Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri
Bab 37. Tak bisa seperti dulu.


__ADS_3

"He, janda kesepian!" panggil Doni. Saat ia tengah mencari seorang janda yang hamil tua, ia langsung dipertemukan dengan orang yang ia cari.


"Apa maksud kamu?" tanya Nadia kesal. Ia sengaja ke pantai untuk menenangkan pikirannya, malah bertemu dengan orang yang membuatnya kesal.


"Lo ngejebak bang Reza kan? Lo sekongkol sama Bima kan?" tuduh Doni.


Nadia pun langsung memalingkan wajahnya, menyembunyikan raut wajah terkejutnya.


"Lo akuin sekarang juga kalau enggak, gue bakalan bakar rumah lo!" ancam Doni.


"Aku gak ngejebak kak Reza kok. Memang dia yang mau tidur bareng aku," ucap Nadia santai.


Doni pun seketika langsung tertawa lalu berjalan mendekati Nadia.


"Akui sekarang atau lo gak bakalan bisa ngeliat dunia besok!" ancam Doni seperti tengah memeluk Nadia dari belakang. Padahal, jika ada yang melihatnya dari depan, barulah terlihat jika Doni menempelkan sebuah pisau di perut Nadia.


"Ja-jangan!" Nadia benar-benar takut jika laki-laki yang dibelakangnya ini melukainya.


"Akui sekarang!"


"Ba-baik."


Doni pun menyalakan perekam suara lalu merekam pengakuan Nadia. Setelah itu, ia langsung melepaskan Nadia.


"Ah, gue kira bakalan susah kayak di film-film. Ternyata, mudah banget ya nangkap penjahat kayak kalian," ucap Doni sembari membersihkan bajunya seolah-olah jijik karena sudah memeluk Nadia dari belakang.


"Kayaknya gue harus mandi wajib deh," gumam Doni lalu pergi meninggalkan Nadia yang masih gemetaran. Kenapa ia bisa berurusan dengan orang-orang yang mengerikan.


Di sisi lain. Reza tengah berkutat dengan laptopnya memeriksa keuangan yang masuk dan keluar di usahanya. Ia bukan tak mau pergi mencari bukti ke kota tempatnya berbulan madu dan berakhir dengan kesalahpahaman. Ia tak bisa meninggalkan Alia di rumah, ia takut Alia pergi saat ia tengah mencari bukti.


Lagi pula, sudah ada Doni. Dengan rekaman suara Bima yang dikirimkan Doni waktu itu saja sebenarnya sudah cukup. Tapi, Doni mengatakan untuk menunggu rekaman pengakuan suara Nadia.


Reza pun menuruti saja, ia tak akan banyak membantah karena di sini, ialah yang membutuhkan Doni.


Saat Reza masih fokus pada laptopnya, bunyi pesan masuk pun terdengar. Dengan cepat laki-laki itu memeriksa pesan yang ternyata dari Doni.


Ada rasa plong dihatinya saat mendengar suara rekaman dimana Nadia mengakui semuanya.


"Makasih banyak, Don. Gue janji bakalan traktir Lo satu Minggu penuh," balas Reza.


Reza pun langsung berjalan menuju kamarnya dimana Alia mungkin masih tidur ataupun hanya duduk di kamar.


"Alia, Alia!" panggil Reza masuk ke kamar. Namun, yang dicari tak ada di kamar maupun di kamar mandi.


Reza pun keluar dari kamar dan mencari ke dapur, namun, tetap tak ada.


Kemana istrinya itu?


Kemana Alia pergi?


Jantungnya mulai berpacu dengan langkah kaki yang cepat ia mencari keberadaan istrinya.


"Anda mencari nona, tuan?" tanya salah satu pembantu.


Reza pun mengangguk.


" Nona ada di belakang, sedang....

__ADS_1


Belum juga pembantu itu selesai bicara, Reza sudah berlari ke belakang. Ketakutannya perlahan sirna saat melihat Alia tengah berusaha mengambil jambu dengan menggunakan kayu yang panjang.


"Sini mas bantuin," ucap Reza mengambil alih kayu itu lalu mengambil jambu madu yang diinginkan Alia.


Setelah mendapatkan jambu itu, Reza langsung mencuci dengan air keran di dekat mereka.


"Ini," ucap Reza memberikan tiga buah jambu.


Alia pun menerimanya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Mas udah dapat buktinya," ucap Reza antusias. Alia menatap suaminya tanpa berniat bertanya ataupun merespon.


Reza langsung memutar rekaman suara yang dikirim Doni, dari rekaman Bima yang tengah menghubungi seseorang hingga pengakuan Nadia.


Reza harap, setelah ini Alia akan memaafkannya.


