
"ada apa dengannya", Arsyi melihat kedatangan Aksa bersama karin, aksa terlihat mengawinkan alisnya dan sedang berada dalam mood yang buruk
"entahlah. daritadi dia tidak mau berbicara." karin menghampiri arsyi dan duduk disebelahnya.
"apa dia mengatakan sesuatu tentang aku dan ramon?", karin menggeleng
"kak, apa aku boleh bertanya sesuatu?".
"tanyakanlah!",
"sebenarnya kesalah pahaman apa yang terjadi diantara mereka berdua?",
"hahh", arsyi menghela nafasnya.
"ceritakan padaku mungkin aku bisa membantumu kak!", arsyi mengangguk
"sebenarnya mereka dua sahabat dari dulu. ramon sering datang kesini, dia mengenalku sebagai adik sahabatnya. seiring berjalannya waktu, kami saling dekat. entah kapan perasaan itu tumbuh, aku dan ramon saling mencintai".
"akhirnya kami memutuskan untuk berpacaran, kak aksa awalnya sedikit menentang hubunganku dengannya karena dia tidak mau jika terjadi suatu hal buruk antara kami, maka akan merusak hubungan persahabatannya"
"aku dan ramon yakin bahwa kami tidak akan melakukan hal buruk apapun, namun ternyata seseorang menjebak ramon. pesta lajang malam itu menjadi malam buruk bagi kami. aku tidak tau persis apa yang terjadi. yang aku ingat seseorang menumpahkan minuman ke bajuku".
"sebelum itu ada seorang pelayan yang memberikan minuman kepadaku, tanpa curiga aku langsung meneguknya. setelah itu aku tidak mengingat apapun".
"keesokan harinya saat aku terbangun, kak aksa sudah ada di kamarku, dengan raut wajah yang tidak bersahabat dia menyuruhku untuk memutuskan hubunganku dengan ramon."
"dia mengatakan bahwa seseorang memperlihatkan rekaman video sebelum kak aksa datang ke kamar hotel malam itu."
setelah menceritakan panjang lebar kepada karin, arsyi berharap karin bisa membantunya meyakinkan aksa bahwa malam itu tidak terjadi apapun antara dia dan ramon. bahkan arsyi bangun dalam keadaan baik baik saja. tidak kurang satu apapun.
"kak arsyi sabar ya, lambat laun om pasti akan tau kalau semua ini hanya kesalah pahaman. aku akan membantumu sebisaku kak",
"terimakasih rin", arsyi memeluk karin.
karin segera pergi ke atas sampai didepan kamar aksa, karin ingin bertanya padanya. apa dia melakukan kesalahan tadi? kenapa tiba-tiba mendiamkannya?
"masa bodoh, biarin ajalah! lagian gue gak salah apa-apa kok". karin pergi ke kamarnya dan segera beristirahat sebelum menjalankan rencananya besok.
pagi ini karin bangun dengan semangat menggebu-gebu rentetan rencana sudah disusunnya untuk membantu arsyi. memakai rok pendek selutut, sweater turtle neck dan rambut diikat sedikit keatas.
"pakai lipgloss sedikit", dioleskannya lipgloss pink untuk sentuhan make up terahirnya.
saat karin membuka pintu kamarnya kebetulan aksa juga sedang menutup pintu kamarnya untuk pergi bekerja. dilihatnya penampilan karin pagi ini, biasanya karin menggunakan celana jeans dan tidak pernah menggerai rambutnya.
'apa yang dia pakai di bibirnya itu? kalau saja tadi malam bukan karena bersin sialan itu, pasti aku sudah mencium bibir mungilnya'
"apa ada yang salah dengan penampilanku om?" karin melihat aksa yang memandangnya dari atas sampai bawah.
"sangat jelek", Aksa berjalan mendahului karin yang tidak beranjak sedikitpun dan hanya terbengong karena dikatakan jelek.
'dasar om tua nyebelin! sebenarnya dia itu kenapa sih'
sampai dibawah mama, papa dan arsyi sudah berada di ruang makan.
"wah,,, anak mama cantik sekali", mama erin memuji karin yang berpenampilan beda hari ini. yang dipuji hanya tersenyum dengan pipi merona.
"terimakasih ma",
__ADS_1
"sa, kantor kamu sama karin searah kan?"
"hm"
"kalau begitu kamu ikut aksa aja rin, mama mau minta anter mang ucup arisan. kamu tidak keberatan kan?"
