
"abang, kenapa mukanya ditekuk terus? jelek tau."
"sayang, apa kita tidak usah kembali ke jakarta? kita bisa tinggal disini selamanya."
karin menghentikan kegiatannya merapikan barang yang akan dibawa ke jakarta, beralih duduk disamping suaminya yang sejak kemarin entah kenapa selalu mengatakan tidak ingin kembali ke jakarta.
"abang kenapa sebenernya? ada masalah?." karin menyelami kedua mata teduh suaminya. mata yang biasanya selalu terlihat tajam, kini berubah, seperti banyak kehawatiran.
"jasmine ada di jakarta. dan dia kemarin lusa ke kantor."
"oh, jadi abang gak pengen balik karena jasmine? abang takut clbk lagi?." dengan gerakan singkat, aksa menarik tubuh mungil istrinya dan mendekapnya erat.
"kamu selalu membuatku nyaman, tolong jangan pernah berubah sedikitpun. apalagi pergi dan menghilang. tegur aku kalau aku salah, jangan mendiamkanku! aku tidak ingin melihat ke belakang, masa depanku sudah ada di hadapanku."
"abang, apapun masalalu abang. siapapun yang pernah membersamai abang, dan mengukir kenangan bersama abang aku tidak mempermasalahkannya. kita berhak membuat kenangan manis saat bersama orang terkasih kita. begitu juga dulu, abang dan jasmine saling mencintai, jadi tidak heran kalau saat itu kalian melakukan hal hal romantis. iya kan?."
"kamu benar sayang, tapi sebenarnya bukan karena jasmine aku tidak ingin kembali ke jakarta."
"lalu?."
"akdhan."
"akdhan?." karin mengulang ucapan aksa
"em, cecunguk itu bekerja di perusahaanku." aksa menyunggar rambutnya dan membaringkan tubuhnya.
"astaga! jadi karena ini abang uring uringan dari tadi ?."
"apa kamu tidak akan tergoda olehnya?."
"akdhan temanku,"
"iya, tapi dia menyukaimu." aksa merajuk seperti anak kecil dan itu membuat karin tertawa terpingkal pingkal
"abang gak percaya sama aku? kalau kita tidak saling percaya sama perasaan pasangan kita, bagaimana pernikahan akan baik baik saja? yang ada kita akan bertengkar dan berdebat terus terusan. jadi aku mohon, percaya dan ayo kita hadapi bersama semua cobaan, godaan dan rintangan yang akan hadir dalam rumah tangga kita."
"aku percaya, tapi aku kadang merasa insecure."
"karena abang sudah tua?." aksa segera duduk tidak menyangka kalau istrinya akan mengatakan hal sensitif segamblang itu.
"astaga sayang, kamu benar sekali."
"hahaha, sudahlah ayo kita tidur."
"no, aku minta jatah dulu sayang."
"abang!!!."
"biar aku semangat buat kembali ke jakarta."
"alasan."
dengan cepat aksa menggiring istrinya dan terjadilah pergulatan panas di dalam kamar pengantin baru itu.
❤❤❤
"fahri...." suara jasmine seakan tercekat hanya sampai tenggorokannya. suaminya saat ini sedang bergandengan tangan di mol dengan seorang wanita yang terlihat seusia karin.
__ADS_1
jasmine tidak mungkin berteriak memanggil nama suaminya di kerumanan banyak orang. kalau dia melakukannya mungkin saja sampai di rumah fahri akan mencekiknya.
"fahri kenapa kamu melakukan ini? kalau kamu sudah tidak mencintaiku lagi kenapa tidak kamu ceraikan saja aku?." jasmine bergumam sambil berjalan keluar mol. air mata membasahi pipinya. pikirannya berkelana entah kemana, hubungannya dengan sang suami, orang tua yang selalu menekannya dan aksa yang melarang riko untuk memberikan nomer ponselnya.
jasmine pergi ke taman tempatnya bersantai ketika bersama aksa dulu. beberapa kenangan manis yang pernah mereka ukir disana seakan terlintas dihadapannya. senyum aksa dan tatapan tulusnya yang penuh cinta seakan terasa saat dia memejamkan matanya.
'aksa, bisakah aku memohon ma'af kepadamu? apakah senyum dan tatapanmu akan sama seperti dulu?'
jasmine berdiri, menghirup udara dan menghembuskannya dengan pelan.
