Jangan Panggil Aku Om!

Jangan Panggil Aku Om!
Bukan Pria Baik


__ADS_3

hari jum'at siang, entah ada angin apa pak arya datang ke perusahaan. tidak seperti biasanya dia akan diam di rumah menghabiskan waktu bersama istri kesayangannya, mama erin.


"om arya?." riko gelapan pasalnya clara masih ada di ruangan aksa.


"hai rik, dimana bos mu?."


"sedang keluar." jawab riko gagap


"lalu kamu? kenapa kamu tidak ikut bersamanya?." pak arya menaikkan sebelah alisnya saat menangkap gelagat riko yang tidak seperti biasanya.


"aku... aku sedang menemani shinta om." riko menunjuk shinta yang diam termangu.


"ikut denganku!." pak arya hendak ke ruangan aksa, namun dengan cepak riko memegang handel pintunya.


"om di ruanganku saja!."


"apa yang kalian sembunyikan?."


glek. riko hanya mampu menelan salivanya, bukan hal mudah menyembunyikan sesuatu dari keluarga hudaverdi. hanya melihat raut wajahnya saja, dengan mudah pak arya dapat menebak kalau riko menyembunyikan sesuatu darinya.


"om?."


"katakan, atau aku akan..." pak arya kenal betul dengan riko, dia akan takut saat dirinya mengancam terlebih mengatakan akan memberi tahukan kepada tante erin.


"baiklah, ayo om ikut ke ruanganku dulu." pak arya mengikuti riko ke ruangannya.


"langsung saja rik, ceritakan secara rinci. apa aksa melakukan hal bodoh lagi?."


aksa memberitahu riko untuk tidak menceritakan kepada siapapun. perihal rencananya bersama karin untuk membongkar kebusukan clara yang sudah berani menjebak adiknya arsyi dan sahabatnya Ramon.


entah nasibnya yang malang atau memang insting seorang ayah yang kuat, hari ini mau tidak mau, bisa tidak bisa, riko harus menceritakannya kepada pak arya.


"om, biarkan saja aksa dan karin menyelesaikan masalah ini."


"tentu, disini cinta mereka akan diuji. akan ada rasa cemburu, akan ada cekcok atau bahkan bisa saja mereka saling salah paham. tapi kalau dilihat dari sikap calon menantuku, dia bisa menguasai emosinya dan bisa berpikir jernih." pak arya tersenyum mengingat karin, sikap baik, berani dan juga tidak mudah tertindas. pak arya yakin kalau karin bisa menyeimbangi aksa.


"lalu bagaimana dengan clara? saat ini dia sedang di ruangan aksa."


"kenapa kamu membiarkannya sendiri disana? bagaimana kalau dia mengambil kesempatan dalam hal ini." ucapan pak arya hanya disambut oleh senyuman riko


"om gak usah hawatir, seluruh ruangan aksa sudah aku taruk cctv dan kita bisa memantaunya dari sini." riko menunjukkan layar laptop yang sedang menyala. terlihat clara yang beberapa kali melihat jam tangannya.


"kerja bagus, ayo kita kesana!". mereka berdua segera pergi ke ruangan aksa. clara yang melihat pak arya masuk ke ruangan aksa langsung berdiri dan membenarkan pakaiannya.

__ADS_1


"selamat siang om." clara bersikap sangat manis dan sopan untuk menarik hati pak arya.


"siang, apa kamu menunggu aksa?."


"iya om." clara mengangguk tersenyum.


"sebentar lagi saya akan kedatangan tamu. kebetulan ruangan saya sedang renovasi, bisakah saya menggunakan ruangan aksa?."


"tentu om, kalau begitu saya permisi." clara segera keluar dari ruangan aksa, sebenarnya dia sangat kesal karena pak arya seperti sedang mengusirnya tapi semua itu harus ia tahan agar tidak terkesan melawan calon mertua. sedangkan riko langsung tertawa terbahak-bahak.


"akting om keren!." riko mengacungkan dua jempolnya


"siapa dulu, pak arya!!! gunakan cara halus untuk mengusir wanita seperti dia." ucap pak arya bangga.


"ck, pantes aksa pernah jadi playboy. bapaknya pinter banget ngelesnya." mereka berdua tertawa.


clara beberapa kali menghubungi aksa, namun pria itu tak kunjung mengangkatnya. bertanya kepada shintapun percuma, sekretaris aksa itupun tidak tau kemana bosnya itu pergi.


diatas rooftop..


