Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri
Bab 49. Menangkap Bima.


__ADS_3

"Gue bakalan tetap maafin lo, Bim. Kita semua bakalan maafin lo meski Lo gak minta maaf sekaligus, tapi, hukum akan tetap berjalan. Orang kayak Lo gak bakalan bisa berubah kalau gak dikasih hukuman yang setimpal," ucap Reza bijak. Walau ia kecewa pada temannya itu, tapi, ia masih mau memaafkan karena mengingat mereka adalah teman baik waktu dulu.


"Gue mohon jangan, Za. Gue gak mau dipenjarain. Gue malu dan takut kalau digebukin di penjara nanti," bujuk Bima sembari menahan tangisnya.


"Tangisan Lo gak bakalan merubah apapun, Bima. Lo yang memulai, Lo juga yang harus mengakhiri semuanya!" sahut Doni tegas.


"Tapi gue teman kalian!" teriak Bima emosi.


"Lo sadar kalau kita temenan, Bim! Tapi Lo tega mau ngerusak rumah tangga gue dan bahkan mau ngelecehin istri gue!" bentak Reza keras. Bima langsung terdiam mendengar itu karena semuanya benar.


"Untungnya kita semua udah mikirin ini sebelumnya. Lo pasti mikirnya kalau bang Reza benar-benar ke luar kota, padahal itu cuma strategi kita doang buat ngejebak Lo. Kita yakin, Lo bakalan lancarin rencana busuk Lo kalau bang Reza gak ada. Makanya bang Reza pura-pura ke luar kota dan yah, benar aja kan tebakan kita." Doni tersenyum sinis setelah menjelaskan itu, begitu juga dengan Reza.


"Lo bahkan nunjukin ke kakak ipar kalau bang Reza korban dari pesawat jatuh, padahal gak ada tuh pesawat yang jatuh tadi pagi. Lo licik banget Bim, kita gak bisa ngelepasin Lo di alam bebas lagi karena tingkah Lo udah kelewat batas!" lanjut Doni mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Kalian boleh masuk," ucap Doni menyuruh beberapa orang yang sudah menunggu lama di luar rumah untuk masuk.


Bima pun tak tau mau mengatakan apa, laki-laki itu benar-benar sudah mati kutu karena apa yang dikatakan teman-temannya sekali lagi memang benar.


Beberapa menit kemudian, sejumlah polisi masuk ke dalam kamar. mereka langsung membawa Bima dengan paksa atas perintah Reza.


"Makasih ya paman," ucap Doni pada seorang polisi yang merupakan pamannya.


"Gak masalah, dia memang bersalah jadi harus segera di proses. Jangan lupa siapkan bukti untuk menjerat Bima," balas paman Doni lalu pergi membawa Bima keluar dari rumah.


"Ayo sayang, kita pulang. Semuanya udah beres, kita tinggal menunggu jadwal sidang nya aja," ajak Reza menggenggam tangan Alia agar wanita itu kembali semangat karena dilihat dari wajah istrinya itu, Alia tampak tertekan.


Alia hanya diam, semua terjadi begitu cepat dan juga tak terduga. Ia pun berjalan mengikuti kemanapun arah Reza berjalan hingga membawanya ke dalam mobil.


Di liriknya sekilas dimana Bima yang berusaha memberontak tak mau masuk ke mobil lalu dipaksa masuk oleh dua orang polisi. Alia memalingkan wajahnya lalu menutup matanya, tubuh dan hatinya sangat lelah sekarang. Ia perlu istirahat sejenak untuk menenangkan pikirannya.


"Sayang, kamu gak apa-apa kan?" tanya Reza membawa Alia ke dalam pelukannya. "Kita ke rumah sakit ya buat ngobatin lembam nya," lanjut Reza khawatir.

__ADS_1


"Gak usah, mas. Nanti di kompres aja pakai air hangat. Adek cuma mau pulang ke rumah," sahut Alia pelan.


Tak ada lagi percakapan setelah itu karena Alia sudah tertidur, sedangkan Reza sesekali mencium kepala istrinya yang dibaluti kain hijab.


Sesampainya di rumah. Reza langsung membawa Alia ke kamar, laki-laki itu sangat khawatir dengan keadaan istrinya, hatinya sakit melihat luka di wajah Alia. Sungguh ia tak akan membiarkan Bima bebas dengan mudah.


"Adek mau mandi dulu," ucap Alia saat Reza sudah menurunkannya dari gendongan.


"Mau mas ikut sekalian? Biar kita bisa main gosok-gosok-an badan," tawar Reza mengedipkan sebelah matanya. Alia tersenyum kecil menanggapi itu, ia tak bisa tersenyum lebar seperti biasanya karena sudut bibirnya yang robek.


