Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri
Bab 46. Penghianatan seorang teman.


__ADS_3

Urusan kampus sudah selesai, seharusnya Reza sudah mulai masuk kuliah. Namun, laki-laki itu tak akan masuk kampus untuk 2 atau 3 hari kedepan.


Seperti rencana awal, Reza akan pergi ke kota sebelah untuk memeriksa salah satu usaha kulinernya yang sedikit bermasalah.


Karena Reza pergi di jam 9 pagi, Alia memilih tak masuk kuliah juga. Padahal, Alia memiliki mata kuliah di jam 9 pagi.


"Kesayangannya mas jangan lupa makan yah, jangan tinggalin shalatnya, jangan sedih-sedih, jangan lupa buat hubungin mas kalau ada masalah sekecil apapun itu." ucap Reza sembari sesekali mencium kening istrinya. Kini, mereka berdua sudah berada di bandara.


"Jadi adek cuma boleh nelepon mas kalau ada masalah aja yah? Kalau lagi rindu gak boleh ya?" tanya Alia memeluk Reza erat seperti enggan untuk melepaskan pelukannya itu.


"Kalau masalah rindu mah setiap detik pun boleh, sayang. Mas bakalan ngangkat kok, walau mas sibuk," jawab Reza mencubit pipi Alia gemas.


"Eum, mas hati-hati yah di sana. Jangan ngelirik cewek lain," ucap Alia melepaskan pelukannya lalu kembali memeluk suaminya. Ia benar-benar tak mau melepaskan Reza.


"Oke, aman tuh. Sampai jumpa 3 hari lagi, sayangku, cintaku" balas Reza lalu mencium kening dan pipi Alia.


"Eum, sampai jumpa lagi, sayang."


"Assalamualaikum, sayang. Mas pergi yah," ucap Reza melambaikan tangannya. Alia membalas lambaian tangan itu sembari sesekali menyeka air matanya. Berat hatinya untuk melepaskan suaminya, ia sebenarnya sedang dilanda pikiran buruk sekarang.


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh, hati-hati sayang. Semoga mas selalu dalam lindungan Allah SWT, Aamiin."


Detik berganti menit, menit berganti jam. Sudah satu jam saja Alia jauh dari Reza, wanita itu kini hanya duduk di rumah sembari termenung.


"Nona, ada tamu di depan." Seorang pembantu mengetuk pintu kamar dan masuk setelah Alia mengizinkannya, lalu menyampaikan informasi kedatangan seseorang.


"Siapa?" tanya Alia meraih jilbabnya. Ia masih menggunakan pakaian waktu ke bandara tadi, jadi, ia hanya perlu memakai jilbabnya saja.


"Katanya teman kuliah anda," jawab pembantu itu. Alia pun mengangguk dan langsung keluar dari kamar untuk menemui tamu yang tak diundang sebelumnya.


"Sindi?" Alia berjalan sembari tersenyum mendekati teman baiknya di kampus yang sudah duduk di sofa.


Gadis yang bernama Sindi itu langsung berdiri dan menghampiri Alia sebelum Alia menghampirinya.


"Kamu kenapa Sin?" tanya Alia bingung saat melihat wajah panik teman baiknya itu.


"Al, aku mau ke suatu tempat tapi motor aku mogok. Kebetulan motornya mogok disekitaran sini, jadi aku langsung ke rumah kamu deh," jelas Sindi membuat kening Alia berkerut. Untuk apa Sindi berkendara di sekitar komplek perumahan ini? Ah, mungkin saja Sindi ada keperluan.


"Terus, motor kamu dimana? Perlu aku anterin atau gimana?" tanya Alia mengajak Sindi untuk duduk di sofa.


"Motor aku masih di pinggir jalan, Al. Tapi, aku lagi kepepet banget nih mau ke suatu tempat. Anterin aku boleh gak?" jawab Sindi.


"Boleh, aku ambil tas dulu yah," ucap Alia tersenyum ramah. Ia pun bergegas mengambil tas nya di kamar, ia harus bergerak cepat karena sepertinya Sindi sangat membutuhkan.

__ADS_1


"Ayo Sin," ajak Alia saat ia sudah mengambil tasnya. Sindi pun mengangguk lalu mengikuti Alia sampai masuk ke mobil.


"Memangnya kamu mau kemana Sin?" tanya Alia saat mereka sudah di dalam mobil.


"Kesini, aku ada barang yang harus di ambil dan katanya dititipin di tempat ini," jawab Sindi memperlihatkan sebuah alamat yang tertulis di selembar kertas. Alia pun memberikan alamat itu pada supirnya.


"Al, kalau diliat-liat, kamu makin sehat aja deh," ucap Sindi menatap Alia intens. Alia pun langsung memperhatikan pergelangan tangannya.


"Iya, aku baru nyadar."


"Apa jangan-jangan kamu udah ngisi yah?" tebak Sindi.


"Ngisi? Makan maksudnya?" tanya Alia tak mengerti.


