Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri
Bab 50. Jalan pintas yang salah.


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Bima pun di tetapkan menjadi tersangkanya berdasarkan bukti-bukti yang akurat. Laki-laki yang suka mempermainkan wanita itu kini tak bisa lagi melawan saat ia dijatuhi hukuman selama 15 tahun penjara dan denda dengan nilai fantastis.


Di ruang persidangan, orang tua Bima memohon-mohon pada Reza dan Doni. Namum, kedua orang tua Reza dan Doni langsung menolak dan mencegah agar Doni maupun Reza memaafkan Bima.


"Tindakan anak kamu itu harus dipertanggung jawabkan! Kalau saja hari ini tidak ada, maka hari ini, kami lah yang menangisi kepergian putri kami!" tegas Hery mencoba menahan amarahnya. Laki-laki itu benar-benar marah saat mendengar kejadian yang dialami Alia, ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang tua Alia dikampung saat mendengarkan berita mengejutkan ini.


Setelah hari itu, Alia maupun Reza tak lagi mendengarkan berita tentang Bima atau orang tuanya. Mungkin orang tua Bima sudah membayar orang-orang yang menyebarkan berita untuk memusnahkan berita anak mereka masuk penjara.


Reza pun tak terlalu memikirkan itu, ada untungnya juga kalau berita itu tak tersebar. Setidaknya tak ada yang tau kalau wanita yang Bima coba lecehkan itu adalah istrinya, Alia.


"Sayang, udah boleh cium gak?" tanya Reza menatap istrinya yang tengah menyantap semangkok bakso.


"Boleh, tapi jangan keras-keras." Reza tersenyum senang lalu mencium pipi Alia beberapa kali membuat aktivitas makan Alia terhenti.


"Sayang, katanya kemarin temen kamu ngejebak kamu. Kok mas gak boleh tau ya temen kamu itu yang mana? Mas kan mau membalas juga perbuatan dia," tanya Reza mengambil alih sendok di tangan Alia lalu memasukkan satu bakso kecil ke mulutnya.


"Oh, gak usah di bahas deh mas. Adek udah maafin dia kok, adek rasa dia terpaksa karena dia gak sedekat itu sama Bima. Lagi pula, itu udah masa lalu, adek juga gak pernah denger kabar dia lagi." Alia kembali merebut sendok nya lalu melanjutkan makannya yang tertunda tadi.


"Gak pernah denger kabar dia lagi? Maksudnya sayang?" tanya Reza penasaran.


"Pas adek tanya sama temen adek yang lain, apa temen adek yang udah ngejebak adek masuk kuliah atau enggak, mereka bilang dia udah beberapa hari gak masuk kuliah," jelas Alia. Reza pun mengangguk mengerti lalu membuka mulutnya agar Alia menyuapinya.


"Ih, tadi di tawarin beli satu bungkus lagi gak mau. Giliran cuma dibeli satu bungkus malah doyan," gerutu Alia tapi tetap menyuapi suaminya dengan lembut.


"Kalau baksonya udah di makan sama kamu, rasanya jauh lebih enak. Kayak ada manis-manisnya," sahut Reza membuat Alia tersenyum manis.


"Jangan senyum gitu dong sayang," tegur Reza.


"Kenapa?" tanya Alia bingung.


"Karena jantung mas langsung dag dig dug kalau liat senyuman adek yang cantik dan menggoda," jawab Reza membuat Alia langsung tertawa lepas. Wanita itu benar-benar terhibur dengan gombalan garing suaminya.


"Ah, senyum aja manis, apalagi ketawa gitu. Candu banget tau," lanjut Reza tersenyum genit.


Alia pun tak tahan untuk tak mencubit suaminya seperti kebiasaan awal.

__ADS_1


"Aw, sayang. Cubitan adek menggetarkan hati mas," ucap Reza mengelus-elus bekas cubitan Alia.


"Ih, mas kok gombal terus sih. Adek jadi gak bisa makan karena ketawa terus," rengek Alia masih dengan sisa tawanya.


"Lupakan bakso itu, sayang. Makan aja mas yang lebih hot ini, dijamin bakalan keringetan," sahut Reza benar-benar mengeluarkan kata-kata gombalan nya yang belum pernah ia katakan sebelumnya. Bahkan, terpikirkan di benaknya saja tidak pernah.


"Udah ah, mas. Adek mau makan, nanti adek keselek kalau makannya sambil ketawa," ucap Alia menghentikan tawanya lalu melanjutkan makan baksonya yang sudah habis setengah.


