Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri
Bab 23. Bulan madu #part 2


__ADS_3

Hari masih berlanjut, dua insan itu belum beralih dari kelapa muda dan juga mie dalam cup.


"Cuacanya bangus banget ya, mas. Pengen tinggal di tepi pantai gini deh," ucap Alia membuka percakapan setelah percakapan beberapa menit terakhir.


"Tinggal aja di sini, jangan ikut pulang!" ketus Reza sembari mengeruk isi kelapa muda.


"Masa adek tinggal sendiri sih, adek kan maunya tinggal sama mas. Rumah yang sederhana di tepi pantai, ada adek dan mas di sana dan juga anak-anak kita nanti," ucap Alia tersenyum membayangkan sebuah keluarga kecil.


Lain halnya dengan Reza yang tak sengaja menggigit lidahnya karena kaget mendengar khayalan wanita dihadapannya ini.


"Mimpi lo ketinggian," ucap Reza sembari tertawa mengejek.


"Kenapa ketinggian mas? Kan kita memang bakalan punya anak nanti, adek sehat mas juga sehat kan." Alia menatap bingung suaminya itu.


"Kita gak bakalan punya anak karena gue gak mau!" jelas Reza dengan suara setengah berbisik membuat tubuh Alia menegang.


"Kenapa mas? Kenapa mas gak mau punya anak? Apa mas gak suka anak-anak ya?" tanya Alia berusaha berpikir positif.


Reza tampak meletakkan sendok yang ada di tangannya.


"Gue suka benget sama anak-anak dan gue juga pengen punya anak," jawab Reza.


"Terus kenapa tadi ngomong gitu?" tanya Alia lembut.


"Gue bakalan punya anak dari wanita lain, bukan lo!" jawab Reza membuat jantung Alia seperti berhenti berdetak sejenak.


Setelah mengatakan itu, Reza pun pergi meninggalkan Alia yang terdiam membeku dengan kata-kata maut dari laki-laki itu.


"Mas Reza pasti cuma bercanda aja," ucap Alia memegang dadanya yang nyeri.


"Mungkin moodnya lagi gak bagus. Mana mungkin dia gak mau punya anak dariku, dia aja mau pergi bulan madu," lanjut Alia berusaha menguatkan dirinya.


Namun, hatinya tak bisa berbohong, matanya sudah meneteskan air mata untuk kesekian kalinya setelah menikah.


"Ya Allah, kuatkan hamba." Alia langsung menghapus air matanya lalu membayar semua pesanannya dan juga suaminya.


Setelah itu, Alia memilih untuk segera pulang ke penginapan. Ia tak berselera lagi untuk jalan-jalan dan membeli jajanan lainnya.


****


Malam harinya.


Alia tampak baru saja selesai shalat Isya, ia melipat mukenah nya sembari sesekali melirik suaminya yang sibuk dengan ponselnya. Setelah kejadian di pantai tadi, mereka bahkan tak bicara sepatah katapun walau hanya sekedar mengajak makan.


Alia pun memilih untuk tak memulai bicara dulu malam ini, ia sangat lelah.


Lelah tubuh dan juga hati.


Alia pun langsung naik ke atas ranjang dan menarik selimutnya lalu tidur membelakangi posisi tidur Reza nantinya karena laki-laki itu masih duduk di sofa.


Alia menatap dekor kamar yang indah, itu sangatlah tak bermakna karena sepertinya tak ada malam pertama di bulan madu ini.

__ADS_1


Air matanya kembali mengalir, wanita itu menangis dalam diam. Sesakit ini kah menikah dengan laki-laki yang tak mencintai kita.


Alia mengusap matanya, tak ingin menangis lagi. Ia tak ingin jadi cengeng hanya karena ucapan suaminya, pasti suaminya hanya bercanda saja.


"Lo udah tidur?" tanya Reza sembari menatap punggung istrinya yang sudah di tutupi selimut.


"Hei Alia, gue mau pesan makanan, lo mau apa enggak?" tanya Reza. Laki-laki itu ingin memesan beberapa cemilan untuk menemaninya memeriksa pemasukan bulan ini.


Reza pun berjalan ke arah ranjang lalu melihat Alia yang sudah menutup matanya.


"Udah tidur ya," gumam Reza lalu kembali ke sofa dan memesan makanan sendiri.


