
Malam sudah tiba, kini ketiga manusia itu duduk di meja makan.
"Di ambilin dong nasi suaminya," ucap Bu Sasmi saat tak melihat pergerakan Alia mengambil nasi Reza.
"Gak usah, Bu. Reza bisa ambil sendiri kok," tolak Reza pelan.
Reza pun mengambil sendiri nasinya membuat Alia menjadi bingung. Dulu, ia memang melakukan itu, tapi sekarang, ia sedikit enggan untuk melakukan itu.
"Maafkan Alia ya, nak Reza." Reza langsung mengangguk dan mengambil juga lauk serta sayur ke dalam piringnya.
"Ayo dimakan Bu," ucap Reza mempersilahkan. Mereka bertiga pun makan dengan tenang tanpa berbicara, karena bicara saat makan sebenarnya tak sopan.
Setelah selesai makan, Reza pamit ke kamar untuk menyelesaikan sisa pekerjaan, sedangkan Alia memilih duduk bersama sang ibu.
"Semarah apapun kita sebagai seorang istri, selagi kita masih berstatus istri, kita harus melayani suami, Alia." Bu Sasmi menatap sang putri yang sedari tadi hanya diam.
"Tapi, Alia belum bisa untuk baik-baik aja, Bu." Alia menatap sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa begitu? Apa masalahnya sebesar itu?" tanya Bu Sasmi memancing Alia untuk bercerita. Bukan ia tak percaya dengan perkataan menantunya, hanya saja, ia ingin mendengar dari kedua belah pihak agar mendapatkan solusi yang baik.
Alia pun mulai menceritakan segalanya, ia juga menceritakan sikap Reza selama ini. Tak ada yang ia kurangi maupun ia lebihkan. Semuanya sesuai dengan fakta.
Mungkin, dengan bercerita pada ibunya, ia bisa sedikit merasa lega dan mendapatkan solusi untuk permasalahannya.
"Semuanya salah paham, jadi, kenapa kamu masih marah?" tanya Bu Sasmi menggenggam tangan Alia.
"Alia kecewa, Bu. Entahlah, Alia kecewa aja." Alia juga tak tau kenapa ia sulit untuk menerima kembali, ia benar-benar kecewa.
"Setiap orang itu punya kesalahan masing-masing, nak. Sekarang suami kamu sudah mengakui semua kesalahannya, bahkan sikap kasarnya selama ini. Apa itu masih kurang, nak?"
"Entahlah, Bu. Alia masih belum bisa membuka hati. Biar saja kata orang Alia egois atau lebay, toh mereka gak ngerasain apa yang Alia rasa. Alia ingin istirahat sebentar dari masalah cinta, Bu." Alia membaringkan tubuhnya dengan kepala yang bersandar di pangkuan sang ibu.
"Ibu gak ngelarang kamu untuk beristirahat sebentar, tapi saran ibu, jangan lama-lama. Jika hati terlalu lama beristirahat, maka dia akan menjadi keras." Bu Sasmi mengelus lembut rambut putrinya membuat yang dielus menutup mata.
"Iya Bu, Alia akan usahakan nanti."
Setelah berbincang hangat dengan sang ibu, Alia pun pamit masuk ke kamar. Sang ibu juga terlihat lelah, jadi, ia harus membiarkan ibunya beristirahat.
Di dalam kamar, Alia melihat suaminya sudah ada di sana. Reza tampak tidur di sofa sembari tangan menutupi matanya.
Alia sedikit ragu untuk membangunkan suaminya, ia memilih masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan menggosok gigi.
Setelah selesai dari kamar mandi, Alia duduk di tepi ranjang sembari merapikan rambutnya yang terurai panjang. Matanya tak lepas dari sang suami yang masih tidur di sofa.
Alia tak tega jika Reza tidur di sofa. Ia pun berjalan mendekat dan membangunkan suaminya itu.
"Mas, bangun. Jangan tidur di sofa," ucap Alia menepuk pelan lengan suaminya.
__ADS_1
"Mas." Reza pun tampak menggeliat lalu menatap istrinya.
"Iya?" tanya Reza dengan suara serak.
"Jangan tidur di sofa, tidur di kasur yuk."
