
"hei, bangun." arga menepuk pipi jasmine.
"hei, kamu kalo gak bisa renang kenapa pake acara nyeburin diri segala? bosen idup?." arga berdecak frustasi. pasalnya dia tidak melihat seorangpun di dekat danau.
"apa aku kasih nafas buatan aja ya?." arga memperhatikan setiap inci bagian wajah cantik jasmine, bulu mata yang terlihat sangat lentik saat tertutup. hidung mancung dan bibir tipis membuat dia terlihat sangat cantik.
"tapi kenapa dia kurus banget ya? padahal kalo gemukan dikit pasti tambah cantik." arga langsung mendekatkan bibirnya ke wajah jasmine.
"uhuuuuk uhuuuuk."
"astaga!!! basah dah ni muka." arga mengusap wajahnya, dan melihat jasmine mulai mengerjapkan kedua matanya.
"eugh!."
"apa ada yang sakit?." walaupun arga sangat kesal kepada jasmine tapi dia tidak boleh egois, dia harus menolong pasien.
jasmine hanya menggelengkan kepalanya, dan kembali menutup matanya. tapi dengan cepat arga menepuk kembali kedua pipi jasmine agar dia tetap sadar. tanpa berpikir panjang arga langsung membopong jasmine menuju mobilnya.
❤❤❤❤❤
perusahaan hudaverdi
"hai bro, gimana rasanya jadi pengantin baru."
"ck, gak bisa diungkapin pake kata kata deh. makanya cepet nikah lo biar tau rasanya."
"nunggu kinan siap."
"gak usah lama lama kalian pacarannya. eh nyet, akdhan kenapa bisa masuk perusahaan?."
"lo jangan nyalahin gue, lo numpukin semua pekerjaan kantor ke gue. lo asyik di ranjang, gue disini kebingungan. lagian kan lo udah masrahin semua ke gue. kita kesampingkan dulu perasaan akdhan, lagian itu udah dulu. akdhan punya potensi bagus bro."
aksa kembali pusing mendengar penjelasan riko yang terdengar sangat menyukai kinerja akdhan. diapun berdiri dan pergi ke jendela. bukan lagi pusing, tapi aksa merasa bertambah pusing saat dirinya seperti melihat karin dan akdhan di bawah sana sedang mengantri membeli cilok.
"nyet, sini!."
"apaan?." rikopun mengikuti aksa melihat ke arah yang dilihatnya.
"itu karin kan?."
"yang mana? gak keliatan gue, jauh banget ini jaraknya."
"itu yang pake jas item. dan disampingnya itu bukannya si cecunguk itu?." aksa menunjuk segerombolan manusia yang terlihat sangat kecil dari atas.
"gak tau juga, lagian kenapa? biarinlah mereka beli cilok ini kan jam istirahat."
"bukan itu masalahnya monyet!." aksa segera bergegas keluar ruangan, seandainya melompat tidak membahayakan nyawanya mungkin dia akan melompat dari lantai paling atas gedung tinggi itu.
"selamat siang tuan aksa." sapaan seorang klien membuat aksa menghentikan langkahnya. sebenarnya sangat malas untuk berhenti dan berbincang dengan klien satu ini, tapibapa boleh buat. dia harus tetap bersikap profesional.
"selamat siang tuan ariel."
"sepertinya anda sangat terburu-buru?."
"iya, eum sebenarnya tidak."
"kalau begitu, bisakah kita berbicara di ruangan anda?."
__ADS_1
"baik, tentu saja."
aksa mempersilahkan ariel untuk berjalan beriringan dengannya.
"tuan, "
"panggil saja saya aksa, sepertinya umur kita tidak terlalu jauh berbeda."
"baiklah. oh ya, dimana nona karin?."
"karin?." aksa mengulang pertanyaan ariel, apa dia salah dengar? pria ini menanyakan istrinya. tapi sayangnya aksa tidak bisa mengakui karin karena permintaan karin yang ingin menutupi status pernikahan mereka.
"iya, karin. apa dia masuk hari ini?."
"sepertinya iya. apa ada yang ingin anda bicarakan?."
"em, aku ingin berterima kasih kepadanya."
aksa menghentikan langkah kakinya, apa mereka saling mengenal dari dulu?
"kenapa anda berhenti?."
"tidak, mari silahkan."
"saya ingin merekrut karin ke perusahaan saya."
ucap ariel
"jangan bercanda tuan!."
