Jangan Panggil Aku Om!

Jangan Panggil Aku Om!
Jangan Panggil Aku Om!


__ADS_3

"sayang, ucapkan sekali lagi." ucap aksa merayu karin, karin merapatkan bibirnya sambil menggeleng.


"om pasti denger kan?." aksa menggeleng dan langsung mendapat cubitan di perut six packnya yang masih terbalut jas, membuat aksa pura-pura kesakitan.


"aw, sayang sakit."


"astaga! om kayak anak kecil tau gak." karin berjalan menuju lift. dua orang wanita yang berada di dalam lift melihat kearah aksa dan karin.


"lihat itu, dia tampan sekali." bisik salah satu perempuan dibelakang aksa.


"iya, aku ingin membelai dada bidangnya itu." ucap temannya.


"jambangnya, membuatnya terlihat begitu sexi."


karin merasa jengah mendengarkan percakapan dua wanita dibelakangnya. tepatnya dia tidak suka ada yang memuji aksa berlebihan. sedangkan si objek pembicaraan terlihat diam seperti patung. entahlah, pujian seperti itu sudah biasa menurutnya.


"eh tapi wanita di sampingnya itu..."


"dia pasti adiknya."


mendengar ucapan mereka, aksa segera meraih tangan karin. sesekali memainkan ibu jarinya dan mengelus lembut telapak tangan karin.


"ya ampun, sepertinya dia kekasihnya." karin tersenyum mendengar ucapan wanita itu. setidaknya mereka sadar kalau pria yang mereka puja sedang bersama kekasihnya bukan adiknya.


ting


aksa dan karin keluar lift, aksa melirik karin yang terlihat menahan senyumnya. setelah sampai di mobil, karin mengajak aksa untuk pergi ke taman sebelum mereka pulang.


"kamu dari tadi senyum-senyum, kenapa?."


"ga papa." ucap karin


"kamu gak cemburu, wanita wanita itu memuja kekasihmu?."


"gak lah, ngapain cemburu. emang om mau sama mereka?." tanya karin pura-pura sinis


"gak lah. terus kenapa kamu senyum-senyum?."


"mereka kira kita kakak beradik, hahahha." karin melepaskan tawanya yang sedari tadi ia tahan.

__ADS_1


"apa kamu senang mereka mengatai ku tua?."


"ih, om sensi banget kalo ngomong urusan umur." cebik karin, memanyunkan sedikit bibirnya membuat aksa menelan salivanya.


"jangan manyun gitu. nanti aku hilaf." aksa kembali fokus menyetir. sedangkan karin memikirkan ucapan aksa. apanya yang bikin hilaf?


jalanan menuju taman kota, terlihat begitu ramai. lampu berwarna warni menghiasi lorong sepanjang perjalanan.


"apa kamu menyukai jakarta?." tanya aksa yang memerhatikan karin tersenyum sedari tadi.


"em, tentu."


"apa yang paling kamu sukai?."


"apa ya? aku suka suasana jakarta. meskipun kemacetan harus aku lalui setiap hari, tapi sejauh ini aku menyukai kebisingan ini."


"hanya itu?." tanya aksa fokus mengemudi, namun salah satunya tetap menggenggam tangan karin.


"aku suka jakarta, karena disini aku seperti memiliki keluarga baru tanpa kehilangan keluarga kandung ku. aku menyukai mama erin yang kasih sayangnya setulus ibu, dan aku menyukai papa arya yang cintanya sebesar bapak." karin kemudian teringat orang tuanya di jogja.


"aku sayang sama kak arsyi seperti aku menyayangi kakak kandungku, bi ijah dan semua orang yang ada di rumah. aku menyayangi mereka semua. karena itu aku suka jakarta, walaupun baru beberapa bulan disini, tapi aku suka."


"lalu bagaimana denganku? apa kamu tidak menyayangiku?." aksa memperlihatkan muka cemberutnya.


"i love you karina."


"i love you more." ucap karin malu-malu, mungkin kalau mereka sedang tidak berada di dalam mobil, karin akan berlari sejauh mungkin karena tak kuat menahan malu. tapi kali ini, apa yang bisa dilakukannya selain menunduk karena tidak mau aksa melihat wajahnya yang mungkin saja merona.


sedangkan aksa yang senangnya minta ampun sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. langsung mencium tangan karin.