"iya ma", karin melirik aksa yang sama sekali tidak melihatnya. aksa segera berdiri dan berjalan keluar. karin mengekori aksa ke mobil.
"om," karin berbalik menghadap aksa
"hm",
"sebelum om memergoki kak arsyi dan kak ramon, apa ada seseorang yang memperlihatkan video kepada om?" aksa mengangguk
"sebenarnya apa isi video itu om?", aksa melirik karin
"om, jawab dong! kalo om gak jawab gimana aku mau bantu kak arsyi?". karin memberengut kesal
"kamu belum cukup umur". karin langsung menutup mulutnya yang tiba-tiba menganga
"a... apa.. itu video?astaga...."
"apa?", tanya aksa
"anu?",
"anu apa?", aksa menggoda karin
"ish, om. apa itu video anu?".
"dasar om mesum!", karin memukul bahu aksa
"hahahhaha, lagi pula apa yang akan kamu lakukan?". tanya aksa
"aku punya rencana dan aku akan meminta bantuan kak ramon", karin tersenyum
"kenapa ramon?". aksa tak terima
"kenapa masih bertanya? tentu karena yang dijebak kak ramon".
"aku bisa menyuruh anak buahku untuk menemukan bukti itu".
"kenapa om tidak menyuruh mereka dari dulu? kenapa malah membiarkan kesalahpahaman terjadi antara om dan kak ramon?", karin meninggikan suaranya
'bukan itu, tapi karena clara wanita ular. agak sulit menemukan bukti itu.'
"apa kamu berpenampilan seperti untuk bertemu ramon?"
"tentu saja tidak", aksa bernafas lega
"aku akan bertemu akdhan", karin nyengir
'aku kira dia tidak akan menemui cecunguk itu. apa mereka mau nonton seperti rencananya tadi malam?'
"bukankah harusnya kamu kuliah dengan benar, kenapa malah mau jalan, nonton gak jelas bareng dia!". karin mendekatkan wajahnya kesamping aksa yang fokus mengemudi
"om tau darimana kalau aku mau nonton bareng akdhan?",
__ADS_1
"berhentilah menatapku!", perintah aksa
"apa om mencurigai seseorang?". aksa mengangguk
"apa dia....?", karin menggantung pertanyaannya
"kenapa tidak diteruskan?",
"takut om marah". jawab karin
"lanjutkan pertanyaanmu".
"apa dia clara pacar om?", karin bertanya dengan suara nyaris tak terdengar. aksapun mengangguk
"jadi, alasan om tidak mencari bukti itu karena om takut kalau clara yang benar benar melakukannya?". terselip nada kekecewaan dalam pertanyaan karin.
"kenapa kamu menyimpulkan seperti itu? aku pacaran dengannya karena aku juga ingin mendapatkan bukti".
"berarti om tidak mencintainya?", aksa menggeleng
"aku mencintai seseorang".
'apa om masih mencintai jasmine?'
sayangnya pertanyaan itu hanya terbesit dalam pikiran karin. setelah itu tidak ada satupun diantara mereka yang berbicara lagi.
tidak terasa mereka sampai didepan kampus karinpun segera membuka seatbeltnya
"rin", karin pun menoleh ke arah aksa
"jangan berpenampilan seperti itu lagi hanya untuk bertemu teman priamu". karin hanya mengangkat kedua alisnya
'apa aku tidak salah dengar? tapi kenapa?'
"jangan minta tolong ramon untuk membantumu menemukan bukti itu. bisakah aku saja yang mencari bukti itu?"
"aku sudah berjanji pada kak arsyi aku akan membantunya". jawab karin
"aku yang akan membantumu dan jangan pernah berpikir untuk meminta bantuan pria lain".
"kenapa?".
"karena aku....", karin tiba tiba mendekatkan wajahnya membuat aksa menutup kedua matanya, hembusan nafas karin mengenai wajahnya. sungguh jantung aksa berdetak tak menentu.
"kenapa om merem?",
"apa yang kamu lakukan barusan?".
"aku mengambil bulu mata om yang jatuh". karin tanpa rasa bersalahnya memberikan bulu mata aksa yang sekarang berada di ujung jarinya.
'shit, aku kira dia mau menciumku' aksa memukul klakson mobilnya
"sekarang turunlah!", aksa ketus
"apa om datang bulan? dari tadi malam marah, lalu paginya tidak, sekarang om marah lagi." karin segera turun dari mobil aksa.
"astaga.. benar benar polos!" aksapun melajukan mobilnya.
__ADS_1