Setelah kepergian Reza, Alia kembali membuka matanya. Ia belum tidur, hanya pura-pura tidur agar untuk menghindari obrolan dengan suaminya.


"Ya Allah, boleh kan hamba ngambek sebentar aja." Batin Alia.


****


Keesokan harinya.


Reza tampak kesal dan juga frustasi melihat Alia yang hanya mendiaminya saja. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut wanita itu.


Sebanyak apapun ia bertanya dan memancing pembicaraan, tetap saja tak ada tanggapan dari istrinya itu.


"Makan bakso yuk," ajak Reza mendekati istrinya yang tengah duduk di pinggir kolam renang.


"Alia, ayo makan bakso. Di sana ada bakso yang katanya enak," lanjut Reza duduk di samping istrinya.


Melihat itu, Alia pun menggeser tubuhnya menjauh dari suaminya.


Tak mau kalah, Reza kembali mendekatkan dirinya membuat Alia kembali menjauh.


Alia pun memilih untuk bangun dan pergi meninggalkan suaminya, hatinya masih sakit karena ucapan suaminya kemarin. Ia belum bisa untuk terlihat baik-baik saja.


Melihat kepergian istrinya, Reza pun segera berdiri dan mengejar Alia.


"Alia ayo," ajak Reza lagi sembari mengekor istrinya dari belakang.


"Lo marah ya sama gue?" tanya Reza.


Merasa diabaikan, Reza pun tiba-tiba tersenyum menyeringai. Dengan cepat ia mengangkat tubuh istrinya ala bridal style.


"Mas!" teriak Alia kaget.


"Ayo makan bakso, jangan sok-sokan ngambek!" ucap Reza membawa Alia keluar dari penginapan.


"Iya iya, tapi jangan di gendong. Malu," rengek Alia. Ia langsung menyembunyikan wajahnya ke leher sang suami karena malu dilihat orang.


"Kalau di turunin lo bakalan ngambek lagi nanti," ucap Reza masih menggendong istrinya menyusuri jalan menuju sebuah tempat jualan bakso.


"Cie, sweet banget pengantin baru," ucap orang-orang di sekitar membuat Alia semakin malu, sedangkan Reza hanya tersenyum kecil saja.

__ADS_1


"Ya ampun mas, itu kenapa istrinya di gendong? Masih sakit ya yang di bawah?" tanya salah satu ibu-ibu pengunjung.


"Iya Bu," jawab Reza santai. Sedangkan Alia, rasanya wanita itu ingin menghilang saja sekarang sangking malunya.


"Waduh mas, makannya jangan kasar dong mainnya. Kan kasihan istrinya jadi susah jalan," sambung ibu-ibu lainnya.


Reza pun hanya tersenyum saja sembari terus berjalan menuju tempat makan bakso di pinggir pantai.


Sesampainya di sana, Reza langsung menurunkan istrinya dan menyuruh Alia untuk duduk. Ia pun memesankan dua porsi bakso biasa dan juga mengambil beberapa kerupuk yang digantung di situ.


Alia masih saja menunduk karena malu, ibu-ibu yang tadi bicara pada suaminya terlihat senyum-senyum ke arahnya.


"Mas ngapain sih gendong adek tadi, kan malu diledekin sama ibu-ibu itu," ucap Alia kesal.


"Malu tapi lo suka kan?" tanya Reza membuat Alia memalingkan wajahnya.


"Udah jangan ngambek lagi, memangnya gue salah apa sih?"


Alia menghembuskan nafas kasar, ternyata suaminya ini tak peka. Bisa-bisanya lupa dengan ucapan kasarnya kemarin yang membuat hati Alia terluka.


Cup.


Alia langsung menatap sang suami ketika pipinya di cium.


"Mas?"


"Biar gak ngambek lagi," ucap Reza lalu fokus pada bakso nya yang sudah ada di atas meja.


Pipi Alia pun tiba-tiba menghangat dan bibirnya kembali melengkung membentuk senyuman seperti dulu.


Kalau begini terus, ia jadi bimbang antara marah dan juga bahagia.


_


_


_


_


_


_


_


Jangan lupa like, komen, dan juga votenya.


Berikan dukungan kalian pada author yah agar author makin semangat untuk update nya ❤️


tbc.

__ADS_1


__ADS_2