"apa saya terlihat bercanda?."
"tidak, lebih tepatnya karin pernah menolong hidup saya. mungkin dia lupa, tapi tidak dengan saya. sampai kapanpun saya akan selalu mengingatnya. bertahun tahun saya mencarinya." ucap ariel menerawang.
aksa mengepalkan kedua tangannya, andai dia gegabah. dia bisa saja memukul habis wajah pria yang sudah beristri ini.
"bukankah anda memiliki istri?."
"ya, tapi hubungan kami saat ini merenggang. biasalah! hasil perjodohan."
"oh, saya juga menikah karena dijodohkan."
"benarkah? bagaimana rasanya? apa kalian sering bertengkar?."
"tidak, justru kami jarang sekali bertengkar. bisa dibilang tidak pernah." aksa sedikit menyindir
"wah... hebat. istri anda pasti wanita yang mengasyikkan. istri saya membosankan. kehidupannya sangat datar, tidak asyik."
beberapa menit berlalu, aksa menyuruh karin untuk datang ke ruangannya.
"selamat siang pak."
"siang." tercetak jelas senyum kebahagiaan dari bibir ariel saat melihat karin masuk ke ruangan aksa.
"duduk." ucap aksa
"selamat siang rin." sapa ariel
__ADS_1
"selamat siang pak."
"ada yang ingin saya bicarakan, pak aksa, bisakah saya berbicara empat mata dengan karin?."
meskipun merasa keberatan aksa tetap mempersilahkan mereka berbicara, sedangkan dia memilih untuk duduk di kursinya. dengan jarak yang begitu jauh, aksa tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
tapi memang terlihat sangat jelas kalau ariel memiliki kekaguman kepada istrinya itu. sebenarnya apa yang ada di fikiran ariel? dia mengatakan kalau hubungan pernikahannya dengan jasmine merenggang, dan sekarang malah mendekati karin.
aksa merasa frustasi karena tak kunjung mendapat jawaban, berpura-pura konsentarasipun percuma.
"karin, sebelum ini kita pernah bertemu. terimakasih sudah menolong hidup saya."
"ma'af, bapak sedang membicarakan...?."
"kejadian empat tahun lalu di semarang."
"lalu hubungannya dengan saya?." karin tetap tak mengerti
"kamu ingat pria yang kamu tolong di samping mol XX? pria dengan luka di pergelangan tangan."
karin menutup mulut, saking terkejutnya. sempitnya dunia ini, pria yang empat tahun lalu terduduk lemas tak berdaya dengan sayatan luka di pergelangan tangannya. pria yang terlihat sangat putus asa dengan hidupnya.
"kamu sudah mengingatnya?."
"bagaimana bisa?."
"aku mencarimu, bahkan aku bolak balik ke semarang berharap bisa bertemu kembali denganmu. tapi takdir malah mempertemukan kita di kantor ini."
"apa anda baik-baik saja?."
"aku baik-baik saja, semua manusia punya masalah. meskipun kita tidak merasakan masalah mereka, tapi sekecil apapun masalah kita. kita punya cara untuk melewatinya."
"itu..."
"iya, itu adalah ucapan yang kamu katakan kepadaku saat itu. apa kamu masih ingat?."
"iya."
"terimakasih rin, sudah membawaku dengan cepat ke rumah sakit. gadis dengan tubuh mungil sepertimu, bahkan waktu itu sudah larut malam."
"iya pak, sama-sama."
"sebagai ucapan terima kasihku, maukah kamu makan malam bersamaku?."
"ma'af pak, saya tidak bisa."
"apa kamu ada acara malam ini?."
"tidak, tapi saya harus ijin..."
"karin, riko sudah menunggumu di ruangannya."
"pak riko?." tanya karin heran, sepertinya dia tidak ada janji dengan pak riko.
"iya. ada berkas yang harus kamu lihat. ma'af pak ariel sepertinya karin harus segera pergi."
"tidak masalah, karin ini adalah kartu namaku. aku berharap kamu menghubungiku nanti." karin melihat kearah aksa yang sudah memasang wajah masam. karena merasa tidak enak, karin mengangguk dan pergi.
__ADS_1
"kalau begitu saya pamit dulu." ariel segera keluar berniat untuk mengejar karin, namun karin sudah tidak terlihat.
"dasar pria bermuka dua!." umpat aksa kesal