
Pagi yang seharusnya menyenangkan menjadi tegang karena berita kalau Bima sudah pergi untuk selamanya. Mendengar itu, Reza langsung bergegas ke rumah sakit tempat Bima dibawa pihak polisi subuh tadi.
Bima ditemukan tak bernyawa diduga karena bunuh diri dengan cara menggigit lidahnya sendiri.
Di rumah sakit, sudah ada orang tua Bima dan juga Doni serta beberapa polisi.
Tampak wanita yang melahirkan Bima itu menangis pilu meratapi sang anak yang harus berakhir dengan cara yang salah. Sedangkan laki-laki yang menjadi pahlawan Bima hanya diam dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.
"Bima, bangun nak. Maafin mama gak jenguk kamu, maafin kami." Wanita elegan itu menangis memeluk jasad Bima yang terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit.
"Kenapa? Kenapa kamu mengakhiri hidup kamu kayak gini, nak?"
"Kenapa bisa gini, Don?" tanya Reza benar-benar syok. Ia tak menyangka jika Bima akan se-putus asa itu sampai memilih mengakhiri kehidupannya, mendahului Tuhan.
"Gue juga gak tau," jawab Doni menghela nafas berat. Bisakah mereka tak dikatakan bersalah dalam kejadian ini, karena mereka salah satu alasan keputusasaan Bima.
Tapi, kalau saja Bima lebih bersyukur dan tabah, pasti ini semua tak akan terjadi. Pasti laki-laki tampan itu tak akan memilih mendahului takdir Tuhan, pasti sekarang Bima masih bisa berpikir untuk bertaubat selama dalam tahanan.
Ini hanya perkara iman yang lemah saja.
"Om, Tante, kami turut berduka cita dan meminta maaf atas semua yang kami lakukan," ucap Reza menatap kedua orang tua Bima yang menangis dengan cara mereka sendiri.
"Ini bukan salah kalian, tak perlu meminta maaf. Ini semua salah kami yang gagal mendidik Bima dan tak menjenguknya saat di penjara. Bima pasti tertekan karena tak ada dari kami yang menjenguknya dan tak ada dari teman-temannya yang peduli lagi padanya," sahut Mamanya Bima.
Kalau saja Reza tau orang tua Bima tak datang, ia akan datang meski rasa kecewa dan sakit hatinya masih ada. Ia tak bisa menutupi rasa pedulinya pada Bima yang sudah lama berteman baik dengannya.
Siangnya, jasad Bima langsung dikebumikan di pemakaman keluarga. Semua teman-teman, kerabat saudara yang jauh maupun dekat datang untuk menyaksikan proses pemakaman Bima.
"Gue gak nyangka Bima bakalan berakhir gini," ucap Aldo menatap sendu gundukan tanah yang ditaburi bunga.
"Maafin kita Bim, karena belum sempat ngejenguk lo di penjara. Jujur kita kecewa sama lo, tapi, kita tetap nganggap lo sebagai teman terbaik kita. Tenang di sana dan semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa lo," lanjut Aldo meletakkan foto mereka bersama-sama dengan Bima. Foto yang menjadi andalan dan dijadikan foto profil grup.
"Semoga lo ditempatkan di sisi-Nya, Bim. Semoga dosa-dosa lo diampuni. Kita semua udah maafin lo sebelum lo minta maaf ke kita. Selamat jalan dan tenang di sana."
*******
Haruskah hidup itu di akhiri hanya karena sebuah keputusasaan, padahal kita punya Pencipta yang selalu mendengar keluh kesah kita. Betapa singkatnya pemikiran orang-orang yang mendahului takdir hanya karena sebuah, dua buah, tiga buah dan banyak masalah. Tak sadarkah mereka, jika kita mendahului takdir maka tak ada jaminan bagi kita untuk bisa meraih surga-Nya.
Masalah dunia berakhir, masalah akhirat menunggu.
__ADS_1
Bijaklah dalam memutuskan permasalahan dan tindakan. Semua masalah ada jalannya. Allah tak akan mungkin memberikan masalah dan beban diluar kemampuan hamba-Nya. Hamparkan sajadah mu, lalu bersujud dan bercerita lah pada sang Maha Pencipta.
*******
Beberapa Minggu kemudian.
Semuanya kembali seperti semula, begitu pula dengan pernikahan Reza dan Alia.
