
Setelah beberapa jam galau di bawah pohon jambu, Reza pun memilih untuk masuk ke rumah tapi ia tak berminat untuk ke kamar.
Mungkin, beberapa waktu ini ia akan menenangkan pikirannya dengan tidak di dekat dengan Alia. Ia ingin menguatkan hatinya menerima kenyataan bahwa kini ia telah dibenci.
"Assalamualaikum," ucap seorang wanita tua membuat Reza langsung menoleh karena posisinya ia tengah duduk di sofa depan.
"Wa'alaikumusalam, ibu." Betapa terkejutnya ia melihat siapa yang datang dengan dua tas besar, itu adalah ibu mertuanya.
"Kaget ya?" tanya Sasmi, ibu dari Alia.
"Iya kaget. Kenapa gak bilang kalau mau datang? Kan bisa Reza jemput Bu," ucap Reza mengambil alih barang bawaan ibu mertuanya.
"Lah kalau di bilang nanti gak kaget," sahut Bu Sasmi sembari tersenyum manis, mirip sekali dengan anak perempuannya yang suka tersenyum.
"Istri kamu mana, nak?" tanya Bu Sasmi kini sudah duduk di sofa.
Reza pun menyuruh para pembantu untuk menyiapkan air minum dan juga makanan ringan.
"Alia di kamar, Bu." Reza juga meminta pembantu untuk memanggil Alia.
Ia pasrah jika nanti Alia mengutarakan permasalahan rumah tangga mereka pada ibu mertua, ia pasrah.
"Gak bandel kan dia?" tanya Bu Sasmi.
"Enggak kok Bu, Alia malahan baik banget sebagai seorang istri. Reza beruntung banget bisa nikah sama Alia, makasih ya Bu udah lahirin dan didik Alia jadi wanita yang baik," jawab Reza semangat sembari menyentuh tangan keriput ibu mertuanya.
"Ah, kamu mah bisa aja. Ibu jadi malu," ucap Bu Sasmi tertawa kecil. Wanita tua itu sangat ramah dan juga murah senyum.
"Ibu," panggil Alia yang sudah ada di dekat tangga.
"Eh, anak perempuan ibu kok nangis?" tanya Bu Sasmi berdiri. Wanita itu merentangkan tangannya agar sang putri datang memeluknya.
"Kangen," lirih Alia kini sudah memeluk sang ibu.
"Owalah, udah kayak ribuan tahun gak ketemu aja deh," ledek Bu Sasmi melepaskan pelukannya lalu mengajak Alia untuk duduk.
"Ibu kok gak bilang-bilang datang nya? Kan bisa di jemput," tanya Alia sembari menghapus air matanya.
"Sengaja gak bilang-bilang, biar kalian kaget."
"Ibu sama siapa kemari? Ayah mana?" tanya Alia tak melihat batang hidung ayahnya.
"Ibu sendiri, ayah gak bisa datang. Kan ibu udah kasih tau kalau di kampung lagi panen, jadi, cuma ibu yang datang."
"Padahal kan gak usah dipaksakan Bu, ibu pasti capek kan." Alia merasa tak enak hati melihat sang ibu bersusah payah menemuinya.
"Halah, ibu ini kuat. Gak kayak kamu," ucap Bu Sasmi mengambil tas bawaannya lalu membukanya.
__ADS_1
"Ibu bawa sayur sama buah juga nih, semoga kalian suka."
"Ibu kenapa repot-repot, ini mah memberatkan ibu," ucap Reza membantu ibu mertuanya mengeluarkan barang-barang bawaan.
"Gak repot kok, malahan ibu senang."
"Ibu nginap di sini kan?" tanya Alia penuh harap.
"Ya tergantung kalau diizinkan," jawab Bu Sasmi tertawa.
"Gak papa kok Bu, nginap aja di sini beberapa hari. Alia masih kangen," ucap Alia.
"Ya minta izin dulu dong sama suamimu, walau ini juga udah rumah kamu, tetap minta izin juga sama suami kamu," ucap Bu Sasmi memberikan nasehat membuat Alia menunduk.
Reza pun ingin membuka suaranya, namun sang ibu mertua malah menyentuh tangannya dan menggeleng.
"Minta izin dulu, kalau enggak ibu pulang nih nanti sore," ucap Bu Sasmi kembali meminta Alia untuk meminta izin pada Reza.
Alia pun mengangguk. "Mas, ibu boleh kan nginap di sini?" tanya Alia masih menunduk.
"Loh, kok bicara sama orang gak ngeliat orangnya sih? Ngomong sama siapa kamu itu?" sela Bu Sasmi. Reza pun tersenyum kecil, mertuanya ini bisa aja mencairkan suasana.