"Hm." Reza pun bangun dari tidurnya, ia memang tak berniat tidur di sofa, tadi, ia hanya sekedar berbaring saja sembari memainkan ponselnya. Tak taunya, ia malah tertidur.
Di atas ranjang, Reza langsung memeluk Alia dengan erat. Menciumi pipi Alia dan juga bibir wanita itu.
"Aku mencintaimu," bisik Reza kemudian kembali tertidur.
Alia pun menatap wajah tenang suaminya lalu ikut tertidur.
*******
Di sisi lain.
Doni dan yang lainnya sudah berada di mobil beberapa jam yang lalu. Perjalanan yang panjang hingga larut malam tak mengganggu mereka, karena Bima dan Rian akan bergantian mengemudi jika lelah.
Doni yang duduk di kursi belakang sedari tadi hanya diam. Sudah beberapa jam perjalanan bahkan mereka hampir tiba di kota, tapi tetap saja laki-laki itu enggan membuka suaranya. Ia masih memikirkan kucingnya yang hilang entah kemana.
"Kita nginap di hotel lagi apa enggak? Udah malam banget soalnya," tanya Bima masih fokus menyetir.
"Gak usah, Bim. Gue capek, pengen cepat sampai rumah." Doni tak mau singgah lagi ke tempat lain, tujuannya hanya ingin sampai di rumah dengan cepat.
Beberapa jam kemudian.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya Doni sampai juga di rumahnya.
Bima dan Rian membantu mengeluarkan koper Doni lalu berpamitan untuk pulang.
"Sampai jumpa di lain waktu," ucap Rian. Doni pun melambaikan tangannya mengantar teman-temannya hingga di depan gerbang.
Hufft
Lelah.
Doni langsung masuk ke rumah yang sudah sunyi. Pasti kedua orang tuanya sudah tidur.
"Langsung saya bawa ke kamar kopernya, tuan?" tanya penjaga rumah Doni.
"Iya," jawab Doni pergi ke dapur untuk melihat makanan apa yang ada di dapur.
"Lumayan," gumamnya saat menemukan mie goreng yang sudah dingin. Ia pun memanaskan mie goreng itu lalu mengambil air mineral dingin.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam, semua orang sudah tidur, sedangkan ia malah makan dengan tubuh yang lengket.
__ADS_1
Setelah makan, ia akan mandi.
Setelah selesai makan, Doni pun langsung masuk ke kamarnya. Ia sudah rindu dengan kamarnya.
Laki-laki itu langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri, dengan hanya memakai handuk sebatas pinggang. Laki-laki itu berjalan menuju lemari untuk memakai pakaian.
Selesai berpakaian, Doni pun menatap kopernya yang sudah ada di dekat lemari. Ia ingin mengambil kue yang sudah ia masukan di koper waktu itu.
"Gak apa-apa kan makan satu," gumam Doni tersenyum senang.
"Sisanya nanti buat papa sama Mama," lanjutnya. Memang kue itu diperuntukkan untuk mama dan papanya, tapi mie goreng tadi tak cukup mengganjal rasa laparnya.
Saat ia membuka salah satu kopernya, bau amis langsung tercium. Matanya pun membulat karena kaget melihat pemandangan yang ada di dalam koper.
Satu ekor kucing tanpa bulu dan juga leher yang terluka serta banyak darah.
"Mochi!"
Doni benar-benar syok. Ia tak merasa memasukkan mochi ke dalam kopernya. Bagaimana bisa mochi ada di kopernya, terlebih dalam bentuk yang mengenaskan?
"Mochi-ku," lirih Doni mengambil kucingnya yang sudah botak dan mati.
"Siapa yang melakukan ini pada mochi-ku?" tangis Doni. Ia rela jika kucingnya kabur daripada harus mati mengenaskan seperti ini.
Siapa? Siapa yang melakukan hal jahat ini padanya?
_
_
_
_
_
_
Untuk Reza. Semangat terus ya, perjuangkan cinta mu.
Untuk Doni, wah, kasihan banget. Yang tabah ya. Semoga pelakunya segera ditemukan 🤧
Typo ada dimana-mana, harap komen jika menemukan dan juga beri kritikan dan saran ya.
tbc.
__ADS_1