Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri
Bab 48. Membalas dengan brutal.


__ADS_3

"Kurang ajar!"


Alia menutup matanya saat melihat tangan Bima melayang ingin memukulnya. Ia pasrah, jika nanti ia mati karena dipukuli.


Bugh!


Suara pukulan keras dari benda tumpul terdengar jelas, Alia membuka matanya karena tak merasakan sakit.


Matanya langsung terbuka lebar saat melihat siapa yang berdiri dibelakang Bima.


Si pemukul langsung menarik Bima turun dari ranjang secara kasar lalu kembali memukuli kepala Bima.


Bima yang dipukuli meringis kesakitan, namun, tubuh laki-laki itu tampaknya lebih kebal dan juga kuat dari pukulan yang sudah ia terima.


"Mas," lirih Alia berusaha untuk duduk. Ada rasa lega dan bahagia saat melihat orang yang berdiri di hadapannya sekarang. Orang yang tadinya ia tangisi karena takut akan kepergiannya.


"Lo udah keterlaluan, Bim! Gue pastiin Lo bakalan dapat ganjarannya!" ucap Reza dingin lalu kembali memukuli temannya yang masih mengumpulkan kesadaran.


Bima yang tak mau kalah pun langsung membalas pukulan Reza, keduanya benar-benar ganas untuk saling menghabisi.


Satu Bogeman mentah mengenai wajah Reza saat laki-laki itu sedikit lengah.


"Lo harus mati!" teriak Bima kesetanan. Reza pun tak kalah kesetanan, dua-duanya sudah dipengaruhi setan hingga tak ada rasa bersalah saat memukuli lawan berkelahi.


"Anj*ng lo, Bima!" teriak Reza memukuli dan menendang perut Bima dengan ganas.


"Lo setan!" balas Bima masih tak mau kalah walau sebenarnya laki-laki itu sudah benar-benar kalah karena tubuhnya terasa sangat sakit.


"Mas sudah! Mas!" teriak Alia histeris. Ia tak mau Reza sampai membunuh Bima dan masuk penjara karena itu.


Reza tak akan berhenti sebelum berhasil melumpuhkan temannya yang akan menjadi mantan teman.


Melihat tubuh Bima yang sudah melemah, Reza tak menyia-nyiakan itu lalu mengikat tangan Bima dengan tali yang sengaja ia bawa.


Setelah mengikat tangan Bima, Reza langsung beralih ke ranjang dan melepaskan ikatan tangan dan kaki Alia.


"Jangan dipukulin terus, mas. Nanti mas masuk penjara," ucap Alia benar-benar khawatir suaminya masuk penjara.


Reza hanya diam saja, ia tak akan berbelas kasih untuk sekarang. Apalagi melihat lembam di wajah Alia yang semakin membuat ia marah.


"Luka ini harus dia terima lebih sakit daripada yang kamu rasakan!" tekan Reza menyentuh luka di wajah istrinya.

__ADS_1


"Jangan mas, jangan membuat tangan mas kotor dengan ngelakuin hal jahat!" larang Alia.


"Apa yang udah dia lakukan ke kamu, harus mas lakukan juga ke dia!" sahut Reza tersenyum menyeramkan. Alia bahkan baru kali ini melihat perubahan Reza yang mengerikan itu.


Reza kembali mengambil kayu yang ia gunakan memukul kepala Bima tadi lalu mengarahkan kayu itu ke wajah Bima yang memang sudah babak belur.


"Mas!" jerit Alia menutup matanya antara tak tega dan juga ngeri.


Puas memukuli Bima yang sudah tak berdaya, Reza membuang kayu yang ia pegang ke sembarang arah lalu mencengkram dagu Bima dengan keras.


"Sakit Bim?" tanya Reza tersenyum sinis. "Ini pantes Lo dapetin karena Lo udah berusaha ngerusak rumah tangga gue dan juga Lo berusaha ngelecehin istri gue!" lanjut Reza dengan suara yang tinggi.


"Gue bakalan buat lo sekarat dan nanggung semua kesalahan Lo di penjara seumur hidup!" tegas Reza melepaskan cengkraman nya dengan kasar.


"Lo bakalan gue laporin ke polisi, brengsek! Lo bakalan mendekam di penjara juga temenin gue!" ucap Bima pelan dengan senyuman licik khas nya.