"eh?." karin keheranan.


"terimakasih, sudah menerimaku. menerimaku dengan semua masa laluku. menerimaku dengan sikap cemburu dan posesifku dan terimakasih sudah menerima pria tua ini." aksa terkekeh


"em, jangan sampai macam-macam. om tau kan aku belum pernah berhubungan dengan pria manapun. aku tidak pandai merangkai kata, aku hanya ingin kita saling jujur, saling percaya, saling support dan berbagi kesedihan."


"aku tidak akan macam-macam sayang. aku akan setia, dan aku akan selalu melindungimu." ucap aksa serius


"apapun yang kamu dengar dari orang lain, jangan langsung percaya. bertanyalah dulu kebenarannya agar tidak ada kesalah pahaman diantara kita." lanjut aksa, mengingat dia memiliki banyak saingan bisnis yang mungkin saja akan menghasut karin untuk menjatuhkan bisnis aksa. karin mengangguk, inilah yang aksa sukai dari karin. walaupun umur mereka terpaut sepuluh tahun, karin selalu bersikap dewasa dalam menyikapi masalah.

__ADS_1


sesampainya di taman, banyak sekali anak kecil berlarian. karin dan aksa tetap saja berjalan dengan saling menggenggam bagai tak mau terpisahkan. aksa sudah menanggalkan jasnya, menyisakan kemeja biru yang sangat pas di badannya. karin dan aksa duduk di bangku panjang, disana mereka dapat melihat keindahan air mancur di tengah taman kota itu.


"om, aku beli permen kapas dulu."


"biar aku saja yang beli."


"no, aku gak mau wanita-wanita itu melihat om dengan tatapan memuja." karin meninggalkan aksa yang terus memandanginya.


terimakasih, sudah hadir dalam hidup abu-abuku. sekarang, hari-hariku akan lebih berwarna dengan kamu disampingku. lirih aksa


"om mau?." karin menyodorkan permen kapasnya. aksa melihat karin memasukkan permen kapas ke dalam mulutnya, menikmati kelembutan dan rasa manis dari jajanan yang berasal dari gula itu.


aksa menggeleng pelan, sepertinya otaknya mulai travelling entah ke planet mana. padahal hanya mengunyah permen kapas, kenapa bibir mungil karin terlihat begitu seksi?


"sayang. jangan panggil aku om!."


"kenapa?." bukankah karin sudah terbiasa dengan panggilan itu. dan selama ini aksa tidak pernah protes. kenapa memintanya untuk tidak memanggilnya om?


"sekarang kan kita sudah menjadi sepasang kekasih. bisakah kamu mengganti panggilanmu?."


karin terlihat berpikir sejenak. mungkin benar apa yang aksa katakan. kalau dia masih memanggilnya dengan sebutan om, bisa jadi orang lain akan menganggap kalau dia keponakan aksa bukan kekasihnya.


"honey? tidak, tidak panggilan itu terdengar aneh." ucap karin menggeleng


"bee? itukan panggilan kak arsyi untuk kak ramon." ucapnya lagi


"baby? tidak, om aksa kan bukan bayi." ucapnya kembali menggeleng sambil meletakkan jari telunjuk di dagunya.


aksa ikut kebingungan mendengar celotehan karin.


"cukup panggil aku sayang,"


"not bad." karin mengangguk setuju sambil lalu menghabiskan permen kapasnya. menjilat jari-jarinya yang sedikit lengket. lagi-lagi aksa menelan susah salivanya. apa karin tidak tau kalau kegiatannya itu memancing hasrat aksa.


shit! apa dia sengaja melakukannya? apa dia sengaja menggodaku? lama-lama aku bisa gila! geram aksa pelan.


"sayang." aksa menggenggam tangan karin lembut.


"iya sayang." jawab karin tak kalah lembutnya.

__ADS_1


astaga!!! bahkan suaranya saja terdengar begitu seksi. batin aksa


"besok ke KUA yuk!!!"


__ADS_2