
Sofi kembali fokus pada pekerjaanya walau sesekali dia harus mondar -mandir ke ruangan Leon hanya untuk hal -hal yang tidak penting salah satunya memasangkan dasi, meniup teh panas dan yang lain-lain.
Beberapa saat kemudian tibalah jam makan siang, istirahat yang di nanti -nantikan penghuni kantor di antara tumpukan pekerjaaan.
Tentu saatnya Desi melancarkan aksi, dengan tatapan memelas dan air mata palsu dia berjalan menghampiri Sofi.
"Sofi maaf, maafkan sikapku selama ini" ucap Desi, hal itu tentu membuat Sofi kaget dan bukan hal mudah bagi Desi, karna Sofi tidak gampang tertipu.
"Kau mau apa " cetus Sofi.
"Aku menyadari kesalahanku selama ini padamu, dan aku minta maaaf " ucap Desi.
"Bagus deh kalau kau sadar diri" cetus Sofi mengabaikan Desi.
"Sebagai permintaan maaf ku, aku ingin mengajak mu makan siang kau mau kan" ajak Desi.
"Tidak makasih, aku akan makan dengan Maya" ucap Sofi.
"Sial, tidak mudah membujuknya" batin Desi.
"Kalau begitu kita makan bertiga saja " ucap Desi yang sepertinya mendapatkan ide baru.
"Kau yakin" cetus Maya.
"Tentu" jawab Desi dengan senyum palsunya.
"Jadi gimana Maya " bisik Sofi .
"Aku sih terserah kamu" ucap Maya.
Sofi sedikit ragu, tapi berhubung mereka juga mau makan siang jadi Sofi mengiyakan aja kan Desi.
Mereka bertiga beranjak keluar kantor bersama, kepergian mereka di lihat oleh Kevin yang kebetulan sedang berada di luar.
Desi mengajak Sofi ke suatu tempat sebuah cafe yang letaknya lumayan jauh dari kantor , disini Sofi sedikit curiga kenapa harus ke tempat yang jauh jika di dekat kantor banyak cafe.
"Kita akan kemana? " tanya Sofi.
"Ini ada cafe baru, katanya makanannya sangat enak aku kepingin banget makan di situ " ucap Desi.
"Kau menyembunyikan apa" cetus Sofi mendadak membuat Desi tersentak keringat dingin bercucuran dari wajah Desi membuat Sofi semakin curiga saja.
__ADS_1
"Sebaiknya kita pergi ke tempat biasa "ucap Sofi.
"Tidak, ayolah kalian kenapa tidak percaya padaku aku hanya ingin memperbaiki hubungan dengan kalian "ucap Desi dengan mulut ularnya.
"Tapi kau bersifat aneh membuatku merasa curiga " ucap Sofi.
"Ahh tenang saja, kita sudah sampai " ucap Desi ketika tiba di sebuah cafe, cafe itu asing sekali buat Sofi bisa di bilang dia tidak pernah ke cafe itu.
Mereka masuk ke dalam duduk tepat di dekat jendela memesan makanan, saat hendak makan tiba -tiba Desi mengaduh kesakitan di bagian perut.
" Aduh perutku sakit banget "cetus Desi.
" Kenapa lagi kau"ucap Maya.
"Gak tau perut aku sakit banget " ucap Desi.
"Maya temani aku ke toilet sebentar" ucap Desi, dengan polosnya Maya mengaguk dan menemani Desi ke toilet, ketika Maya dan Desi pergi ke toilet di situlah mr, xxx masuk, rupanya saat perjalanan ke cafe Desi sudah mengabari mr, xxx untuk menyekap Sofi saat dia ke toilet bersama Maya , saat itu cafe dalam ke adaan sepi , mr, xxx pun melancarkan aksinya dengan lancar.
Mr, xxx membekap mulut Sofi dengan kain yang sudah di beri obat bius, beberapa saat kemudian Sofi pun jatuh, pingsan.
Setelah ke adaan dirasa aman Desi dengan tingkah bodohnya mengajak Maya keluar.
Maya yang menyadari Sofi tidak ada pun panik dan menatap tajam ke arah Desi.
"Aku tidak tau apa -apa, aku kan di toilet dengan kamu" cetus Desi.
Seketika Maya pun berlari keluar menghubungi Leon berteriak panik.
"Tuan tolong, Sofi menghilang" ucap Maya.
"Apa!!"seru Leon duanya terdengar jelas sekali.
