Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri
Bab 54. Camping #2


__ADS_3

Tiba akhirnya, malam pun datang. Alia dan Reza juga sudah ada di lokasi kemah tepi pantai.


"Sayang, mau makan apa?" tanya Reza saat ia sedang menyalakan api untuk menjadi penghangat di malam yang dingin.


"Bakar ayam aja, mas. Kan adek udah bawain yang udah di ungkep," sahut Alia yang duduk di depan tenda sembari memperhatikan sang suami.


"Ayam aja?" tanya Reza mulai mengeluarkan bahan-bahan makanan yang mereka bawa tadi.


"Kan ada sosis sama bakso juga, yang lainnya udah adek masakin," jawab Alia hanya diam memperhatikan, memang wanita itu sedang malas bergerak. Rasanya sangat menyenangkan bisa bermanja-manja di alam terbuka seperti ini.


"Oke deh," sahut Reza. Laki-laki itu pun mengeluarkan alat untuk membakar ayam, sosis dan bakso sesuai permintaan istrinya. Kemah kali ini rasanya berbeda dari sebelum-sebelumnya, karena Reza harus over sabar dan juga harus lebih hati-hati karena ia membawa pujaan hatinya.


"Dingin?" tanya Reza menatap sang istri. Kini tangannya sedang sibuk meracik bumbu untuk membakar ayam dan teman-teman si ayam.


"Gak terlalu sih, tapi tetap aja dingin." Reza tersenyum tipis lalu mulai membakar pesanan sang istri untuk makan malam.


"Mas, adek boleh gak makan mie rebus?" tanya Alia. Dingin-dingin begini memang enak makan mie rebus.


"Gak boleh, sayang."


"Kenapa?" tanya Alia cemberut.


"Sayang, mie instan itu banyak banget micin. Gak baik buat kesehatan, apalagi buat kesehatan cewek." Meski Alia kurang paham dengan maksud Reza, wanita itu tetap mengangguk mengiyakan.


"Adek siapin nasi sekarang, mas?" tanya Alia saat melihat beberapa potong ayam sudah matang.


"Iya, sayang. Makannya sekarang kan?"


"Iya, mas."


"Yaudah siapin terus, nanti selepas isya kalau mau ngemil kan ada tuh makanan yang udah dibeli tadi," ucap Reza menata ayam yang sudah matang di atas piring, kini ia tengah membakar sosis dan bakso.


"Mas, adek lapar banget." Reza tertawa mendengar itu, istrinya belakangan ini mudah lapar.


"Iya, sayang. Ini kan lagi disiapin."


"He'em, adek sabar kok nungguin nya."


Setelah semuanya matang, kini mereka berdua pun menikmati masakan yang sederhana bagi mereka sembari sesekali bercerita.


Selesai makan.


Reza langsung membuang semua bungkus plastik ataupun sampah lainnya ke tempat sampah, agar nanti mereka berdua bisa tidur dengan nyaman tanpa dikelilingi sampah plastik ataupun sampah dapur.

__ADS_1


"Lihat deh mereka, mas. Lucu ya bisa camping bareng anak gitu," ucap Alia menatap sepasang orang tua muda yang duduk bersama dengan satu anak laki-laki mereka.


"Lebih lucuan kamu, sayang. Imut, gemesin, ngangenin, cantik, baik."


"Ih, bukan itu maksudnya. Adek kan bilang kalau camping bawa anak kecil itu kayaknya keren gitu," ucap Alia menepuk lengan Reza sembari memasang wajah cemberut.


"Sayang kita lagi camping berdua, menikmati waktu berdua. Nanti kalau udah punya anak, moment gini susah loh kita ulangin," ucap Reza mengelus lembut punggung Alia.


"Memangnya kita bakalan punya anak ya, mas?" tanya Alia menatap sang suami dengan tatapan sendu.


"Loh, kok malah sedih-sedih sih. Kan tujuan kita camping mau seneng-seneng, bukan mau sedih-sedih." Reza langsung mencubit gemas pipi Alia yang semakin berisi sembari sesekali mencium pipi mulus itu.


"Ih, mas. Jangan cium-cium di depan orang, malu. Kalau mau cium itu nanti di dalam," tegur Alia menjauhkan wajahnya. Ia tak mau disangka pasangan mesum walau mereka berdua sudah menikah, tapikan hanya mereka berdua yang tau, yang lain kan tidak kenal dengan mereka.


"Ya udah, ayo ke dalam."


"Loh, loh, mas!" Reza langsung menarik Alia untuk masuk ke tenda agar mereka bebas cium-cium dan peluk-pelukan.


