Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri
Bab 41. Menjumpai Alia di kampus.


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Masa libur semester sudah berakhir, kini waktunya menyusun stamina dan otak untuk kembali beraktivitas di kampus.


Doni juga sudah pulang dari kota tempat mereka liburan kemarin dan sudah mengantongi bukti CCTV yang hasilnya benar-benar tidak jelas.


Dalam CCTV itu memang ada orang yang masuk ke kamar Doni dengan membawa satu kantong plastik hitam di tangannya yang ia duga mochi. Tapi, laki-laki itu memakai masker serta topi. Dan di waktu yang sama, Rian dan Bima juga ada di rekaman CCTV saat kedua saudara itu tengah berada di dekat kolam renang.


Jadi, bukan Bima pelakunya atau ada konspirasi di sini. Doni dan Reza juga tak tau. Mereka harus menyelidiki lebih lanjut lagi untuk mengetahui siapa laki-laki itu.


Hari ini tepatnya hari Senin, Reza akan menemui dosen pembimbingnya untuk Konsul, sedangkan Alia juga melakukan hal yang sama.


"Mau barengan sama mas?" tanya Reza memeluk istrinya yang tengah memakai pashmina.


"Mas, jangan di peluk. Susah tau benerin pashmina nya," gerutu Alia kesal.


Reza pun tertawa kecil lalu melepaskan pelukannya, namun, sebelum itu ia mencium pipi Alia.


Hubungan mereka perlahan membaik, Alia sudah mulai mencair dan Reza pun sangat bahagia akan hal itu.


"Mau barengan sama mas?" tanya Reza sekali lagi.


"Enggak deh mas, nanti mas malu lagi kalau barengan sama adek," jawab Alia dengan ekspresi datar. Walau sudah sedikit mencair, tapi masih ada hati yang beku. Reza akan berusaha untuk mencairkan semuanya.


"Enggak kok, mas gak bakalan malu punya istri kayak kamu. Mas malahan bangga banget bisa nikah sama wanita sebaik kamu," ucap Reza membuat pipi Alia memerah.


"Enggak ah, mas. Untuk sekarang gak dulu," ucap Alia kembali menolak.


"Kalau gitu mas siapin mobil sekalian sama supirnya yah. Gak ada penolakan untuk kali ini!" tegas Reza. Alia yang ingin menolak pun memilih bungkam.


"Mau berangkat kuliah ya?" tanya Bu Sasmi saat Reza sudah turun ke bawah.


"Iya, Bu." Reza pun menyalim mertuanya itu. Bu Sasmi memang belum pulang karena Alia masih menahan ibunya itu.


"Alia mana?" tanya Bu Sasmi menatap ke arah tangga.


"Alia nanti turun sebentar lagi, dia naik mobil yang beda sama Reza."


"Loh, kenapa?" tanya Bu Sasmi heran.


"Katanya belum siap, Bu."


"Owalah, yaudah deh. Yang penting kalian gak marahan lagi," ucap Bu Sasmi diiringi senyuman ramahnya.


Reza pun pamit pergi duluan meninggalkan sang ibu mertua yang masih berdiri di depan pintu rumah.

__ADS_1


Sebelum menuju kampus, ia melaju menuju rumah Doni karena temannya itu minta di jemput. Berhubung Alia tak mau semobil dengannya, ia pun mengiyakan permintaan Doni. Sesampainya di depan rumah Doni, temannya itu pun langsung masuk ke mobilnya.


"Kakak ipar gak mau semobil bareng lo?" tanya Doni saat ia sudah masuk di mobil.


"Iya," jawab Reza melajukan mobil menuju kampus.


"Kenapa? Masih marahan ya?" tanya Doni.


"Enggak terlalu marah lagi sih, mungkin belum siap aja."


"Lo harus jujur sama teman-teman lainnya kalau lo udah nikah dan kakak ipar lah istri lo!" ucap Doni menatap Reza yang fokus mengendarai mobil.


"Harus hari ini?" tanya Reza ragu


"Semakin cepat, semakin baik, bang. Lo gak mau kan Bima ngelakuin hal-hal yang lebih ekstrim," jawab Doni memberi saran.


"Kalau teman-teman kita udah pada tau, yang jelas mereka bakalan dukung Lo kalau sampai Bima ngelakuin hal bejat lainnya," lanjut Doni.