"Nanti aja main gosok-gosok-an badannya, kalau adek udah sehat." Reza mengangguk patuh lalu duduk di tepi ranjang. Laki-laki itu akan menunggu Alia hingga selesai mandi.


Tak lupa Reza mengambilkan baju tidur untuk Alia, ia memilih baju yang nyaman dan tidak merepotkan agar istrinya bisa beristirahat dengan nyaman. Tak lupa Reza juga menyiapkan air hangat dan kain bersih untuk mengompres luka Alia nanti.


Setelah selesai mandi, Alia langsung memakai pakaian tidur yang dipilihkan Reza lalu menyisir rambutnya dan kemudian berbaring di ranjang. Reza pun mulai mengompres wajah Alia yang lembam, tak lupa bibir istrinya yang luka.


"Astagfirullah, mas. Pelan-pelan," pekik Alia merasa perih saat permukaan kain yang sudah di rendam air hangat mengenai sudut bibirnya.


"Maaf sayang, mas bakalan lebih pelan." Reza mengompres luka Alia lebih pelan lagi, bahkan sangat berhati-hati.


Mata Alia langsung berkaca-kaca, wanita itu menggeleng lemah membuat Reza menjadi bingung. Apa ia salah tanya atau melakukan kesalahan.


"Kenapa sayang, masih sakit ya?" tanya Reza pelan.


"Adek kira mas benar-benar pergi ninggalin adek, adek bahkan sempat mikir kalau adek lebih baik mati aja. Mas kalau buat rencana gitu bilang-bilang dulu sama adek biar adek gak kaget," tangis Alia pilu. Sedari tadi ia menahan tangisnya, akhirnya lepas juga tangisan yang sudah ia tahan.


"Adek gak mau mas tinggalin adek lagi, kemanapun mas pergi adek harus ikut!" lanjut Alia. Reza pun langsung memeluk istrinya untuk menenangkan wanita itu. Seharusnya ia mengatakan terlebih dahulu rencananya sebelum bertindak agar Alia tak terkejut dan juga syok.


"Maafin mas ya, ini terakhir kalinya mas buat kamu khawatir. Mas janji kedepannya bakalan libatin kamu sama semua urusan mas," ucap Reza mencium kening Alia. Hatinya juga sangat sakit melihat istrinya yang harus merasakan luka tubuh dan juga luka hati.


Alia pun kembali mengatur nafasnya, tangisnya sudah berhenti meski masih sesegukan.

__ADS_1


"Jadi mas bener-bener gak naik pesawat waktu itu?" tanya Alia masih penasaran dengan kronologi kedatangan Reza.


"Enggak, mas gak naik pesawat cuma datang ke bandara aja lebih cepat, biar kamu juga cepat pulangnya dan gak nungguin mas masuk ke pesawat dulu. Maaf yah mas udah bohongi kamu," jawab Reza mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Setelah kamu pergi, mas langsung pergi juga. Mas juga ngikutin kamu kemanapun kamu pergi secara diam-diam. Cuma, mas agak telat datang karena ban mobil bocor dan akhirnya pakai mobil Doni deh. Maaf ya karena mas telat datang, kalau aja mas datangnya cepat, pasti luka ini gak bakalan kamu dapatin. Maafin mas," lanjut Reza benar-benar merasa bersalah. Gara-gara keterlambatannya, istrinya harus menerima beberapa pukulan dari Bima.


"Gak papa kok, adek ngerti. Mau gimanapun itu cerita mas, adek bakalan coba memahami. Adek gak berharap hal-hal lain kayak mas datangnya cepat atau hal lainnya. Yang adek harapkan agar mas sehat-sehat selalu dan selalu bisa di dekat adek," sahut Alia tersenyum manis. Wanita itu tiba-tiba saja meringis merasa sakit saat tersenyum lebar.


"Pelan-pelan sayang, jangan dipaksakan. Gak senyum juga tetap cantik kok. Kalau hatinya udah cantik, wajahnya juga cantik," ucap Reza sembari kembali mengompres sudut bibir Alia.


"Mas bisa aja deh."


"Bisa apa sayang?" tanya Reza tersenyum genit.


"Bisa menangin hati adek," jawab Alia membuat Reza langsung tertawa.


"Ih, gemes." Reza langsung menghujani wajah Alia dengan ciuman membuat wanita itu sesekali meringis.


"Ya Allah. Mas minta maaf sayang, mas kelepasan."


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan juga votenya.


Tbc


__ADS_2