"Yaelah, itu aja kagak ngerti. Percuma deh kamu nikah kalau gak ngerti maksud ngisi. Ngisi itu yah perut kamu ke isi, tapi bukan sama makanan, melainkan sama bayi," jelas Sindi sembari memukul bahu Alia pelan lalu tertawa saat melihat tampang bodoh Alia.


"Oh, bayi yah." Alia langsung tersenyum malu kalau membahas perihal bayi. Ia juga ingin perutnya segera terisi dengan bayi.


"Eum, gak tau juga Sin. Tapi, mudah-mudahan aja iya," lanjut Alia.


"Aamiin, semoga aja beneran ada bayi nya. Biar aku bisa jadi Tante nya gitu," ucap Sindi antusias.


"Aamiin."


"Oh, udah nyampek yah." Alia menatap sekelilingnya yang sepi, hanya ada satu bangunan mewah di sisi sebelah kanan jalan.


"Rumah siapa Sin?" tanya Alia.


"Aku gak kenal sih sebenarnya, tapi kata orang rumah masih saudara," jawab Sindi santai.


"Oh gitu yah."


"Temenin aku masuk boleh gak?" tanya Sindi. Alia pun tanpa pikir panjang langsung mengangguk, mungkin Sindi masih malu-malu masuk ke rumah mewah itu karena seperti yang dikatakannya tadi, saudara tapi tak kenal.


Sindi dan Alia pun turun dari mobil lalu menekan bel yang ada di gerbang.


"Rumahnya gede banget, gak nyangka aku punya saudara kaya, Al." Alia hanya bisa senyum saja mendengar celoteh teman baiknya itu.


"Siapa?" tanya orang di balik gerbang. Sepertinya security.


"Sindi pak, mau ngambil barang." Tak lama setelah Sindi menjawab, pintu gerbang pun di buka.


"Oh, nak Sindi toh. Masuk-masuk, barangnya ada di dalam rumah," ucap security itu sembari tersenyum ke arah Sindi dan Alia.

__ADS_1


Sindi pun mengajak Alia masuk, Alia sedikit heran saat melihat Sindi seperti hafal seluk beluk rumah karena tau dimana pintu yang menuju ruang utama, padahal pintu rumah ini sangatlah banyak.


Tapi, Alia memilih tak ingin banyak bertanya. Mungkin, Sindi hanya menalar saja. Temannya itu memang sering seperti itu, suka menebak.


"Al, temenin aku ke kamar mandi yuk, jagain pintunya, takut ada orang yang masuk," ajak Sindi menarik tangan Alia berjalan menuju toilet tamu. Alia pun hanya manut saja walau sebenarnya ia bingung dengan keadaan rumah yang sepi.


"Tunggu di sini yah," ucap Sindi masuk ke kamar mandi. Alia pun mengangguk dan berdiri membelakangi pintu kamar mandi.


"Kok rumahnya sepi ya? Gak ada pembantu atau orang rumah kah?" gumam Alia menatap kesana-kemari.


Suara pintu kamar mandi terbuka, saat Alia ingin berbalik, sebuah tangan langsung membekap mulut dan hidungnya sekalian dengan sapu tangan.


"Eum!" Alia ingin berteriak, matanya melotot saat ia merasa sesak. Entah apa yang ada di sapu tangan itu, tapi ia merasa sesak dan juga pusing.


Untuk beberapa menit, Alia bisa memberontak walau ia kalah tenaga. Hingga akhirnya, wanita yang bersuamikan Reza Heryansyah itu pingsan karena sudah terlalu banyak menghirup obat tidur yang ada di sapu tangan.


"Maafin aku, Al." Sindi langsung terduduk dan memangku kepala Alia yang sudah tergeletak pingsan.


"Maaf," tangis Sindi benar-benar merasa bersalah.


"Aku gak tau harus berbuat apalagi, aku diancam Al. aku gak bisa ngapa-ngapain lagi, maafin aku. Kalau nanti kamu sadar dan selamat, kamu boleh kok menjarain aku, sekali lagi aku minta maaf. aku harap kamu baik-baik aja," ucap Sindi menangis histeris karena sudah mengkhianati teman baiknya hanya karena ingin keluarganya selamat dari ancaman seseorang.


Sindi pun meletakkan kepala Alia di atas lantai lalu membuka jaket yang ia kenakan. Diletakkannya jaket itu di bawah kepala Alia lalu mencium kepala Alia.


"Aku harap kamu baik-baik aja, aku harap kamu selamat. aku minta maaf, aku minta maaf, Alia." Setelah mengatakan itu, Sindi langsung berlari keluar dari rumah. Wanita itu tak keluar dari gerbang depan karena takut ketahuan oleh supir Alia, ia keluar dari jalan samping untuk menghindari supir teman baiknya itu.


"Sekali lagi maafin aku, Al."


_


_


_


_


_


_


Terkadang rasa percaya pada seseorang itu harus dikurangi, karena sebaik apapun dia, pasti dia akan menyakiti kita walau itu hanyalah luka kecil. Itulah manusia.


Semoga Alia baik-baik aja yah. Kira-kira, siapa yah yang nyuruh atau biang keroknya?

__ADS_1


tbc.


__ADS_2