"pria brengsek! kurang ajar! aku benciiii kamu, aku benciiiii....." jasmine berteriak di tepi danau, air mata terus mengalir begitu saja.
"kenapa harus aku...? kenapa???," pukulan kecil didaratkannya pada dadanya yang terasa begitu sesak
"ma'af nona, apa anda tidak takut kulit anda akan terbakar saat berjemur dibawah matahari seperti ini?."
"lebih baik kulitku yang terbakar, dari pada hatiku yang selalu dibakarnya."
"ckckck,,, sedang patah hati rupanya." arga menggelengkan kepalanya melihat jasmine yang mulai berdiri dan terus berjalan ke arah danau.
"nona, apa anda ingin bunuh diri? anda bisa tenggelam kalau terus berjalan."
"biar saja aku mati, tidak ada yang peduli padaku."
"well, kalau kamu mau menyerah silahkan lanjutkan!." arga malah duduk di kursi panjang, memperhatikan jasmine, akankah jasmine berhenti atau benar benar akan menenggelamkan dirinya. dan benar saja, jasmine terus berjalan dan terlihat sesekali punggungnya bergetar karena menangis.
'palingan juga bisa berenang' batin arga. sialnya jasmine yang sudah menenggelamkan tubuhnya justru tidak terlihat lagi.
satu detik
tiga detik
empat detik
lima detik
terlihat tangan jasmine menggapai udara.
"shit!!! dia tidak bisa berenang." arga dengan cepat membuka sepatunya dan berenang, menggiring tubuh jasmine ke tepi danau.
❤❤❤❤❤
"welcome anak anak mama, gimana liburan kalian di jogja?."
"baik ma, abang malah gak pengen balik ke jakarta saking betahnya."
"anak nakal."
"aw ma,,, sakit.. lepasin. kamu kalo gak balik ke jakarta emang mau ngapain di jogja?."
"bikin anak." mama erin semakin menjewer telinga anak sulungnya itu.
"ma, sakit."
"emang kalo di jakarta gak bisa bikin anak?."
"di jogja lebih sejuk udaranya, di jakarta mah panas. liat aja, gak lama lagi istri ku bakal hamil, made in jogja."
__ADS_1
"abang, mesum banget sih!." aksa terkekeh melihat kedua pipi istrinya yang mulai memerah.
"bener kan sayang,?" akasa menaik turunkan kedua alisnya
"auh ah, gelap." karin langsung beranjak pergi ke kamarnya, meninggalkan suami dan ibu mertuanya.
"sa, jangan godain terus kasian dianya."
"gemesin ma,"
"gimana, enak gak di jogja?."
"enak ma,"
"emang bener kamu gak pengen balik ke jakarta?."
"em, jasmine ke perusahaan beberapa hari yang lalu."
"karena dia kamu gak mau balik?."
"bukan." aksa menggeleng
"lalu?."
"akdhan bekerja di perusahaan."
"akdhan? temen karin yang pernah kesini?." aksa mengangguk
"ya ampun sa, biarin ajalah. lagian karin kan gak pernah ada apa apa sama dia."
"iya, tapi akdhan suka sama dia ma."
"terus gimana kalo karin tau jasmine ada di jakarta?."
"aku udah cerita sama dia, dia gak masalah. lagian aku juga udah gak ada perasaan apapun sama jasmine."
"baguslah, kalo sampe kamu nyakitin menantu mama. mama coret kamu dari daftar keluarga."
"astaga ma, sebenarnya anak mama siapa sih?."
"mama sekarang lebih sayang sama menantu mama, karena mama yakin karin sebentar lagi akan mengandung penerus hudaverdi. dan kamu.. kalo mama udah punya cucu, mama gak peduli kamu mau kemana aja." mama erin menggoda aksa.
"ya aku juga yakin kalau karin sebentar lagi akan hamil, kan aku gempur terus ma, aku gak bakal nyakitin karin. kalo sampek aku ngelakuin hal bodoh yang bisa nyakitin hati istri aku, mama boleh deh ngelakuin apa aja."
"bener?."
"iya ma, bener. aku cinta banget sama karin."
"dasar bucin." mama erin mencebik dan meninggalkan aksa yang kemudian pergi ke kamarnya.
.
.
.
*ada yang inget arga siapa?*
__ADS_1