
"sa, kamu darimana?."
"habis lihat sawah disana pak." aksa tersenyum, entah kenapa sejak dia mengetahui kalau pak santoso mengakuinya sebagai calon bojo karin, senyum tak pernah lepas dari bibirnya.
"susu sapinya sudah kamu perah?."
"sudah pak."
pak santoso dan aksa kembali ke rumah kecil dipinggir jalan tadi.
lebih baik aku telepon karin dulu untuk memberi tahukan kabar baik ini.
"halo sayang..."
"em.." jawab karin dari seberang
"sayang, kok cuek?."
"ga pa pa."
cewek kalo bilang ga pa pa, berarti kebalikannya. dia lagi ada apa apa. pikiran aksa berkelana entah kemana, kenapa dengan kekasihnya itu? kenapa dia cuek? padahal tadi waktu akan berangkat baik-baik saja.
"cerita dong ada apa?."
"kamu pernah mau di tunangin ya?."
"kenapa manggilnya gitu?." aksa mulai mengerutkan alisnya.
"iya apa gak?."
"sayang, kamu kenapa?." aksa mencoba meredam emosinya lagi.
"ditanya, malah balik nanya?."
"iya, tapi aku gak mau...."
"kenapa gak mau?." aksa kembali berpikir keras sebenarnya ada apa dengan kekasihnya itu.
"aku gak tau sayang, siapa yang bakal dijodohin sama aku."
"oh, jadi kalo tau kamu mau?."
"aku gak suka kamu manggil aku kayak gitu!." ucap aksa tegas.
"ya udah aku tutup dulu teleponnya." karin memutus sambungan telepon mereka.
astaga! baru aja seneng karena direstuin camer. eh sekarang malah anaknya marah gak jelas.
"kenapa sa?." tanya pak santoso keluar rumah dab sudah bersih.
"gak pak," tidak mungkin aksa bercerita kepada pak santoso kalau saat ini putri bungsunya itu sedang marah kepadanya karena mengetahui kalau aksa dulu pernah dijodohkan.
~ di rumah pak santoso ~
"gimana rin?." tanya mama erin dan bu rita.
mama erin dan pak arya ternyata datang ke jogja setelah menghubungi pak santoso. pak arya sangat senang karena pak santoso ternyata mau menjadikan anaknya sebagai menantu. usaha mereka menjodohkan kedua anak mereka ternyata berjalan mudah, karena aksa dan karin saling menyukai walaupun mereka tidak tau kalau mereka dijodohkan.
"berhasil ma, aku pura-pura marah sama abang. eh tapi kenapa kalian tidak pernah bilang kalau kami dijodohkan? terlebih kalian sudah tau kalau kami berpacaran." karin tidak habis pikir, tadi mama erin sudah menceritakan semuanya kalau dia yang meminta kepada pak santoso untuk memindahkan karin ke Jakarta agar bisa lebih dekat dengan aksa.
"ma'afkan ibu ya rin, kalau dari awal ibu dan bapak mengatakannya kepadamu. mungkin kamu tidak akan mau kuliah di jakarta."
entahlah, harusnya aku marah atau bahagia. gumam karin
"mama senang karena kamu akan menjadi menantu mama." mama erin memeluk karin
__ADS_1
"karin juga senang ma, mama sama pak arya baik banget sama karin."
"iya sayang, terimakasih sudah mau mencintai anak mama, sekarang kita tunggu kedatangan aksa, kita lihat reaksinya." ucap mama erin.
sepanjang perjalanan aksa tidak lagi ingin mengajak calon mertuanya untuk berinteraksi dengannya. yang dia inginkan adalah segera sampai rumah dan menemui karin.
"sa..."
"iya pak."
"kamu baik-baik saja?."
"iya pak."
"boleh bapak bercerita?."
"tentu pak, saya akan mendengarkannya." aksa berpikir, dirinya tidak boleh egois. hanya karena dia sedang badmood kemudian dia akan mengabaikan calon mertuanya.
"sebenarnya, dulu karin pernah akan dijodohkan dengan anak teman bapak."
ciiiiiiiiittttttttt
aksa spontan menginjak remnya, membuat pak santoso sedikit terjungkal kedepan.
"ma.. ma'af pak. bapak baik-baik saja?." pak santoso mengangguk.
"apa akdhan?." aksa mulai penasaran dan kembali melajukan mobilnya.
"bukan."
"kenapa tidak jadi dijodohkan pak?."
"karena anak teman bapak itu tidak mau."
"ck, laki-laki bodoh!." ejek aksa, membuat pak santoso tersenyum.
"iya karena dia mau dijodohkan dengan karin tidak mau, karin gadis baik, pintar dan... dia sempurna. hanya orang bodoh yang tidak mau dijodohkan dengan dia."
