JANGAN SENTUH WANITA KU

JANGAN SENTUH WANITA KU
perhatian


__ADS_3

Leon terdiam tak berkutik di hadapan Sofi, sedangkan sofi terdiam malu lamunan Leon buyar ketika mendengar ketukan pintu dari luar, dia mengintip dari jendela nampak Kevin dan 2 pengawalnya.


"Apa" seru Leon.


"Sarapan hari ini mau dia mana tuan " tanya kevin , Leon terdiam matanya menyipit memikirkan sesuatu, lalu melirik ke arah dapur dan tersenyum tipis.


"Aku akan masak sendiri kalian cari sarapan untuk kalian saja " cetus nya yang langsung menutup pintu.


"Ahh sopan sekali tuanku" batin kevin.


Leon kembali ke kamar melanjutkan aktifitas tadi yah mengganti baju Sofi, tanpa ragu lagi Leon melepas semua baju kecuali bra dan dalaman Sofi, lalu berbalik dan mencari baju Sofi di lemari memasangkannya kembali.


Setelah urusan baju selesai Leon beralih ke dapur melihat isi kulkas masih ada stok sayur dan lauk, tercetus ide membuat sarapan nikmat di pikiran Leon.


Sofi yang penasaran mengintip sedikit di balik pintu, melihat tuan ceo yang ia kenal sebagai monster galak sedang memasak dengan tatapan sayu.


"Jangan hanya berdiri disitu cepat kemari dan duduk " seru Leon yang ternyata menyadari kalau Sofi dari tadi memandangi nya dari balik pintu, gelagapan Sofi masuk ke dapur seolah tidak melakukan kesalahan apapun dan duduk di kursi yang tersedia di dapur, hanya ada 2 kursi karna selama ini cuma di pakai dia dan Maya.


"Jadi kau tinggal sendirian " tanya Leon seraya mengautkan nasi untuk Sofi, Sofi hanya menggeleng kepala, Leon menaikan alisnya.


"Lalu dengan siapa? " tanyanya lagi.


"Maya " jawab Sofi, rupanya ia masih merasa canggung.


"Lalu dimana dia sekarang? " tanya Leon.


"Dia pulang ke rumah ibunya selama 5 hari " jawab Sofi.


"Ooooo " serunya seraya duduk di hadapan Sofi yang pipinya masih memerah, Leon menyerit ketika melihat Sofi yang tak kunjung makan.

__ADS_1


"Kenapa malah diem cepat makan " seru Leon, yang tiba -tiba terdiam karna teringat kalau tangan Sofi masih luka.


"ck.. " decak Leon yang menarik kursinya mendekat ke arah Sofi.


"Aaa.... " seru Leon menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Sofi, perlahan Sofi membuka mulutnya dan melahap makanan itu, ia memejamkan mata sambil mulutnya berdecap mencoba merasakan masakan itu hingga ia terbelalak karna makannya enak.


"Enak.. " tanya Leon.


"Bagus cepat selesaikan dan kita akan ke dokter memeriksa tanganmu itu " seru Leon yang melanjutkan suapan demi suapan hingga makanan di meja habis.


"Ahhh kenyang seru Sofi.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Leon yang tadinya di dapur beranjak ke depan dan mengintip dari jendela nampak itu adalah Kevin, ia datang membawakan baju ganti untuk Leon karna baju yang ia pakai sudah kotor.


" Ini tuan ".


Belum selesai Kevin bicara Leon langsung mengambil baju itu dan menutup pintu , bergegas ke kamar mandi dan berganti baju.


"Sial wanita itu " cetus Desi mencengkram hpnya.


#####


Sesampai di rumah sakit beberapa suster menatap ke arah Leon dengan tatapan berbinar binar, tentu saja mereka mengenal Leon, ceo yang masih muda tapi kekayaannya tidak ada yang bisa menyaingi, melihat banyak mata yang menatap ke arahnya membuat Sofi risih dan mendekat ke arah Leon lebih tepatnya bersembunyi di belakangnya.


"Tuan Leon ada yang bisa kami bantu " tanya Suster.


"Berikan aku dokter spesialis kulit terhebat di rumah sakit ini dalam 5 menit jika tidak dapat aku gusur tanah ini" ucap Leon yang langsung duduk di ruang tunggu, para suster pun panik dan mulai menghubungi dokter spesailis kulit terbaik.


"Tu u aan.. " seru suster terbata -bata.

__ADS_1


"Hmm".


"Dokter sudah menunggu di ruangan " jawabnya.


Leon beranjak ke ruangan yang di beritahu suster, nampak seorang dokter laki-laki yang sudah rapi dengan pakaian nya Leon berdecak kesal.


"Memangnya tidak ada dokter perempuan apa " seru Leon berdecak sambil duduk memperhatikan dokter yang mulai mengobati Sofi , nampak Sofi menyerit kesakitan melihat itu Leon langsung berdiri dan menghampiri dokter.


"Bisa gak sih " seru Leon menatap ke arah dokter, keringat dingin bercucuran nampak wajah tertekan dokter saat mengobati Sofi.


Beberapa saat kemudian pengobatan pun selesai, luka Sofi sudah tidak terasa lagi walau masih belum bisa di pakai apa apa tapi sudah tidak perih. Leon menebus obat dan krim penghilang luka harganya lumayan mahal bagi Sofi.


"Mau makan apa ?" tanya Leon.


"Eh ".


"Apanya yg eh aku tanya mau makan apa siang ini" cetus Leon.


"Apa saja " ucap Sofi.


Saat di perjalanan pulang Leon mendapat telfon dari mamanya.


"Leon mama dengar rumah mu kebakaran apa itu benar" tanya Irma.


"Iya ma ".


"Apa kamu terluka " tanya Irma.


"Bukan aku tapi Sofi, tangan terluka karna kebakaran itu " ucap Leon.

__ADS_1


"Kamu ini gimana sih gak bisa jaga calon istrimu sendiri, pokoknya kamu pulang sekarang " cetus Irma yang langsung mematikan telfon, Leon menghela nafas panjang dan langsung memutar mobilnya menuju rumah mamanya.


__ADS_2