
"Lo gak lihat siapa yang masukin?" tanya Reza menatap nanar teman baiknya yang terlihat tak baik-baik saja.
"Gue gak liat bang, bahkan koper itu gue sendiri yang isi." Doni terlihat sedih, matanya saja sudah bengkak karena menangisi mochi tengah malam.
Reza mendapatkan panggilan dari Doni subuh tadi dan langsung bergegas ke rumah Doni. Setelah mendengar cerita temannya itu, Reza pun mulai menduga-duga.
"Apa mungkin Bima?" tanya Reza.
Doni tampak menggeleng putus asa, ia tak bisa menuduh begitu saja karena tak ada sedikitpun kejanggalan yang di perlihatkan Bima.
"Gue mau liat kopernya, Don." Doni pun menunjuk koper yang ada di dekat lemari. Dengan cepat Reza memeriksa koper yang berisikan kotak-kotak kue berlumuran darah.
Selain sedih karena Mochi, Doni juga sedih karena makanan yang ia bawa tak bisa lagi di makan. Padahal, ia bukanlah tipe yang suka membuang-buang makanan.
"Don, selain Lo yang pegang koper, siapa lagi?" tanya Reza.
"Keknya cuma gue deh, bang. Karena itu isinya oleh-oleh jadi gue lebih suka megang koper yang itu daripada koper baju gue. Kalau koper baju, Bima sama Rian juga udah pegang pas masukin sama keluarin dari mobil," jelas Doni menatap Reza bingung.
"Hm, Gue curiga kalau ini kelakuan Bima. Mungkin dia tau kalau lo yang ngintip waktu itu," ucap Reza kembali duduk di samping Doni.
"Ya, pas pagi itu dia sempat sih nyium mochi. Terus, pas gue kira mochi hilang, dia juga masuk kamar dan nanyain mochi," sambung Doni merasa ada yang janggal juga setelah dipikir-pikir.
"Apa di kamar lo waktu itu ada CCTV?" tanya Reza. Doni pun tampak berpikir.
"Eum, gak ada. Tapi, di luar kamar ada," jawab Doni kembali menerawang seisi penginapan mereka.
"Kita harus bisa ngambil rekaman CCTV itu duluan sebelum pelakunya, Don. Gue yakin, dia bakalan ngambil itu rekaman karena pasti dia keliatan di CCTV pas masuk ke kamar Lo," ucap Reza membuat Doni mengangguk mengerti.
"Gue bakalan kesana lagi," ucap Doni bertekad untuk membongkar siapa pelaku pembunuh Mochi.
"Gue gak bisa ikut, Don. Lo tau kan keadaan gue gimana, terus di rumah juga ada ibu mertua gue," ucap Reza tak enak hati. Di saat-saat seperti ini, ia malah tak bisa membantu teman yang sudah membantunya.
"Gak papa, bang. Lo awasin aja Bima. Kalau bisa, Lo sering ajak dia ketemu deh untuk dua hari ini. Jangan sampai dia punya waktu untuk ngambil rekaman itu," sahut Doni menepuk bahu teman baiknya.
"Oke deh, gue bakalan bantu sebisa mungkin."
****
Setelah dari rumah Doni, Reza pun bergegas pulang ke rumahnya. Tak enak juga jika ia berkeliaran di luar sedangkan di rumah ada ibu mertua.
Sebelum ke rumah, Reza menyempatkan diri mampir di toko kue lalu membeli beberapa kue yang ukurannya tidak terlalu besar. Ia akan terus mencuri hati ibu mertuanya agar selalu berpihak padanya.
Setelah membeli kue, Reza langsung masuk ke mobil dan melaju menuju rumahnya. Semoga, Alia juga mau memakan kue yang ia beli. Ia sangat jarang membelikan sesuatu untuk istrinya itu.
Ngomong-ngomong tentang membeli, Reza malah kepikiran membelikan Alia baju gamis. Ia pun tak langsung pulang dan memilih berhenti di toko baju muslimah yang menjual baju-baju gamis serta jilbab dan pashmina yang syar'i.
__ADS_1
"Ada yang bisa kami bantu, mas?" tanya salah seorang karyawan wanita.
Reza pun meminta karyawan itu untuk menunjukkan dimana letak gamis dan juga letak pashmina karena toko yang ia masuki lumayan besar.
"Kayaknya ini cantik deh, ukurannya juga pas sama Alia." gumam Reza memegang gamis warna maroon yang berhasil menarik perhatiannya.