"Ini bukti screenshot kalau rekaman ini di ambil di tanggal sewaktu kita ke pasar beli oleh-oleh," ucap Reza memperlihatkan bukti screenshot yang dikirim Doni juga.


"Alia, kamu percaya kan?" tanya Reza penuh harap.


Alia pun mengangguk pelan lalu kembali fokus pada jambu nya.


"Berarti mas udah dimaafin?" tanya Reza lagi.


"Adek maafin mas kok," jawab Alia tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Kalau gitu, kita bisa kayak dulu lagi kan?" tanya Reza.


Kali ini Alia menggeleng membuat senyuman di bibir Reza langsung menghilang.


"Tak ada gelas yang utuh setelah di pecahkan meski sudah diperbaiki sebisa mungkin. Tetap saja, gelas itu tak akan seperti semula," ucap Alia menatap suaminya.


"Pernikahan kita memang akan berlanjut dengan semestinya karena mas udah bisa buktiin perkataan mas kemarin, tapi, masalah hati, adek gak bisa bohong kalau adek udah mati rasa untuk segalanya yang bersangkutan dengan mas Reza." Lanjut Alia kemudian menatap ke depan.


"Adek gak tau, apakah nanti pernikahan ini tetap berlanjut atau tidak, karena salah satu dari kita sudah tak ada rasa." Setelah mengatakan itu, Alia meninggalkan Reza yang duduk di bawah pohon jambu sembari menatap kosong ke depan.


"Sesulit itukah membuat kamu untuk kembali mencintai mas?" lirih Reza mengusap kasar wajahnya.


Di dalam rumah, Alia menyeka air matanya. Ia menjadi lega karena semua kejadian buruk itu hanyalah sebuah salah paham alias suaminya di jebak.


Ia tak menyangka, Bima bisa melakukan itu hanya untuk mendapatkannya. Ia tak menyangka juga Nadia yang seorang wanita sanggup melukai hati wanita lain.


Ia lega karena semuanya sudah terbongkar.


Namun, masalah hati. Jujur, ia tak bisa seperti dulu lagi. Rasa yang dulu menggebu-gebu perlahan hilang tertutup rasa benci dan juga marah.


Bolehkah untuk sekarang, hatinya beristirahat dulu.


******


Di sisi lain.


Doni yang baru saja pulang mendapati Rian dan Bima tengah makan.


"Lo darimana aja? Tumben pagi-pagi udah berkeliaran," tanya Bima.


Doni pun ikut duduk lalu menyantap makanan yang ada di meja makan.

__ADS_1


"Biasa, nyari cewek. Mana tau ada yang cantik," jawab Doni di sela makannya.


"Dapat ceweknya?" tanya Rian.


"Enggak! Malahan gue ketemu cewek jelek tadi," jawab Doni membuat kedua laki-laki di depannya itu tertawa.


Yang dimaksud Doni itu adalah Nadia.


Setelah selesai makan, Doni pun menuju kamarnya dan membuka kunci kamar.


"Mochi, papa pulang."


Laki-laki itu mencari-cari kucingnya yang tak terlihat bulunya sedari ia masuk.


"Mochi," panggil Doni.


Laki-laki itu pun menatap jendela kamarnya yang terbuka.


"Apa dia kabur?" gumam Doni menatap ke arah luar. Jika sudah kabur akan sulit menangkapnya.


"Semoga kamu dapat majikan yang baik ya, nak." Doni juga tak bisa mencari mochi karena ia harus berberes.


"Mana kucing lo?" tanya Bima masuk ke kamar Doni membuat laki-laki itu terkejut.


"Gue hampir aja jantungan," ketus Doni kesal.


"Hahaha, mana kucing lo?" tanya Bima lagi sembari tertawa.


"Kabur kayaknya," jawab Doni merasa sedih.


"Kok kabur sih? Kan dia kucing peliharaan," tanya Bima duduk di ranjang Doni sembari menatap laki-laki yang tengah membuka lemari baju.


"Mungkin karena gue kelamaan di luar dan jendelanya kebuka," jawab Doni.


"Yah, padahal gue suka banget sama kucing Lo itu." Doni langsung berbalik menatap Bima dengan kening yang berkerut.


"Kucing gue udah lama di depan mata Lo dan baru sekarang lo suka sama dia?"


_


_


_


_


_


_


_


Kira-kira gimana ya perjalanan pernikahan Reza dan Alia? Apalagi nanti di kampus. Apa Reza bakalan ngakuin Alia sebagai istrinya di depan teman-temannya?


Terus, mochi pergi kemana ya?


Tinggalkan jejak dengan like dan komennya. beri kritikan untuk tulisan maupun susunan kalimatnya ya❤️

__ADS_1


tbc.


__ADS_2