
karin mencerna apa yang baru saja aksa ucapkan. beberapa kali mengerjapkan mata bulatnya, apa dia salah dengar? atau aksa mau mengerjainya? sungguh tidak lucu sama sekali.
"hahahha.... om jangan ngaco! kita baru aja jadian. bahkan gak sampe sehari loh terus om ngajak ke KUA?." karin hampir saja pingsan karena mendengar ucapan aksa.
"aku serius!."
"ish, gak romantis banget sih!." ucapan karin berhasil membuat aksa menautkan kedua alisnya.
"biasanya, seperti aku liat di drama-drama para pria akan memberikan lamaran romantis kepada kekasihnya. ada yang berjongkok, menggenggam tangan dan mengeluarkan cincin dari sakunya. will you marry me? seperti itu. nah, ini boro-boro." karin mencebik, membuat aksa menggaruk kepalanya sambil nyengir.
"ma'af, kalau aku seperti terburu-buru. hanya saja aku takut hilaf."
"om dari tadi bilang hilaf terus, yang hilaf apanya?." karin sungguh tidak tau apa yang aksa maksud dengan hilaf, saat dia mencebik aksa mengatakan kalau dia takut hilaf, dan sekarang juga berkata demikian.
"seperti ini." aksa meraih dagu karin. mengecup bibir mungilnya, ******* benda kenyal yang terasa sangat manis itu. meskipun tidak mendapatkan respon, aksa terus saja menyapu bibir karin.
"yang," karin mendorong aksa. aksa menatap wajah karin yang memerah.
"kenapa tidak membalasku?."
"membalas? aku bahkan susah bernafas." karin pura-pura sebal. padahal detak jantungnya sudah berdetak lebih kencang berpuluh kali lipat.
"hehehe ma'afkan aku sayang, nanti kamu akan terbiasa." aksa membelai lembut bibir karin, membuat karin memejamkan matanya.
astaga! pantas saja dia bilang kayak gitu, lama kelamaan sungguh bisa hilaf! rasanya sangat memabukkan... rutuk karin yang baru pertama kali merasakannya.
"sayang, ayo pulang. sudah malam." ajak karin, aksa mengangguk dan kembali menggenggam tangan karin. aksa terus saja menggenggam tangan, sepertinya ini akan menjadi kebiasaan barunya.
di tempat lain, clara beberapa kali menghubungi aksa namun tak kunjung ada jawaban.
"kemana sih dia, biasanya juga langsung ngangkat telepon gue."
clara sekali menghubunginya, karena tak kunjung ada respon, dia memutuskan untuk pergi ke rumah aksa.
setengah jam berlalu, clara sampai di rumah aksa yang tampak sepi. hanya bi ijah yang tadi membukakan pintu.
"kemana semua sih penghuninya?."
"ngapain lo disini?." ucap ramon yang baru masuk ke ruang tamu dan tak sengaja melihat mantan kekasihnya itu.
"lo yang ngapain disini?."
"ini rumah pacar gue."
"ini juga rumah pacar gue."
"cih, bentar lagi juga jadi mantan." ucap ramon
"palingan juga lo yang bakal jadi mantan arsyi."
"mimpi lo, bentar lagi kebusukan lo bakal kebongkar. dan saat itu juga, lo bakal kehilangan semua yang lo miliki. termasuk aksa." sindir ramon lalu meninggalkan clara.
"beraninya lo ngancem gue."
mama erin yang sedari tadi melihat interaksi antara ramon dan clara merasa sangat geram.
berani-beraninya wanita rubah ini, mau menghancurkan hubungan kedua anak ku. cih, gak sudi aku memiliki mantu seperti ini.
"clara?."
__ADS_1
"eh, tante."
"dari tadi?."
"baru aja sampai. aksa kemana ya tante? seharian ini aku ngubungin dia gak bisa." ucap clara sok manis membuat mama erin serasa mau muntah.
aksa pasti sedang pacaran sama karin. mama erin tahu semua informasi dari riko, dan tadi arsyi menceritakan perihal mereka yang sedang hang out di mol.
"aksa pergi keluar negeri. jadi kamu mungkin tidak dapat menghubunginya beberapa terakhir ini."
"tumben. biasanya aku tau semua jadwal aksa." ucap clara.
"ya sudah tante mau ke dalam dulu, sudah malam." ucap mama erin bermaksud menyindir clara agar segera keluar dari rumahnya.