Di pagi yang cerah ini, keduanya tengah sibuk dengan pakaian sendiri karena akan pergi ke kampus.
"Sayang, tolong sisir 'kan rambut mas." Reza duduk di tepi ranjang sembari menyodorkan sisirnya pada sang istri. Dengan lembut, Alia menyisir rambut Reza sembari sesekali mencium pucuk kepala suaminya.
"Rambut mas wangi banget," puji Alia. Reza pun langsung menarik pinggang istrinya lalu melingkarkan tangannya dan menyandarkan kepalanya di antara dada dan perut Alia.
"Loh kok ada yang nendang-nendang sih?" tanya Reza membuat Alia tertawa.
"Mana ada yang nendang, sayang. Positif aja belum," sahut Alia tersenyum lembut, padahal hatinya mulai sedih.
"Udah di cek?" tanya Reza masih memeluk istrinya, enggan untuk melepaskan.
"Eum, Minggu ini belum sih. Tapi, kayaknya belum deh, mas. Soalnya dua Minggu lalu kan udah di cek dan belum positif," jawab Alia tersenyum sendu. Melihat itu, Reza langsung mengelus punggung istrinya.
"Sini, duduk dipangkuan mas." Reza menarik lembut istrinya untuk duduk di pangkuannya.
"Kesayangannya mas makin berat ya," ledek Reza mencoba mencairkan suasana.
Alia langsung tertawa mendengar itu, ia juga merasa berat badannya naik.
"Kayaknya adek terlalu bahagia deh, jadi banyak makan dan berat badan adek naik," ucap Alia ingin berdiri takut suaminya keberatan, tapi langsung dicegat suaminya.
"Eum, senangnya mas denger kalau kamu bahagia hidup bareng mas."
"Tapi adek bener-bener berat loh mas, kayaknya besok pagi adek harus olahraga deh," ucap Alia memperlihatkan pergelangan tangannya.
"Nanti sama mas aja olahraga nya yah, biar bisa keringetan bareng."
"Ih, apaan sih mas. Jangan mesum," ucap Alia memukul pelan lengan Reza.
"Loh, siapa yang mesum? Kan olahraga memang keringetan, sayang. Kamu nya aja yang mikirnya macem-macem," sahut Reza tersenyum meledek. Alia pun menutup wajahnya karena malu.
__ADS_1
"Kenapa? Pengen keringetan yang enak-enak sama mas ya?" lanjut Reza mencolek dagu Alia.
"Ih, mas. Udah ah, adek mau pakai hijab dulu. Keburu telat kalau ladenin mas terus," ucap Alia pura-pura kesal lalu berdiri dan mengambil pashmina ukuran jumbo itu dan mulai mengenakannya.
"Gemes banget sih istri mas ini, pengen ngajak bobok enak-enak deh," ucap Reza memperagakan kedua tangannya seperti sedang meremas sesuatu membuat Alia bergidik.
"Cantiknya," puji Reza saat Alia sudah selesai memakai hijabnya.
"Dulu bilangnya adek ini jelek, sekarang udah ganti jadi cantik." Reza langsung tertawa lepas mendengar itu, kalau diingat-ingat memang lucu sih. Dulu ia sangat ilfil pada istrinya, tapi sekarang ia malah cinta mati pada wanita yang pernah ia hina jelek.
"Itukan masa lalu," ucap Reza berdiri dan mengambil tas nya serta kunci mobil.
"Naik motor aja yuk," ajak Alia ingin mencari suasana baru.
"Boleh," jawab Reza mengangguk.
"Tapi motor nya jangan yang buat patah pinggang. Motor matic aja, kalau enggak, adek gak mau naik," ucap Alia langsung diangguki Reza.
"Pakai sepeda pun boleh, sayang. Asalkan itu sama kamu."
"Genit."
"Kalau gak genit gak dapet jatah tiga kali," sahut Reza tertawa lepas sembari mencolek pipi Alia yang mulai chubby.
_
_
_
_
_
_
Gak tau mau kasih judul apa. wkwkwkwk. Antara sedih, bahagia bercampur aduk.
Maaf ya baru Update, soalnya author sedang nyusun jurnal. Maklum, mahasiswa akhir, wkwkwk. Minta doa nya ya, agar dipermudahkan.
__ADS_1
Utamakan shalat dan membaca Al-Qur'an sebelum membaca novel ini ❤️
tbc.