Alia pun mengangkat kepalanya menatap sang suami.
"Mas, ibu boleh kan nginap di sini?" tanya Alia menatap penuh harap suaminya.
"Boleh kok, tinggal di sini selamanya juga boleh." Alia tersenyum senang lalu menatap sang ibu.
"Ya memang ibu mau nginap di sini kok, kan ibu bawa baju ganti tuh satu tas." Bu Sasmi tertawa kecil sembari menunjuk satu tas lagi yang berisikan baju.
"Ih, ibu ngerjain Alia ya."
"Bukan ngerjain, tapi ibu pengen liat aja kamu itu menghargai suami kamu apa enggak. Ternyata anak ibu ini benar-benar jadi istri yang baik ya," jelas Bu Sasmi tersenyum bangga.
"Eum, ibu bisa aja deh."
Resa tersenyum senang melihat sang istri kembali tersenyum seperti dulu, walau senyum itu bukanlah untuknya.
******
Setelah perbincangan ringan tadi, Reza pun mengantarkan ibu mertuanya ke kamar tamu lalu menyuruh pembantu untuk menyimpan semua pemberian ibu mertuanya.
Kini, laki-laki itu kembali bingung harus apa. Ia pun memilih duduk di halaman belakang ditemani secangkir air bening.
"Nak Reza," panggil Bu Sasmi membuat Reza langsung menoleh ke belakang.
"Ibu, ibu kenapa kesini? Ibu butuh sesuatu?" tanya Reza berdiri.
__ADS_1
"Gak butuh apa-apa, cuma mau ngomong sama nak Reza aja. Duduk lagi," ucap Bu Sasmi ikut duduk, Reza pun kembali duduk juga.
"Ibu mau ngomong apa?" tanya Reza dengan jantung yang berpacu cepat. Takut ibu mertuanya sudah tau dan akan marah.
"Kamu yang jujur ya sama ibu, sebenarnya kalian kenapa? Apa nak Reza berbuat salah sampai Alia menangis?" tanya Bu Sasmi sembari memberikan senyuman ramahnya.
"Apa Alia udah cerita sama ibu?" tanya Reza menunduk.
"Alia gak cerita apa-apa, nak. Tapi, ibu bisa merasakan kesedihan anak ibu," jawab Bu Sasmi.
"Angkat kepala kamu, nak. Ceritakan semuanya sama ibu. Bukan ibu mau ikut campur, hanya saja, melihat kalian seperti ini ibu jadi khawatir. Mungkin, ibu bisa bantu walau sedikit," lanjut Bu Sasmi memberikan support. Reza pun mengangkat kepalanya menatap wajah keriput ibu mertuanya.
Laki-laki itu menghela nafas panjang lalu mulai menceritakan segala kejadian yang benar-benar terjadi tanpa dikurangi dan melebih-lebihkan.
"Astagfirullah, jahat sekali mereka." Bu Sasmi menutup mulutnya setelah mendengar semua cerita Reza.
"Ini juga salah Reza, Bu. Kalau aja Reza tegas dan gak semena-mena dengan Alia, pasti gak bakalan gini." Reza mengakui itu, bahwa 50% adalah kesalahannya.
"Ibu mengerti nak, ibu mengerti. Insyaallah, sebelum ibu pulang kampung, ibu bakalan bantu kamu untuk kembali dekat dengan Alia. Ibu gak mau kalian pisah, ibu yakin Alia masih mencintai nak Reza, hanya saja, itu semua tertutup oleh rasa kecewa dan ego-nya."
Reza mengangguk mengerti sembari tersenyum, beruntung sekali ia punya ibu mertua pengertian seperti ini.
"Makasih Bu," ucap Reza.
"Iya, ibu masuk dulu ya. Mau tidur," ucap Bu Sasmi menepuk bahu menantunya itu lalu kembali masuk ke rumah.
Seperti mendapatkan angin segar, Reza kembali bersemangat. Yah, dia harus berjuang.
Ia tak boleh lemah dan berlama-lama sedih, ia harus semangat untuk mendapatkan cinta istrinya seperti mertuanya yang semangat untuk menyatukan mereka kembali.
"Kalian juga harus bantu gue ya dengan like, komen dan juga votenya biar gue makin semangat untuk dapatin Alia."
_
_
_
_
_
_
Readers: Semangat mas Reza 😘
Maaf yah kemarin gak up, sebab suasana hati author sedang tidak baik-baik aja. Jadi, author milih untuk istirahat bentar supaya gak ngerusak ceritanya.
__ADS_1
Harap komen juga ada typo atau kalimat yang tidak nyambung ya😘
tbc