"aku kenapa?."


"a..apa... abang..." karin jadi keki sendiri, bukankah harusnya dia marah kepada aksa? tidak, dia harus mencari tahu dulu kebenarannya. mereka sudah sepakat untuk saling terbuka, untuk saling menghargai perasaan masing-masing.


"ada apa hm?." aksa melonggarkan pelukannya dan menatap kedua bola mata indah yang juga sedang menatapnya. sedangkan karin, langsung menunduk dan melepaskan tangan aksa yang masih melingkar di pinggang karin. membuat aksa kembali meraih pinggang ramping itu dan semakin mengeratkan pelukannya.


"abang jangan gini,"


"sayang, katakan ada apa? jangan ragu, anggap saja aku teman curhat kamu."


"hm, oke. bagaimana kalau kita punya pacar terus pacar kita ternyata udah gak perjaka?." karin mulai memberanikan diri untuk bertanya.


"putusin aja, cari aja yang lain." ucap aksa spontan


"sungguh?."


"hm, tapi sebenarnya tidak ada masalah walaupun dia sudah tidak perjaka lagi. yang penting dia tulus mencintai wanitanya."


"tapi kan sayang, si cewek masih orisinil." ucap karin memanyunkan mulutnya.


cup


aksa sekilas mengecup bibir mungil karin.

__ADS_1


"abang..."


"hehehe, dikit."


"abang, bagaimana seandainya kita dikecewakan oleh orang yang kita cintai? apa kita harus menjauh? atau kita tetap bisa dekat dengannya, tapi saat dekat kita malah merasa sakit hati." aksa menatap manik indah karin, dia tahu betul ada isarat kesedihan disana.


"apa yang clara katakan padamu?." karin kembali menunduk.


"sayang, aku tidak pernah menganggap remeh hubungan ini. aku pernah patah hati karena cinta, menyebabkan aku kehilangan arah, kehilangan jati diriku, kehilangan ambisi, kehilangan semangat, bahkan aku pergi menjauh dari kota ini bagai seorang pengecut. beberapa tahun aku lalui dengan banyak wanita, aku berkali kali berpacaran. tapi sekarang aku sadar, aku butuh rumah untuk pulang, dan kamu adalah rumahku." ucap aksa menangkup kedua pipi karin.


"sekarang ceritakan padaku, apa ada yang mengganggumu? aku tidak suka melihat kesedihan di wajahmu."


"berkali-kali berpacaran, apa abang pernah melakukannya?."


"melakukan apa?." aksa mengangkat kedua alisnya


"i.. itu..." karin menjadi salah tingkah.


"berciuman?." tanya aksa sedikit tersenyum.


"bukan.. tapi.. itu."


"itu apa sayang?kamu gak jelas ngomongnya."


"ish, hubungan suami istri, apa abang pernah melakukannya?." tanya karin sedikit membentak. serius, karin benar-benar mempersiapkan mentalnya untuk bertanya hal se intim itu.


"sayang.. kamu kenapa bertanya seperti itu?."


"tinggal jawab aja, iya apa tidak?."


"tentu saja...." jawaban aksa membuat karin langsung memukuli tubuh aksa dengan membabi buta. aksa dengan cepat menangkap kedua tangan karin, menggenggamnya dan meletakkannya diatas paha aksa.


"gak usah sentuh aku!." air mata mulai terlihat di pelupuk mata karin. aksa langsung membawa karin kedalam pelukannya.


"sayang, dengarkan aku! aku tahu clara sudah mempengaruhimu. apa dia mengatakan kalau aku pernah tidur dengannya? apa dia mengatakan kalau aku melakukannya dengannya?." karin mengangguk


"dengarkan aku karina ayu dewi, aku memang bukan pria baik. tapi aku berani bersumpah aku tidak pernah melakukannya dengan wanita manapun. aku menghargai wanita, menjaga kehormatan mereka itu yang selalu aku jaga. aku berpacaran masih dibatas wajar, berpegangan tangan, nonton bareng semacam itu. bahkan aku jarang melakukan k*ss dengan mereka." ucap aksa panjang lebar


"aku masih p*rjaka, tapi aku akan melepaskannya saat bersamamu." aksa terkekeh


"abang mesum!!!!!"


"tapi aku serius, apa kamu membuktikannya sekarang?." karin melotot mendengar pertanyaan aksa.

__ADS_1


__ADS_2