Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri
Bab 10. Berkuliah.


__ADS_3

Malam masih terus berlanjut, entah kenapa tiba-tiba aku merasa haus. Aku pun langsung mengambil gelas yang ada di nakas lalu meneguk air bening itu hingga habis.


Ku lihat jam di ponselku, ternyata masih jam 1 malam. Aku pun kembali berbaring terlentang, menatap langit-langit kamar yang gelap.


Mata ku sulit terpejam, aku pun iseng melirik kesamping. Di sana Alia sudah berubah posisi tidurnya.


Posisinya kini terlentang dengan tangan kiri di atas perut dan tangan kanan di dekat kepala.


Menggemaskan.


Aku pun menghadap kearahnya, jarak kami sangatlah dekat karena dia yang tidak bisa diam jika tidur. Aku tandai itu, dia sangat aktif bergerak saat tidur.


Aku menatap wajahnya yang tertidur dengan tenang, lalu turun ke lehernya yang putih dan mulus dan turun lagi ke bagian yang membuatku menelan ludah.


Bajunya yang seksi menampakkan belahan yang sangat menggoda. Jujur sebagai seorang laki-laki yang normal, aku cukup tergoda dengan tubuhnya.


Hanya saja aku terlalu gengsi.


Ya, aku masih belum mengakuinya sebagai istriku. Aku bahkan tak ingin mencoba menerima dirinya dalam hidupku. Tekad ku untuk bercerai dengannya tetap masih sama. Aku harus lepas darinya karena tak ingin suatu saat nanti aku malah berubah pikiran.


Meski aku tergoda, tapi aku bertekad tak akan menyentuhnya apalagi menerimanya di dalam hidupku.


Aku malu!


Aku pun kembali membelakanginya, tidak sehat jika terus memandanginya seperti itu.


Aku berusaha memejamkan mata dengan membayangkan hal lain selain dirinya.


******


Beberapa hari kemudian.


Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun datang.


Hari Senin.


Kalau biasanya aku tak suka hari Senin, namun, kali ini aku sangat suka hari Senin, karena hari ini aku akan pergi berkuliah setelah di kurung seminggu lebih.


Dengan senyuman termanis sejagat kota aku memakai pakaian yang rapi. Sudah menjadi ciri khas ku berpakaian rapi dan juga wangi, itu semakin menambah kadar ketampanan ku.


Ku lirik dia yang juga tengah berkemas memakai gamis berwarna hitam dan pashmina warna coksu.


Ya dia juga akan pergi kuliah, aku tak peduli!


Tapi sebenarnya aku penasaran dimana dia berkuliah, tapi sepertinya dia berkuliah di tempat yang tak terkenal seperti dugaan pertamaku.


Aku pun langsung meraih tas ku dan kunci mobil. Aku akan bebas, aku akan nongkrong bersama teman-teman ku nanti sepulang kuliah.

__ADS_1


"Gak barengan sama Alia, Za?" Tanya papa.


Hah, Papa seperti tak ingat saja kalau aku mau pernikahan ini di rahasiakan.


"Gak pa, Reza belum siap." Setelah mengatakan itu, aku pun menyalim papa dan mama dan langsung pamit pergi ke kampus.


Kebebasan, aku datang.


Aku pun mengemudi sembari sesekali bersiul. Sungguh hari ini aku benar-benar bahagia.


Sesampainya di kampus, aku tak langsung masuk ke kelas. Aku pun memilih untuk ke kantin menemui teman-teman ku yang sudah berada di kantin beberapa menit yang lalu.


Ini sudah menjadi kebiasaan, sebelum masuk kelas kami memilih ke kantin untuk sekedar berbincang.


Sesampainya aku di kantin, teman-teman ku langsung menyambutku.


"Bahagia banget tuh muka, udah sembuh?" tanya Rian. Aku mengangguk sembari duduk di kursi ku yang memang sudah diatur posisinya.


"Gue bahagia banget hari ini, cepat pesan makanan yang kalian suka, hari ini gue yang traktir," ucapku antusias. Dengan sembari bersorak, mereka pun langsung memesan makanan.


"Bima belum nyampek ya?" tanya ku tak melihat buaya darat yang satu itu.


