
Leon yang saat itu sedang miting tidak tertarik untuk membuka pesan karna proyek ini penting baginya .
Sekitar pukul 11.21 mendekati makan siang dan miting sudah selesai Leon beranjak ke ruangannya dan mengatakan pada Kevin kalau tidak ada yang boleh masuk karna dia ingin istirahat.
Didalam ruangannya terdapat kamar khusus buat dia saat ingin tidur, Leon merebahkan tubuhnya di kasur saat hendak memejamkan mata dia meraih hpnya dan melihat pesan yang masuk tadi.
Matanya terbelalak melihat foto itu, dia meraih kemeja yang barusan ia lepas dan memakai sepatunya kembali, tatapannya suram, bahkan saat Leon keluar dari ruangannya Kevin tidak berani mendekat apalagi bicara padanya, Desi yang melihat hal itu merasa puas dan senang karna menurutnya rencananya berhasil, ekspresinya itu di lihat jelas oleh Maya karna tempat duduknya tidak berjauhan.
"Akhirnya kali ini aku bisa puas melihatnya, dimaki habis-habisan bahkan aku sendiri tidak menyangka bahwa gadis miskin seperti itu punya hubungan sepesial dengan tuan Leon, aku harus mencari tau" gumam Desi dalam hati dia mengorek informasi dari mana saja tentang hubungan leon, tapi sekeras apapun ia berusaha tidak akan bisa karna semua di tutup rapat oleh Roy.
*****
Leon melaju mobil dengan kecepatan ful entah kenapa melihat foto seperti itu membuat hatinya marah, setiba di rumah sakit Leon langsung menuju kamar Sofi dan bertepatan saat itu Roy sedang membantu Sofi mengikat rambut.
"Sial beraninyaa..!! " cetus Leon tanpa aba -aba menonjok pipi Roy sehingga tersungkur.
"Tuan " pekik Sofi.
"Diam, (Sofi tersentak ketika Leon membentak nya), tidak ku sangka kau tertarik menggoda istri sahabat mu sendiri" pekik Leon.
__ADS_1
"Bang**t , kenapa kau memukulku" pekik Roy.
"Kamu pantas di pukul, beraninya kau menggoda istri sahabatmu" cetus Leon.
"Ada apa ini sofi" ucap Maya yang baru tiba.
"Menggoda apa bahkan aku tidak mengerti maksudmu" jawab Roy, Leon meraih hpnya dan membuka foto yang tadi dikirim Desi.
"Ini bukan bukti " cetus Leon.
"Kau jangan asal-asalan begitu , aku hanya membantunya melepas selang saat dia mau ke toilet" seru Roy.
"Alasan kau pikir aku percaya padamu cetus Leon.
" Aku tidak memata-mataimu seseorang mengirim gambar ini padaku"jelas Leon.
"Dan segampang itu kau percaya, hei Leon itu hanya gambar, bahkan orang asing yang mengirimnya" cetus Roy.
"Aku tidak perduli , yang aku ingin kan kau jujur" cetus Leon.
__ADS_1
"Cukup, " pekik Sofi.
"Tuan anggap aku ini apa, bahkan dengan sebuah gambar saja tuan begini, apa aku di mata tuan itu hanya pelacur yang di pakai sana sini, aku memang miskin tapi aku punya harga diri walau semuanya sudah di rusak, jika tuan beranggapan aku ini seperti itu lantas untuk apa aku di sini " cetus Sofi menarik selang infus dan berlari keluar.
"Kau mau kemana, jika kau berani keluar aku tidak akan memaafkan mu" cetus Leon.
"Kenapa aku harus berharap di maafkan memangnya aku berbuat salah " cetus Sofi yang perlahan melangkah keluar ruangan.
"Dasar bodoh " seru Leon mengejar Sofi, melihat Leon yang mengejarnya Sofi semakin cepat berlari keduanya kejar-kejaran di pinggir jalan hingga akhirnya Leon menangkapnya tepat di depan Cafe.
"Lepas " cetus Sofi dengan nada sedikit berbeda.
"Apanya yang lepas kamu mulai berani melawan ku " cetus Leon, Sofi terdiam.
"Aku ini manusia, punya hati, punya perasaan tidak semua orang kuat, aku gadis rapuh tanpa ayah bisakah kalian menghargai ku sedikit saja" ucap Sofi , Leon mendekap Sofi dari belakang, dan saat itu air mata Sofi menetes mengenai tangan Leon.
"Kau menangis, bodoh, bodoh, bodoh " cetus Leon seraya mendekap Sofi lebih erat, saat itu Sofi merasakan pelukan hangat dari tubuh kekar Leon, pelukan yang selama ini tak ia rasakan hingga tiba -tiba.
"Sofi ".....
__ADS_1
sebuah Suara mengejutkan Sofi dan Leon Keduanya berbalik dan Sofi terbelalak.
" Kak Marsel"