Mendengar itu, Reza tertawa lepas membuat Bima maupun Alia menjadi bingung.


"Gue punya uang, Bim. Sebanyak-banyaknya uang Lo, lebih banyak lagi uang gue. Gue bisa gunain uang itu untuk ngebuat Lo masuk penjara tanpa harus ada gue di sana!" ucap Reza tersenyum mengejek ke arah Bima.


"Lo licik gue juga bisa lebih licik!" lanjut Reza membuat tubuh Bima menegang.


"Emangnya Lo mau mukul dimana, Don? Soalnya, semua badannya udah habis gue pukulin," tanya Reza santai.


"Ck, ck, kelewatan banget Lo bang. Gue kan mau mukul juga!" Ketus Doni pura-pura marah.


"Lagi pula salahnya Bima ke lo, apa sih?" tanya Reza sembari menatap Bima yang masih meringis kesakitan.


"Karena dia udah bunuh Mochi!" jawab Doni datar.


Mendengar itu, Bima menatap ke arah Doni beberapa detik dengan ekspresi bingung lalu kemudian tertawa. Bima tertawa sembari sesekali meringis sakit karena ujung bibirnya yang pecah.


"Lo bisa juga yah nemuin pelakunya. Gimana, Lo suka gak sama kejutan gue?" ucap Bima tersenyum mengejek.


"Padahal gue belum tau siapa pelakunya, gue cuma nebak aja. Tapi, Lo udah ngaku dengan sendirinya, Bim. Lo mempermudah pekerjaan gue," sahut Doni tersenyum sinis lalu mendekat.


"Kira-kira, untuk menggantikan bulu mochi yang Lo cabut, apa yang harus gue cabut dari tubuh Lo ya?" lanjut Doni memperhatikan Bima dari atas sampai bawah lalu mengulangi hal yang sama.


Tampak sekali, wajah Bima yang memucat membuat Doni dan Reza tersenyum puas.


"Apa bulu itu aja ya?" tunjuk Doni ke arah selangka*gan Bima menggunakan tongkat besinya.

__ADS_1


Bima pun bergerak tak nyaman saat Doni terus menatap ke arah 'itunya'.


"Lo jangan gila, Don! Gue manusia dan lo gak bakalan tega ngelakuin itu!" teriak Bima ketakutan.


"Masa sih gue gak tega? Kita praktekin aja biar Lo percaya, gimana?" ucap Doni mengayunkan tongkat besi yang ia pegang dengan sekuat tenaga membuat Bim langsung memejamkan matanya.


"Nungguin ya," ledek Doni melempar tongkat besinya ke lantai lalu tertawa, begitu juga dengan Reza yang ikut tertawa.


Bima membuka matanya lalu mengatur nafasnya yang sempat ia tahan tadi.


"Gue gak sebejat Lo, Bim. Gue masih punya hati buat gak mukulin burung kerutan Lo." Doni kembali tertawa, tanpa mereka sadari, Alia mendengar itu merasa tidak nyaman.


"Mas, sudah! Lebih baik masukkin aja dia ke penjara daripada terus dipukulin gitu." akhirnya Alia membuka suara juga setelah sekian menit diam dan memperhatikan.


"Kamu kasian sama dia?" tanya Reza menatap tajam Alia.


"Bukan kasian, tapi lebih tepatnya, adek gak mau tangan mas kotor karena mukulin orang segitu brutalnya. Adek mohon, sudahi aja. Bawa dia ke polisi dan kita pulang," jelas Alia. Sebenarnya ia kasihan melihat Bima, hanya saja, ia tak bisa menunjukkan itu karena Bima juga tadi tanpa kasihan memukulinya.


"Hah, Lo beruntung karena kakak ipar baik banget sama lo. Tapi, lo jangan seneng dulu. Karena hukuman penjara dan hukuman sosial bakalan nyusul bentar lagi," ucap Doni menatap Bima yang tengah menutup matanya. Laki-laki itu seperti tengah menahan tangis.


"Maafin gue," lirih Bima menatap temannya dengan tatapan sendu.


_


_


_


_


_


_


Maafin gak tuh?


Maaf yah telat lagi, habisnya author udah nulis nih dan udah siap mau up. Eh, malah kehapus. Kan mood author jadi berantakan 🙃


Maklumi saja lah ya😁


tbc.

__ADS_1


__ADS_2