"Yang ini satu ya, mbak." karyawan itu pun mengambil gamis yang ditunjuk Reza.
"Ada lagi, mas?"
"Saya mau beli pashmina yang ukuran besar ya, warna yang sama juga," ucap Reza.
Setelah semuanya ia dapatkan bahkan sampai dengan sepatunya sekalian, Reza pun langsung membayar belanjaannya lalu keluar dari toko dengan wajah yang bahagia.
Semoga Alia suka dengan hadiahnya.
Sesampainya ia di rumah, ia pun langsung memberikan kue itu pada ibu mertuanya yang kebetulan sedang duduk berdua dengan Alia.
"Reza beli kue, Bu. Dimakan ya," ucap Reza meletakkan kue itu di atas meja. Sengaja ia tak memberikan pada Alia karena ingin tau reaksi wanita itu.
"Alhamdulillah, makasih ya nak. Memang menantu idaman deh," puji Bu Sasmi menerima kue itu. Reza pun menyahut dengan senyuman manis.
"Ini untuk adek," ucap Reza memberikan paper bag isi gamis yang ia beli tadi.
"Ini apa?" tanya Alia. Awalnya ia sedikit kesal karena Reza hanya memberikan kue itu pada ibunya, sedangkan ia tak diberi apa-apa.
"Buka aja," ucap Reza duduk di depan Alia.
"Buka Alia, Ibu penasaran suami kamu beliin apa untuk kamu. Pasti isinya istimewa deh," ucap Bu Sasmi semangat. Alia yang diberikan hadiah, ibunya yang kegirangan.
Alia pun mengintip isi paper bag lalu mengeluarkan isinya satu-satu.
"Masya Allah, cantik banget." Tanpa sadar, wanita itu tersenyum senang saat mengetahui apa isinya.
"Suka?" tanya Reza sangat menyukai reaksi istrinya. Dari cemberut menjadi antusias.
"Iya, adek suka." Alia tak berbohong untuk hal itu, ia memang suka dengan hadiah yang diberikan suaminya.
"Masya Allah, cantik banget gamisnya. Ibu gak dibeliin?" ucap Bu Sasmi berniat bercanda, namun, ia tak tau jika menantunya itu menganggap serius perkataannya.
"Yaudah, ayo ke toko nya langsung Bu. Ibu bebas beli apa aja di sana," ajak Reza berdiri.
"Eh, ibu bercanda."
"Tapi Reza serius loh," ucap Reza benar-benar serius. Ia takut mertuanya beranggapan kalau ia perhitungan.
__ADS_1
"Nanti aja belinya, ibu masih malas buat keluar. Lain kali aja," ucap Bu Sasmi menyuruh Reza untuk kembali duduk.
"Yaudah, kalau ibu mau beli baju atau apapun itu, bilang sama Reza ya, biar Reza temenin."
"Oke," jawab Bu Sasmi mengedipkan sebelah matanya membuat Reza tertawa. Mertuanya ini benar-benar ramah dan humoris.
"Suka gak hadiah dari suaminya?" tanya Bu Sasmi memandangi Alia yang masih fokus dengan pemberian Reza.
"Suka Bu," jawab Alia mengangguk.
"Bilang apa dong sama suaminya?"
"Eum, makasih ya mas." Dengan malu-malu, Alia berterima kasih membuat Reza gemas ingin mencubit pipi istrinya.
"Sama-sama," jawab Reza.
"Loh, kok cuma makasih aja sih. Ibu dulu waktu ayah beliin gorengan aja ngasih hadiah cium di pipi. Kamu kok enggak sih?" tegur Bu Sasmi membuat Alia malu. Apa ia harus mencium suaminya di depan ibunya?
"Bilang makasih yang bener," lanjut Bu Sasmi menyenggol lengan Alia.
Alia pun mengangguk lalu berdiri dan mendekati suaminya.
"Makasih ya mas,"ucap Alia lalu mencium pipi Reza.
"Iya, sama-sama." Reza sangat senang dengan ucapan terimakasih itu lalu menatap sang ibu mertua yang kembali tersenyum sembari memberikan jempol.
_
_
_
_
_
_
_
Semangat untuk Doni yang bakalan membongkar pelakunya.
Semangat untuk Reza dalam memperjuangkan pernikahannya.
Typo pasti ada di setiap tulisan, mohon di komen ya jika menemukannya. Untuk kalimat yang tak nyambung atau bagus, boleh juga di komen.
__ADS_1
Intinya, beri kritikan dan saran yang membangun untuk penulisannya.❤️
Tbc.