Jangan Panggil Aku Om!

Jangan Panggil Aku Om!
Turunkan Egomu!


__ADS_3

"abang, sebenernya abang kenapa?." sepulang dari kantor, aksa mendadak bersikap dingin kepada karin.


karinpun menghubungi riko, sepupu sekaligus asisten suaminya. riko juga tidak tahu menahu apa yang terjadi, sebab tadi siang riko tidak ada di kantor. merasa pusing dengan sikap suaminya, karinpun memilih untuk membersihkan dirinya.


"dasar gak peka." aksa terlihat sangat kesal, saat istrinya tidak datang membujuknya. rasa penasaran aksa terhadap hubungan mereka dulu menumbuhkan rasa cemburu yang teramat besar. membuat aksa enggan bertanya kepada karin.


saat makan malampun, aksa tetap tidak berbicara kepada karin.


"rin, suami kamu kenapa?."


"gak tau ma, sejak pulang kantor abang kayak dingin sama aku."


"kamu bikin kesalahan?." tanya mama erin penasaran, pasalnya aksa sangat bucin kepada karin.


"kayaknya gak deh ma, aku udah tanya sama abang. tapi dia gak jawab. kesel tau dicuekin."


mama erin menggeleng heran melihat tingkah laku keduanya. memang dalam semua pernikahan yang tidak dilandasi dengan cinta, bahkan yang dilandasipun kadang masih suka bertengkar. tapi mama erin memilih untuk tidak terlalu mencampuri urusan mereka berdua, selagi masih terlihat wajar. biarkan mereka menyelesaikannya sendiri.


"abang, sebenernya abang kenapa? ngomong dong. malah diem gini." aksa hanya melirik karin yang terlihat memanyunkan bibirnya.


❤❤❤


Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo


sudah dua hari jasmine berada di rumah sakit, tapi tidak ada satu orangpun keluarganya yang datang membesuk. bahkan suaminya tidak memberinya kabar.


"kamu mau sampai kapan nangis terus?."


"gak usah peduliin aku." jasmine membuang pandangannya ke arah lain, saat melihat arga tepatnya dokter arga masuk ke ruangannya.


sejak kejadian jasmine tenggelam di danau, arga memutuskan untuk menolongnya, membawa dan merawatnya di rumah sakit. selain karena pingsan, jasmine juga kelelahan. tubuhnya yang semakin kurus dan lingkaran matanya yang mulai menghitam terlihat sangat jelas.


"whatever, kalo mau nyoba bunuh diri lagi jangan disini. dan jangan harap gue nolongin lo lagi." jasmine tidak merespon, hanya air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.


arga sebenarnya tidak tega melihat wanita di depannya, setiap hari menangis tiada henti. bahkan sangat sulit untuk menyuruhnya makan. sikap jasmine yang cuek dan sedikit ketus membuat arga terkadang kesal dan ingin membiarkannya, tapi sikap kemanusiaannya menentang. ahirnya dia selalu mengalah saat jasmine menyuruh untuk tidak mempedulikannya.


"oh god, come on! sebenarnya lo kenapa?."


"bukankah tadi kamu bilang tidak akan mempedulikanku?."


"i-iya, tapi aku merasa aku harus bertanggung jawab terhadapmu, karena aku yang membawamu kemari."


"kalau begitu, aku akan keluar dari sini."


"hei, bukan itu maksudku." arga mencekal pergelangan tangan jasmine yang hendak berdiri. sejenak tatapan mereka berdua bertemu.


"apa aku memang terlahir untuk menjadi beban semua orang?." jasmine menunduk dan mulai terisak. bahunya mulai naik turun dan sesekali telapak tangannya mengusap air mata di pipinya.


aku tidak tau apa yang kamu lalui, tapi kenapa kamu terlihat begitu menyedihkan? secara spontan tangan arga menepuk bahu jasmine.

__ADS_1


"sudahlah jangan menangis terus, ayo makan dulu."


"tidak hanya kamu yang menganggapku beban, suamiku bahkan orang tuaku juga menganggapku sebagai beban mereka. aku.. aku...."


"s-suami? kamu sudah bersuami?." tanya arga heran


"lalu kenapa suami dan orang tuamu tidak menjengukmu kemari?."


"karena itu... karena aku tidak berarti untuk mereka." suara tangis jasmine mulai pecah kembali, terdengar begitu pilu dan menyedihkan.


