
POV Diana
Beberapa bulan terakhir aku mulai merencanakan kepindahanku dan akan membuka praktek di tempat aku dibesarkan. Selain itu ada yang akan aku perjuangkan semoga belum terlambat.
Dan sepertinya terjadi awal yang baik tanpa harus mencari. Tuhan justru mempertemukan aku dengan ibunya. Semoga selalu dimudahkan.
Setelah menginap semalam di rumahnya Tante Rika itupun karena beliau memaksa. Aku pindah ke Apartemen yang di rekomendasikan Jemi.
Di kota ini pun aku punya teman baik bahkan seperti saudara. Aku dah menganggap dia seperti abangku. Kos-kosan ku dekat dengan rumahnya depan kos-kosanku itu ada cafe kecil disanalah tempat kami nongkrong.
Tak ada rahasia diantara aku dan abang. Keterbukaan kami bahkan sampai ke hal pribadi tentang hidup dan keluarga. Dia selalu mensupport apapun begitupun sebaliknya. semalam bahkan kami berjanji akan bertemu. Saat aku menelponnya.
"_____________"
"Halo bang, aku baik bang. Nyindir nih, iya maaf dah lama gak ngabarin. Abang apa kabar?"
"____________"
"Jadi dong, nih aku dah sampe di kota ini"
"____________"
"Serius donk bang, demi masa depan cerah"
"____________"
"Yuk, gimana kalo kita janjian di Cafe Jingga? Aku tunggu disana besok jam 11.00 ya!"
"____________"
Keesokan harinya aku sudah bersiap-siap mau ketemuan sama si abang. Dengan memakai Si merah kuda besi aku meluncur dengan kecepatan standar. Sesampainya di cafe Jingga aku mengedarkan pandangan keseluruh penjuru cafe tapi tak ku temukan sosok abang yang selama ini aku kenal sampai suara panggilan membuat ku berpaling ke arah kanan ujung dekat jedela.
__ADS_1
"Di... Ini sebelah sini"
"Sombong amat lu Di sampe gak ngenalin gue?"
"Bang lo manglingin banget sih? kulitnya tambah bersih dan glowing"
"Glowing matamu picak"
"Tapi abang beneran dah kayak. cowo cowo metroseksual kulit perawatan muka perawatan. gue aja yang cewe kalah bang ma lo!
"Apaan sih lo Di gak asik banget. Apa kabar bestie?" sapa Abang sambil mendekatkan pipinya untuk cipika cipiki. Namun aku mundur dan menolaknya.
"Gak gak boleh bukan muhrim!"
"Sejak kapan lo alim?" Sini Fei terlihat seperti menahan emosi
"Maksudnya Bang?"
"Kita memanng harus berubah ke arah lebih baik Bang harusnya lo dikung dan aminin biar gue istiqoma"
"Alhamdulillah syukru deh kalo gitu gue doain lo dapetin Ustadz ya!"
"Aamiiin eh tapi jangan Ustadz juga karena sekarang gue dah menemukan Cinta gue Bang!"
"Seriusan lo dah ketemu sama si Jeremi teti itu?"
"Jemi Bang iishhh suka ganti ganti seenaknya"
"Iya lah dia emang dah jadian?"
"Belum kita baru ketemu sekali tapi kita kan dan tukeran nomor"
__ADS_1
"Akh baru gitu doank kirain ddah ngajak nikah"
"Ih tapi kan kemajuan doain donk Bang!"
"Gue juga dah doain diri sendiri belum terkabul. masa iya doain lo langsung terkabul!"
"Jangan gitu donk Bang doain yang tulus gitu"
" Iya semmoga cepet di ajak nikah ya!"
"Trus Abang himana kabarnya? Dah punya seseorang?"
"Gue Baik baik Aja Di, Ya tapi tetap sendiri. gue pesimis kalo soal pasangan Di"
"Jangan patah semangat gitu donk Bang. Suatu hari akan ada yang tulus sayang sama lo dan nerima apa adanya"
"Apa ada yang mau nerima jika suaminya disfungsi?" Pelan bahkan seperti bisikan tapi Diana mendengarnya.
"Apa gak di coba berobat keluar negeri?"
"Lo tau sendiri perjuangan gue dan keluarga gue gimana Di"
"Yakin aja Bang Tuhan menciptakan semuanya berpasang-pasangan. Gue juga yakin lo bakalan ada pasangannya yang nerima lo apa adanya!"
"Aamiinin aja Di semoga Alloh mengabukannya"
"Dah lah gak. usah ngomongin gue. ngomongin lo aja Di?
hi Reader janngan lupa ya yang itu... akh jannga pura pura gak tau donk. ya yah itu tuh jejaknya hehehe
Salam dari Jingga😉
__ADS_1