"yah, tante. ya sudah aku pamit dulu." clara pergi keluar dari rumah aksa dengan perasaan kesal.
******
"sayang, kamu gak laper?." tanya aksa
"kita makan di rumah aja ya." ucap karin yang kurang fokus mengingat perlakuan aksa di taman tadi. ish, sangat memalukan!
"bang,"
"kamu memanggilku?." tanya aksa
"abang suka gak? kalo aku panggil abang?." tanya karin malu-malu
"em, seperti apa yang kamu mau sayang." aksa mengacak rambut karin
"kalau di kantor, jangan sampai ada yang tau kalau kita berpacaran." pinta karin sambil menunduk
"kenapa?."
"tapi, berjanjilah! apapun yang terjadi kamu harus menceritakan semuanya kepadaku."
"tentu saja, aku akan memanfaatkan kekuasaan abang sebagai pacarku." ucapan karin membuat mereka berdua tertawa.
mereka sudah sampai di rumah aksa, rumah yang terlihat sepi hanya dua orang satpam yang berjaga di pos. bahkan bi ijah sudah tidak terlihat batang hidungnya.
karin meletakkan tasnya, dan langsung pergi ke dapur. sedangkan aksa menuju ke kamarnya. karin memilih memasak makanan sederhana agar mereka berdua cepat makan.
saat sedang berperang dengan peralatan dapurnya, aksa datang memakai celana pendek bermotif kotak kotak dengan kaos putih santainya, dan karin yang asyik memasak belum menyadari kedatangan aksa.
aksa menyenderkan kepalanya di ambang pintu dapur, memperhatikan semua pergerakan karin. karin yang masih memakai kemeja kantornya, mencepol rambutnya sampai terpampang jelas leher putihnya.
"abang." karin terhenyak saat aksa sudah melingkarkan kedua tangannya dan memeluknya dari belakang. seperti anak kucing yang mencari kehangantan, aksa meletakkan dagunya diatas bahu karin.
"masak apa?." suara seksi aksa membuat karin sedikit merinding.
"masaknya yang simple aja, biar kita cepat makan."
"em."
"abang duduk aja, biar aku cepet masaknya."
"aku pengen kayak gini terus." ucap aksa
"abang ih."
__ADS_1
"iya iya aku duduk."
sepertinya aku harus segera memberitahu mama kalau aku ingin serius dengan karin. sungguh membuat ku frustasi!
"ayo makan." karin meletekkan dua piring pasta dihadapan aksa.
"sayang."
"kenapa?."
"apa orang tuamu galak?."
"bapak?." aksa mengangguk
"bisa dibilang iya, bisa dibilang tidak." jawaban karin sedikit ambigu
"jadi?."
"bapak kadang galak kalau ada yang berani mengusik atau mengganggu putrinya. tapi sebenarnya galaknya karena dia melindungi kami."
"kamu punya saudara?."
"iya, perempuan."
"lalu, bagaimana agar aku bisa mendekati bapakmu?."
"maksud abang?."
maksudku, aku ingin mendekati bapak mertuaku dan meminta restunya.
"sudah ayo makan, keburu dingin." aksa segera menyantap pastanya dan berniat akan mencari tau tentang keluarga karin lewat papanya, karena yang dia dengar orang tua mereka berteman sejak dulu.
"enak, aku suka masakan kamu." puji aksa
"ih, ngerayu."
"entar kalo kita udah nikah, aku mau makan masakan kamu tiap hari." aksa mengerlingkan sebelah matanya
"entar bi ijah ngambek." karin bercanda dan disambut tawa aksa.
setelah makan, merekapun segera pergi ke lantai atas untuk beristirahat.
"sayang." panggil aksa setelah mereka berdua sampai didepan pintu masing masing.
"kenapa?."
tanpa basa basi, entah apa yang merasuki aksa, aksa merangkup wajah karin dan tanpa berkata lagi, segera mel*mat bibir karin. karin yang belum siap dengan serangan yang tiba-tiba itu hanya mampu memejamkan matanya, dan meremas kaos aksa, menikmati isap*n demi isap*n bibir aksa yang mulai meng*eksplor bibir mungilnya.
aksa melepaskan pagutannya dan menatap intens karin, terlihat jelas dalam matanya yang sudah dipenuhi nafsu. membuat karin menelan salivanya dan lebih kuat meremas kaos aksa.
"abang...."
.
.
.
mau up lagi gak????? 😀😀😀😀
__ADS_1