"Dia udah nyampek, cuma katanya ada urusan bentar ke fakultas pertanian," jawab Rian.


"Ngapain tuh anak ke sana? Memang ada kenalan ya?" tanyaku penasaran. Gak biasanya tuh playboy punya urusan penting.


"Hm, gebetan baru lagi ya? Giliran anak pertanian nih yang di embat," sahut Doni di sambung tawa dari teman-teman ku yang lain.


"Udah ah, jangan bahas dia. Kita makan yuk," ujar Aldo temanku juga.


Kami pun mengganti topik hingga tepat masuk jam kuliah, kami pun bubar dan masuk ke kelas masing-masing.


Kebetulan sekali aku se-jurusan dengan Bima dan sekelas untuk Mk pagi ini.


Ku lihat dia sudah duduk di kelas dengan wajah yang bahagia.


"Gercep banget lo datangnya, gimana gebetan lo?" tanya ku duduk di sampingnya. Kebetulan dosen nya belum masuk, ya namanya juga dosen, kalau telat itu hal biasa.


"Cewek yang gue suka akhirnya kuliah juga, udah semingguan lebih dia gak kelihatan. Gue galau banget tau," jawab Bima seperti bocah yang baru mengenal cinta.


"Anak pertanian?" tanyaku. Sebenarnya aku tak peduli sih, hanya saja ini sekedar basa-basi.


"Iya, jurusan agribisnis. Sumpah, gue tertarik banget sama tuh cewek. Gue harap dia mau kenalan sama gue," jawabnya tak henti-hentinya tersenyum.


"Jadi Lo belum kenalan sama dia?" tanyaku sedikit tertarik. Tak biasanya Bima seperti ini.


Jika laki-laki itu menyukai wanita dan ingin di pacari, pastinya dalam sekejap mata akan dia dapatkan. Tumben yang satu ini agak telat.

__ADS_1


"Gue tau namanya aja dari orang, dia gak mau kenalan sama gue. Maklum, ceweknya pemalu dan juga alim," jawabnya dengan wajah serius.


"Udah berapa lama lo suka sama dia?" tanyaku penasaran.


"Kurang lebih satu bulan, gue gak bisa ajak dia kenalan. Padahal hampir setiap hari gue selalu nungguin dia pulang dan ajak kenalan."


"Tapikan lo bisa pacaran sama cewek lain, Bim. Lo jangan mau ngejar-ngejar cewek yang sok jual mahal gitu," kataku. Kalau aku jadi dia, aku tak akan mau mengejar perempuan seperti itu.


"Gue pacaran sama cewek lain itu cuma sekedar senang-senang doang, tapi kalau gue bisa dapatin dia, gue janji bakalan tobat deh. Gue janji gak bakalan lirik perempuan selain dia," ucap Bima benar-benar membuatku tak habis pikir.


"Semangat ya," ucapku menepuk bahunya.


"Makasih, Za. Gue bakalan semangat kok."


Beberapa menit setelah perbincangan itu, dosen pun akhirnya datang juga. Kami pun melangsungkan proses belajar kami.


******


Setelah selesai mata kuliah, aku pun berjalan menuju lift bersama dengan Bima. Kami akan pergi nongkrong di luar kampus setelah ini.


"Oh ya Bim, nama tuh cewek siapa? Mana tau gue kenal, kan bisa tuh gue bantuin." Aku memang penasaran siapa wanita yang berhasil memikat hati playboy yang satu ini hingga bertekad akan tobat jika bisa mendapatkannya.


"Oh namanya yah. Menurut dari info teman-teman gue, namanya itu Alia. Tapi gue gak tau nama panjangnya," jawabnya membuat aku terdiam sejenak.


Aku menatapnya yang juga menatapku.


"Kenapa, Za?" tanyanya membuyarkan lamunanku.


"Enggak, gue kayak pernah dengar tuh nama." Bukan hanya dengar, tapi aku juga punya istri yang namanya Alia.


Mungkin hanya nama yang sama kan namanya pasaran, lagi pula tak mungkin dia kuliah di sini. Kalaupun benar itu Alia istriku, aku juga tetap tak peduli.


Ya aku tak peduli.


_


_


_


_


_


_


Jika ada typo atau kesalahan, boleh komen yah agar bisa author perbaiki.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2