"ya, kamu benar. dia pria bodoh! bahkan sangat bodoh. dia memilih hidup dalam bayang-bayang masa lalunya."
"berarti dia masih mencintai mantan pacarnya?."
"ya begitu. sebenarnya bapak awalnya tidak setuju kalau karin akan dijodohkan dengan dia. karena dia itu playboy."
"wah, iya juga pak."
eh, tapi gimana kalo pak santoso tau kalau aku mantan playboy? apa dia masih mau menerimaku dan bersikap baik seperti sekarang ini? tanya aksa dalam hatinya.
"mampir dulu di toko depan karena di rumah ada tamu." aksa mengarahkan mobilnya menuju pusat oleh-oleh khas jogjakarta.
sesampainya di rumah, aksa membantu pak santoso membawa belanjaan yang tadi dibelinya. aksa dengan cepat menuju kamarnya dan mencari karin.
"sayang..."
"sayang...." aksa mengetuk kamar karin
"sayang, kamu di dalam?." tidak ada jawaban.
aksa memilih mencari bu rita dan bertanya kepadanya kemana kekasihnya itu pergi.
"bu. ibu lihat karin?."
"karin ada di gazebo belakang,"
"baik bu, aku kesana dulu."
__ADS_1
aksa berjalan ke arah gazabo, ternyata gadis yang dicintainya sedang asik memberikan makan ikan disana.
dengan pelan, aksa menghampiri karin dan memeluknya dari belakang.
"sayang..."
"eh," karin berusaha melepaskan pelukan aksa. namun percuma, aksa memeluknya dengan begitu berat
"jangan gini, malu ada bapak sama ibu." karin sengaja tidak memberitahu kedatangan mama erin dan pak arya.
"ayo kita duduk disana." karin hanya patuh ketika tangannya dituntun menuju gazebo.
"aku memang pernah mau dijodohkan, tapi aku gak mau.."
"kenapa gak mau?." karin pura-pura marah
"karena aku gak kenal sama dia. sayang, kamu sebenarnya marah kenapa?."
"siapa yang marah? aku gak suka abang gak terbuka sama aku."
"karena menurut aku gak penting juga lah, lagian aku gak tau siapa yang akan dijodohkan sama aku."
"kalo aku yang dijodohkan sama abang gimana?." karin mencoba menahan senyumnya
"maksud kamu?."
"kalau seandainya, cewek yang mau ditunangin sama abang itu aku, gimana menurut abang?."
aksa berpikir keras, apa mungkin benar karin yang akan dijodohkan dengannya? mencoba menggabungkan semua kejadian dari awal, saat papanya mengancam akan menjodohkannya dengan anak temannya. lalu dimana sekembalinya aksa dari luar negeri, karin tiba-tiba tinggal di rumahnya.
"aku akan menanyakannya kepada papa." aksa merogoh ponselnya dan menghubungi pak arya. karin diam saja, tidak memberitahukan aksa kalau orang tuanya saat ini sedang berada di rumahnya.
"halo pa."
"ada apa sa?."
"dulu papa bilang akan menjodohkanku dengan anak teman papa kan?."
"iya, kenapa? apa sekarang kamu penasaran siapa yang akan dijodohkan denganmu?." pertanyaan pak arya membuat aksa menoleh ke arah karin
"sebenarnya siapa yang akan dijodohkan denganku pa?."
"tidak penting, kan sudah ada karin sekarang."
"aku hanya ingin tau." pinta aksa memaksa.
"benarkah?."
"iya, apa sulitnya memberitahu ku?."
"baiklah, tapi jangan kaget!." pak arya, mama erin, pak santoso dan bu rita, sedari tadi melihat aksa dan karin dari jendela ruang tamu.
"dia.. karin."
"apaaa??????" aksa benar-benar kesal dengan kenyataan membagongkan yang baru diketahuinya. sedangkan keempat orang tua itu tidak tahan untuk tertawa melihat ekspresi aksa.
"kenapa?."
"astaga pa! seandainya papa bilang kalau karin orangnya...." aksa sudah tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya, entah dia harus senang atau malah marah kepada pak arya yang menurutnya sudah mengerjainya habis-habisan.
"sekarang, papa dan mama ke jogja!."
"untuk apa sa?."
"aku mau menikahi karin besok, titik." aksa menutup teleponnya. dan jawaban aksa berhasil membuat keempat orang tua itu saling pandang penuh kekagetan. begitupula karin yang duduk tepat disamping aksa.
__ADS_1
"pa, kayaknya anak papa udah kebelet kawin." ucap mama erin menggeleng polos