#####
"Temukan dia secepat nya jika tidak mati kalian di tangan ku" ucap Leon seraya melepas jasnya dan melipat bagian lengan kemeja, melonggarkan dasinya, Kevin yang melihat itu sudah sangat -sangat paham, kalau Leon akan turun tangan.
Mobil sport warna merah diambil alih oleh Leon, dia menuju tempat dimana Maya memberitahunya nampak saat ia tiba di cafe itu, Desi dengan wajah sok sedih menghampiri Leon dan memeluknya (yaelah uler kayak cicak aja asal nempel).
"Tuan aku takut" ucap Desi berharap Leon akan simpati, tapi tidak mungkin Leon justru menarik tangannya ke arah mobil.
"Tunjukan dimana dia " ucap Leon.
__ADS_1
"Maksud tuan siapa " cetus nya.
"Gak usah buang-buang waktu, dimana dia " ucap Leon.
"Aku tidak tau di mana dia, bukan aku yang melakukannya" ucap Desi.
"Aku hanya bertanya dimana dia bukan bertanya siapa yang melakukannya " ucap Leon meraih HP Desi.
Apa yang Leon ambil sangat tepat semua percakapan di baca jelas oleh Leon,setelah membaca sampai selesai Leon mencengkram leher Desi menghempas ke arah Kevin.
"Urus dia, siksa dia, , lalu tanyakan padanya ingin mati dengan cara apa" ucap Leon seraya beranjak pergi ke sebuah lokasi dimana mr, xxx membawa Sofi.
Singkat cerita tibalah Leon di sebuah Hotel, datang membawa rombongan oh tidak, Leon datang sendiri tangan kosong tanpa senjata, berjalan masuk ke dalam hotel.
"Dimana kamar pria ini" ucap Leon menunjukan foto mr, xxx"ucap Leon.
"Di lantai 3 tuan "
Wajah suram, muka datar, mata biru menyala langkah mengetarkan itu yang Leon lakukan saat ini, siapa berada di dekatnya apa lagi menghalanginya mungkin akan melayang dalam sekali pukul.
Lantai 3 , tepat dimana Leon berdiri saat itu, didepan sebuah ruangan ada 4 orang berjaga tubuhnya memang jauh lebih besar dari Leon, tapi tidak punya skil apa -apa, dengan cepat Leon menumbangkan ke 4 orang itu.
Suara gaduh itu terdengar di telinga mr, xxx membuatnya mengintip ke luar melalui lubang pintu, matanya melotot melihat Ajudannya di tumbangkan dalam sekali pukul, dia pun panik meninggalkan Sofi yang masih pingsan dengan baju yang sudah terbuka sedikit, bersembunyi di balik lemari.
Brukk..!!!
Pintu roboh dengan sekali tendang, pandangan Leon tertuju pada Sofi yang tergeletak di kasur, bergegas dia menghampiri melihat keadaan baju Sofi sedikit terbuka membuat Leon panik, tapi dia bukan orang gegabah untuk memastikan dia memasukan jarinya ke dalam Sofi, tidak ada cairan apapun di situ Leon bernafas lega melihat istrinya tidak di nodai orang lain.
berhenti disitu tentu tidak Leon mencari dimana mr, xxx dia yakin orang itu masih di dalam, hingga ia melihatnya.
"Ingin kau yang keluar sendiri atau aku yang kesitu " ucap Leon.
Dengan langkah gemeteran mr, xxx berjalan menghampiri Leon yang duduk di kasur, mr, xxx terduduk di kaki Leon dengan cepat Leon melancarkan tendangannya tepat di kepala mr, xxx dan dia pingsan.
Wajahnya tak lagi seram dia menggendong Sofi keluar hotel, hal yang di lakukan menjadi pusat perhatian, bahkan menjadi berita saat itu.
Leon memasukan Sofi ke dalam mobil dan melaju mobil pulang ke rumah pada saat itu jam menunjukan pukul 14.34.
Kevin datang bersama dengan Maya , Maya yang panik menghampiri Sofi yang di rebahkan di sofa dan berusaha membangunkannya.
"Aku ambilkan air dulu " ucap Leon seraya berjalan menuju dapur, setiba di dapur Leon membenturkan kepalanya di kulkas.
__ADS_1
"Hampir saja" cetus nya.
thor:kang bucin Leon mulai panik nih, bakalan seru deh kalau udah sama -sama bucin, biarkan semua mengalir mengikuti alurnya