"Suapin sayang, mas juga mau merasakan satu sendok dengan bidadari mas ini." Alia kembali senyum-senyum lalu menyuapi suaminya. Semangkuk berdua memanglah mengenyangkan perasaan.


******


Malam harinya.


Reza dan Alia kembali melakukan aktivitas seperti biasanya, luka yang ada di wajah dan juga tubuh Alia sudah membaik.


"Mas, besok mau gak adek masakin sarapan?" tanya Alia yang tengah membereskan tempat tidur.


"Memangnya udah bener-bener sehat?" tanya Reza memperhatikan Alia yang sibuk membereskan tempat tidur.


"Udah kok mas, udah sehat banget malah." Alia duduk di tepi ranjang lalu menepuk-nepuk sisi sebelahnya. Dengan cepat Reza langsung berjalan ke arah ranjang dan duduk di samping Alia.


"Boleh dong," jawab Alia tersipu malu. Reza pun langsung memeluk Alia dengan erat sembari mencium pipi Alia berkali-kali.


"Bibirnya udah boleh di cium kan? Gak sakit lagi kan?" tanya Reza dengan tatapan mendamba.


"Boleh kok," jawab Alia pelan. Reza pun tersenyum senang lalu langsung melakukan aktivitas malam yang sangat ia nanti-nanti beberapa hari ini.


"Mas cinta kamu, sayang."


"Adek juga, mas."


****


Malam pun terus berlanjut dengan semestinya, udara dingin di malam hari membuat orang-orang menarik selimut mereka untuk menghangatkan tubuh agar tidurnya nyaman.

__ADS_1


Di sisi lain, tepatnya di penjara. Bima merasa frustasi saat mendapatkan perlakuan kasar dan juga semena-mena dari para tahanan yang sudah lama di situ. Laki-laki itu sering menangis di malam hari merasa sakit tubuh dan juga perasaannya.


Kini, semua orang sudah tertidur. Laki-laki itu baru saja bisa istirahat karena harus melayani orang yang berkuasa di penjara ini. Jika ia menolak, maka ia akan digebuki. Belum sembuh luka yang diberikan Reza, ia sudah mendapatkan luka lain dari orang yang tak ia kenal.


Bima meringkuk di lantai menghadap dinding sembari sesekali mengusap air matanya. Menyesal? Ya, ia sangat menyesal sekarang.


Andai ia bisa menerima semuanya dengan lapang dada, pasti ini tak akan terjadi.


Kemewahan, kebebasan, ketenaran tetap ada dalam genggamannya. Tapi, sekarang orang-orang yang dulu menjadi temannya bahkan tak peduli padanya, termasuk orang tuanya sendiri. Bahkan, orang tuanya tak pernah menjenguknya hanya untuk melihat keadaannya yang sudah terlihat menyedihkan.


Bolehkah ia meminta agar Tuhan menarik ajalnya sekarang. Ia pasrah, ia ingin mati.


"Mama, Bima kangen." Bima menangis dalam diam, ia sangat merindukan Mama nga. Ia yakin Mama nya juga merindukannya, hanya saja, papa nya pasti melarang.


Bima pun mengubah posisinya menjadi terlentang lalu kembali ke posisi awal. Laki-laki itu meremas keras ujung bajunya lalu menutup matanya.


"Maafin Bima, ma. Maafin aku Alia, Reza, Doni. Semoga kalian mau maafin aku dan makamin aku dengan layak," batin Bima mulai melakukan aksinya dalam diam.


Laki-laki itu sudah pasrah, ia tak sanggup lagi dengan derita yang baru saja ia jalankan. Jalan pintasnya adalah mengakhiri hidup dengan menggigit lidahnya sendiri agar semua orang tak sadar dengan apa yang ia lakukan.


_


_


_


_


_


_


Sesulit apapun itu hidup kamu, jangan pernah berpikir untuk mendahului kehendak Allah. Karena itu tidak akan menyelesaikan masalah. Mungkin masalah dunia tak dirasakan lagi, tapi ada hukuman akhirat yang menunggu kita di sana.


Cobalah untuk selalu bersyukur dan berfikir luas bahwa Allah maha pengampun. Tak ada kata terlambat untuk bertaubat.

__ADS_1


Terimakasih sudah menunggu yah. Besok insyaallah author up lagi yah dua bab❤️


tbc.


__ADS_2