❤❤❤


karin memikirkan cara agar aksa mau berbicara kepadanya, sebenarnya karin tidak terlalu yakin alasan suaminya yang tiba-tiba mendiamkannya. apa karena tadi dia berbicara dengan pak ariel? tapi mana mungkin, pak ariel hanya rekan bisnisnya.


karin mencari aksa di lantai atas, namun tak kunjung ada. terlihat seseorang sedang bermain basket dari balkon atas.


"ternyata dia ada disana. baiklah, ayo kita lihat apa kamu tetap betah mendiamkanku suamiku?." karinpun memilih untuk masuk kedalam kamarnya.


"sa.. tumben main basket malem begini?."


"iya ma, lama gak olahraga."


"em,, mukanya cemberut. ada masalah?."


"gak kok."


"em, malah makin keliatan kalo lagi ada masalah. masalah kerjaan?."


"karin?."


"aku lagi kesel sama dia."


"kenapa?."


"ada klien yang minta proyeknya ditanganin karin."


"loh, bagus dong."


"ternyata dia sengaja, dia pernah ditolongin sama karin."


"wah, emang mantu mama baik hati."


"ck, dia kayaknya suka ma sama karin."


"kamu udah ngomong sama istri kamu?."


"gak, aku lagi males ngomong sama dia."


"emang salah karin apa sa?."

__ADS_1


"dia gak cerita ma sama aku, sebenernya sih emang karin kaget juga ternyata klien aku itu orang yang dia tolong beberapa tahun yang lalu."


"jadi kamu cemburu."


"nggak lah."


"iyaa... fix kamu cemburu." goda mama erin yang sangat mengenal watak aksa.


"boleh mama kasih saran? kamu mau dengerin boleh, gak mau dengerin juga gak masalah. mama lebih hususkan ke kamu, karena kamu sudah tua." aksa melotot tak percaya dengan ucapan mamanya, ingin rasanya aksa meralat ucapan mama erin andai mama erin belum mengisyaratkannya untuk diam


"syukur loh kamu dapet daun muda kayak karin, selain cantik, pintar dan tentunya good attitude. cemburu boleh saja, tapi ada batas dan tempatnya juga. apalagi kamu belum bertanya sama karin perihal hubungan dia dan klien kamu itu."


"kalo mama jadi karin, mama juga pasti kebingungan. dia gak tau salah dia apa, kamunya malah kayak anak kecil, ngambek gak jelas."


"kalau kamu bikin karin kesel, dan dia balik marah sama kamu gimana?."


"kenapa malah dia yang marah?." tanya aksa


"ya bisa jadi, dia marah karena kamu udah cuek sama dia. padahal ini juga bukan salah karin. turunkan egomu! kalian cepat selesaikan ini, dan kita bicarakan resepsi pernikahan kalian. jangan kayak anak kecil sa, sana cepet balik ke kamarmu. gak dikasih jatah baru tau rasa!."


setelah diam sejenak, aksa memikirkan ucapan mamanya. benar apa yang mama erin katakan, lebih baik membicarakannya dengan baik, aksapun beranjak pergi ke kamarnya.


saat sampai di kamar, aksa kaget karena keadaan kamarnya gelap. apa karin marah lantas pergi?


klik


pandangan aksa menyapu seluruh kamar namun tidak terlihat keberadaan istrinya.


"sayang..." aksa mencari karin ke kamar mandi, tapi tidak ada.


"sayang, kamu dimana?." di balkonpun karin tidak ada.


aksa memutuskan untuk menelepon mang ujang, mungkin saja istrinya sedang keluar rumah.


"mang, istri saya ada keluar rumah."


"gak ada tuan muda, nona ada di rumah."


"tapi di kamar gak ada mang, dibawah juga tadi aku gak liat."


betapa kagetnya aksa saat terdengar suara pintu terbuka dari kamar walk in closet. dan terlihat karin keluar dari sana, tapi apa dia benar istrinya?


"sa-sayang.. kamu.. apa yang kamu pakai?."


karin memilih untuk cuek dan mengabaikan suaminya. karena merasa diabaikan aksa memijat keningnya dan jadi teringat ucapan mamanya saat dibawah tadi.


gak dikasih jatah, tau rasa kamu!


.

__ADS_1


.


betewe apa yang karin pakai??😅😅😅


__ADS_2