"Apa gak kita bongkar aja langsung kejahatan dia, Don?" tanya Reza. Walau Doni lebih muda darinya, tapi pemikiran Doni sangatlah cerdik.


"Jangan dulu, bang. Kita harus ngejebak dia dulu. Kalau kita langsung bongkar sekarang dan lo nuntut dia, dia gak bakalan lama di penjara. Kita harus nyusun rencana matang agar dia mendekam selamanya di penjara!" jawab Doni. Ada tatapan kemarahan di mata laki-laki itu, karena Doni masih terus berpikir jika Bima lah yang membunuh mochi.


"Oke Don, nanti kita bicarakan mengenai rencana itu." Doni pun mengangguk mengerti.


"Nanti tungguin gue pulang ya," ucap Doni saat Reza mendahuluinya.


"Oke."


Reza pun berjalan menuju ruangan dosen pembimbingnya. Di perjalanan, tak sengaja ia berpapasan dengan Bima yang baru saja keluar dari ruangan dosen lain.


"Pagi, bang." Bima menyapa, mau tak mau Reza pun menyapa balik.


"Mau Konsul ya?" tanya Bima basa basi.


"Iya, Lo udah?" jawab Reza ikut basa-basi.


"Belum, ini ada berkas yang kurang. Gue duluan yah mau ke tempat fotokopi," ucap Bima pamit, Reza pun mengangguk dan memilih masuk ke ruangan dosen pembimbingnya.


******


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang, Reza baru saja selesai Konsul karena ada banyak mahasiswa yang Konsul juga dengan dosen pembimbingnya hari ini, jadi, ia harus sabar mengantri.


Setelah selesai Konsul, ia ada janji dengan teman-temannya untuk berkumpul di kantin jam 11 siang. Karena masih tersisa setengah jam lagi, ia pun memilih ke fakultas pertanian. Ia ingin melihat Alia, semoga wanita itu belum pulang.


Saat ia sampai di fakultas istrinya itu, Reza langsung mencari Alia.

__ADS_1


Alia yang melihat kehadiran Reza pun menjadi salah tingkah karena ada teman-temannya di dekatnya.


Reza melambaikan tangannya sembari tersenyum dan berjalan ke arah istrinya membuat wanita yang ia cintai menjadi semakin gelisah.


Alia pun berpamitan pada teman-temannya lalu menghampiri Reza.


"Mas ngapain kesini?" tanya Alia menarik Reza ke tempat lain agar teman-temannya tak melihat.


"Mau liat istri mas lah," jawab Reza dengan full senyum.


"Mas kangen sama kamu," ucap Reza ingin memeluk Alia. Namun, wanita itu langsung menghindar.


"Mas, banyak orang di sini. Jangan sembarangan meluk aja," tegur Alia. Bukan ia tak mau orang-orang tau, ia hanya belum siap menjadi perbincangan.


"Yaudah, nanti di rumah yah." Reza pun mencium pipi Alia dengan cepat lalu kabur saat Alia ingin protes.


Sepeninggalan Reza, Alia menyentuh pipinya sembari tersenyum malu.


Kembali pada Reza yang berjalan sembari tersenyum senang ke arah kantin. Hal itu membuat para mahasiswa yang dilewatinya tercengang, tak biasanya Reza yang terkenal cuek itu tersenyum sendirian.


"Wah, ketua kita udah datang nih. Keliatannya lagi bahagia," ucap Aldo saat melihat Reza berjalan mendekat.


"Bahagia banget, bang."


Reza pun hanya membalas senyum saja lalu ikut bergabung dengan teman-temannya.


"Ceritain dong kebahagiaan Lo," ucap Rian menepuk bahu Reza. Laki-laki itu pun menatap Bima yang juga menatapnya. Mendapat tatapan dari Reza, Bima langsung mengalihkan tatapannya.


"Gue bakalan ceritain kebahagiaan gue," ucap Reza sembari menatap Doni yang mengangguk.


"Sebenarnya, gue udah nikah."


Brak!


*******


Wah, gimana yah reaksi teman-teman Reza kalau tau Reza udah nikah dan wanita yang di sukai Bima adalah istrinya Reza.


Di pantau terus yah kelanjutannya.


Maaf gak bisa update teratur dalam beberapa hari ini. Karena, author lagi mau Konsul terus juga mau berlayar nih. Jadi, banyak urusan yang harus di selesaikan dulu❤️


terimakasih sudah menunggu yah.


tbc.

__ADS_1


__ADS_2