karin malah diam sepanjang perjalanan sampai kantor.


"emang lo cemburu sama siapa?."


"monyet sialan lo!!! keluar sana dari ruangan gue!".


"buaya gila lo!", riko segera keluar setelah mendengar ucapan gak jelas sepupunya itu.


di ruangan lain, karin sejak tadi mencoba memfokuskan pikirannya pada berkas yang menumpuk di meja. namun nihil usahanya sia sia, pikirannya tetap memikirkan ucapan aksa tadi di mobil.


ya aku cemburu. kalimat itu berhasil memporak porandakan hati karin membuatnya terdiam sepanjang perjalanan. apa dia salah dengar? apa aksa bercanda? ingin bertanya namun gengsi karena karin sendiri sudah memantapkan hatinya untuk tidak menunjukkan perasaanya pada aksa.


braaaaaakkkkk!!! karin melempar kasar berkas yang sedang dilihatnya.


"astaga karin!". Rio, teman satu ruangan karin yang kaget bukan main langsung berdiri sambil mengelus dadanya.


"eh ma'af." karin merapikan kembali berkas yang sudah dilemparnya.


fix om udah berhasil bikin aku kalang kabut. kamu harus kuat karin!!!! karin menyemangati dirinya sendiri.


Riko berjalan dengan langkah panjang karena aksa memintanya untuk segera datang ke ruangannya.


"apaan lo manggil gue?".


"sini nyet."


"serem gue liat lo, tinggal ngomong aja kenapa pake acara bisik bisik." meskipun riko mengomel tanpa henti namun dia tidak kuasa menghampiri aksa yang ingin membisikkan sesuatu kepadanya. rikopun mendekatkan telinganya.


"coba lo liatin si karin, dia lagi apa?". riko melotot dia tidak menyangka aksa memanggilnya hanya untuk bertanya karin sedang apa?


"lo cari mati?". tanya riko kesal


"lo manggil gue kesini cuman pengen gue liatin karin lagi ngapain?". lanjutnya. aksa tersenyum sambil menaik turunkan alisnya


"sana liatin!."


"o.....gah."


"bosen idup lo?." pertanyaan andalan aksa yang selalu bisa mengancamnya

__ADS_1


"ck, lo kayak kurang kerjaan tau gak. lo kan bisa langsung ngubungin dia. gue ampek ninggalin pekerjaan penting gue karena panggilan darurat lo."


"cih, pekerjaan penting apaan. sekarang kan jam istirahat lagian kita rapat setelah makan siang."


"nonton ikatan cinta." jawab riko membuat aksa melayangkan berkas kearahnya.


"lo pikir nonton termasuk pekerjaan lo?".


"semalem gue ketiduran, akhirnya gue streaming siang ini. lagian sekarang kan waktunya istirahat." elak riko


"nah karena istirahat, mending lo cepet liatin dia lagi ngapain."


"ck, sialan lo buaya darat!". dengan kesal riko berjalan ke ruangan karin berdalih ingin meminta berkas, riko masuk ke ruangan karin. tidak ada siapapun disana. riko kesal karena merasa dirinya seperti orang bodoh, bukannya dia punya nomer ponselnya? kenapa repot pergi ke ruangannya, harusnya dia tinggal menghubungi karin dimana.


setelah menghubungi karin, riko segera kembali ke ruangan aksa. aksa tersenyum melihat kedatangan riko.


"dasar bucin lo."


"lagi ngapain?."


"yaelah pake nanya, gue mau duduklah."


pletak! aksa menyentil kening riko.


"yang nanyain lo siapa? maksud gue karin lagi ngapain?."


"oh, dia lagi makan tuh di kantin sama si Rio?."


"apaa?????". suara aksa memenuhi gendang telinga riko


aksa merenggangkan dasinya dan segera menghubungi sekretarisnya shinta.


"shin, suruh karin mengantarkan makan siang saya!."


"tidak ada tapi tapi. saya tunggu lima menit." riko hanya menggelengkan kepalanya.


"tugas gue selesai kan? gue balik ke ruangan gue dulu."


"jangan bilang kalo lo mau lanjutin nonton tu sinetron."


"ya iyalah gue mau lanjutin nonton kembaran gue sekretaris Iqbal." riko segera ngacir karena takut terkena amukan aksa.


di ruangan lain, karin sedang mondar mandir dengan kotak makanan di tangannya. sungguh untuk saat ini dia tidak siap bertemu dengan aksa. meskipun karin sudah berpikir keras sedari tadi, kenapa aksa memintanya untuk mengantar makan siangnya padahal itu bukanlah tugasnya.


"rin, gue pusing tau gak liat lo dari tadi mondar mandir kayak gosokan." seloroh Rio. karin hanya melirik kearahnya.


"lagian itu makanan buat siapa sih?."


"berisik lo." karin hampir saja berdebat dengan Rio untungnya ponselnya berbunyi. ya shinta menghubunginya lagi karena ini sudah sepuluh menit namun karin tak kunjung datang.


"gue harus berani ngadepin ini." karin membenahi pakaiannya dan segera pergi ke ruangan aksa.


tok

__ADS_1


tok


tok


aksa yang sedari tadi mondar mandir juga menunggu kedatangan karin dengan hati berdebar langsung tersenyum dan segera duduk di kursinya. aksa merapikan pakaiannya dan memasang wajah coolnya.


"masuk!."


"ma'af pak saya terlambat. ini pesanan bapak." karin memberikan kotak makanannya. aksa tersenyum samar.


"duduk!." karin mengangguk dan mematuhi perintah aksa.


"shinta, tutup pintunya!."


"baik pak."


karin menunduk melihat ujung sepatunya. kenapa sangat menegangkan seperti akan disidang karena melakukan kesalahan. aksa berjalan kearah sofa.


"kemari!." sekali lagi karin mematuhi perintah aksa dan duduk berseberangan dengannya. aksa melihat karin yang sedari tadi menghindari kontak mata dengannya.


"hem, makanannya enak." karin masih tetap tertunduk dan enggan menatap aksa.


ya tuhan, kenapa jadi gerogi gini sih? lagian om aksa cuman bilang cemburu bukan bilang kalau dia menyukai kamu rin.


aksa segera menghabiskan makanannya. aksa tau kalau karin gerogi, tapi bukan hanya karin saja karena dirinya juga sedang merasakan hal yang sama saat ini.


"rin.." karin menoleh ke arah aksa. tatapan mereka beradu namun tidak ada pembicaraan yang keluar.


"i.. iya pak." aksa tersenyum karena karin begitu formal memanggilnya.


"kenapa memanggilku pak?".


"kan ini di kantor pak." ucap karin gugup


"kalau sedang berdua seperti ini, panggil aku seperti biasanya." karin mengangguk


"rin...". kenapa terdengar sangat sensual padahal biasanya aksa memang memanggilnya seperti itu.


"iya om." aksa tersenyum karena karin sudah memanggilnya dengan sebutan biasa.


"tentang tadi di monbil.. ."


deg


deg


deg


suara jantung mereka berdua seakan beradu memenuhi ruangan yang sunyi.


"aku cemburu, benar benar cemburu, aku tidak suka kamu dekat dengan pria lain terlebih cecunguk itu. aku tidak suka kamu mengangkat teleponnya dan aku tidak mau kamu menemuinya." aksa berucap dengan tegas.


jantung karin seakan ingin melompat dari tempatnya. apa dia tidak salah dengar?

__ADS_1


"tapi kenapa?." tanya karin..


"karena aku..."


__ADS_2