"Ih, kan adek masih mau nikmatin pemandangan malam di luar," ucap Alia kesal.


"Kita cium-cium dulu, baru nanti kita nikmatin suasana malamnya," sahut Reza antusias. Laki-laki itu seperti anak kecil yang akan mendapatkan uang jajan.


"Janji ya, cuma cium aja."


"He,em." Reza langsung mengangguk membuat Alia benar-benar heran dengan tingkah suaminya yang semakin manja. Mereka duduk bersila sembari berhadapan seperti orang yang sedang melakukan ritual perdukunan. Mata memandang satu sama lain, ada yang fokus pada bibir pasangannya, ada juga yang fokus pada mata lawan jenisnya.


"Mau cium," pinta Reza memanyunkan bibirnya.


"Ih, jangan gitu mas. Kesannya mas itu kayak aki-aki mesum," ucap Alia merinding. Reza tersenyum tipis lalu kembali seperti semula, bergaya layaknya seorang pria tampan yang keren dan berwibawa. Perlahan wajah itu mendekat, membuat pasangannya menjadi malu.


"Adek malu, mas."


"Malu kenapa, hm?" tanya Reza pelan. Wajah mereka benar-benar dekat. Tak menunggu jawaban dari sang istri, Reza langsung mencium Alia dengan lembut. Tak ada pergerakan yang ekstrim dalam tenda itu, sehingga tenda tetap aman dan tak bergoyang-goyang.


*****


Keesokan harinya.


Kedua pasangan muda-mudi itu sudah berkemas-kemas untuk pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, Alia juga sudah melihat betapa indahnya matahari terbit.


"Sudah semuanya?" tanya Alia yang sedari tadi ada di mobil menunggu sang suami bersiap-siap.


"Udah," jawab Reza tersenyum manis ke arah sang istri lalu melajukan mobil menuju rumah yang sudah mereka tinggalkan selama semalam.

__ADS_1


"Hari ini kita istirahat ya, sayang. Besok 'kan kita kuliah," ucap Reza fokus menatap ke depan.


"Iya, adek juga capek."


Beberapa menit perjalanan, akhirnya mobil pun masuk ke area pekarangan rumah.


"Mas mau ngambil barang dulu ya ke rumah Doni," ucap Reza saat mereka sudah di luar mobil.


"Gak istirahat dulu?" tanya Alia menatap sang suami yang mulai mengeluarkan barang-barang mereka tadi.


"Nanti pulang dari rumah Doni aja, cuma sebentar kok, ngambil buku." Alia pun mengangguk mengerti lalu mencium pipi sang suami.


"Hati-hati ya," ucap Alia membuat Reza langsung senyum.


"Lagi," pinta Reza mulai manja. Laki-laki itu tak boleh dipancing untuk bermesraan, nanti malah keterusan.


"Nanti kalau udah pulang dari rumah temennya mas ya," ucap Alia mengedipkan sebelah matanya lalu masuk ke rumah sembari melambai ke arah suaminya sesekali.


Sesampainya di kamar, Alia pun langsung membuka jilbabnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tadi pagi, ia sebenarnya sudah mandi di kamar mandi area tempat kemah, hanya saja, tubuh Alia masih terasa gatal, mungkin tak cocok dengan airnya.


"Eum, apa di cek lagi ya?" gumam Alia menatap dirinya di cermin.


"Cek aja deh, selagi mas Reza gak ada di sini. Jadi bisa nangis sepuasnya kalau hasilnya masih negatif." Alia pun mengambil testpack yang ia simpan, masih ada beberapa testpack untuk digunakan di Minggu selanjutnya, atau bulan selanjutnya jika hari ini hasilnya masih sama.


Tak mau banyak berharap, Alia pun langsung mengecek positif atau tidak dengan wajah yang tenang. Sudah terbiasa menangis menerima rasa sakit akan kenyataan seakan membuatnya kebal, tapi tetap saja hati kecilnya akan menjerit pilu dan ada rasa kecewa karena semuanya tak seperti yang diinginkan.


Setelah menunggu beberapa menit, Alia memberanikan diri untuk membuka mata dan menatap benda kecil itu. Matanya langsung berkaca-kaca, helaan nafas terdengar beberapa kali. Tangis langsung pecah saat melihat hasil yang kali ini tak mengecewakan.


Alia mengucek-ngucek matanya, memperhatikan baik-baik benda kecil yang ia pegang sekarang.


"Aku hamil."


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


_


Tbc.


__ADS_2