
Setelah lama menikmati suasana pagi di pantai, Reza dan Alia pun menuju penginapan untuk sarapan.
"Mas, nanti kita jalan-jalan di kota yuk," ajak Alia saat perjalanan mereka ke penginapan.
"Boleh," jawab Reza mengangguk.
"Adek mau beli buah tangan nanti untuk Mama sama Papa, kan gak lama lagi kita pulang," lanjut Alia.
Kalau di pikir-pikir, mereka hanya menghabiskan waktu seperti biasa di masa bulan madu ini. Tak ada ritual malam pertama seperti yang dibayangkan.
Tapi, Alia tak mempermasalahkan itu. Pelan-pelan saja, jangan terburu-buru.
"Iya, nanti siang kita kesana."
Sesampainya di penginapan, dua insan itu pun langsung sarapan sembari sesekali bertukar pendapat.
Setelah selesai sarapan, Reza pun pamit keluar sebentar, sedangkan Alia memilih tak ikut karena tiba-tiba ia sakit perut.
Di luar sana, Reza mencari keberadaan Nadia. Ia tak tau rumah wanita hamil itu, tapi sepertinya rumah Nadia dekat karena dia selalu datang ke pantai.
Akhirnya, Reza hanya berjalan-jalan mencari Nadia. Kenapa pula wanita itu tak ada saat di cari dan datang saat tak diinginkan.
"Reza!" panggil seseorang membuat Reza menoleh ke belakang.
Mata Reza sontak membulat melihat siapa yang ada di belakangnya sekarang.
"Lo di sini juga, Za?" tanya Rian membuat Reza gugup.
Kenapa pula teman-temannya bisa ada di sini juga.
"Kalian kok bisa di sini?" tanya Reza. Bukannya memberikan jawaban, ia malah memberikan pertanyaan.
"Ya kita liburan, lah Lo sendiri ngapain? Bukannya Lo bilang lagi di rumah orang tua lo ya?" tanya Bima menimpali.
Reza tampak berpikir keras mencari jawaban. Ini bukan saat yang tepat mengatakan kalau ia sudah menikah dan sedang bulan madu, sangat tidak tepat!
"Kok lo diam, Za?" tanya Bima menatap sinis ke arah temannya itu.
"Gue.....gue memang di rumah Mama sebenarnya, tapi karena ada beberapa pekerjaan penting mengharuskan gue pergi ke sini, karena di sini gue bakalan buka cabang baru," jawab Reza mencoba menyakinkan temannya untuk percaya.
"Oh, mau buka cabang baru ya. Gue kira lo liburan sendirian tanpa ngajak kita gitu," sahut Bima tersenyum penuh arti.
"Bagus tuh, bang. Di sini kan rame, jadi lebih menguntungkan," timpal Doni.
"Iya, benar tuh Don," ucap Reza mengangguk sembari tertawa kecil.
"Kalian kapan nyampek?" tanya Reza sekedar basa basi.
"Kita duduk dulu yuk sambil makan terus ngobrol," ajak Rian. Mereka pun memilih untuk duduk di sebuah restoran terdekat.
"Tempat ini cantik banget, sumpah."
"Iya, gue juga suka," timpal Rian menatap ke arah laut.
Kini mereka sudah berada di restoran dan sudah memesan makanan. Awalnya, Reza menolak memesan makanan karena sudah sarapan, tapi teman-temannya memaksa dan ia pun hanya memesan makanan porsi sedikit saja.
"Oh ya, kalian belum jawab pertanyaan gue," ucap Reza.
__ADS_1
"Oh iya, lupa. Kami baru aja datang kemarin sore, nah karena capek yah tidur dulu. Sekarang lah waktunya jalan-jalan karena udah gak capek lagi," jawab Doni. Reza pun mengangguk mengerti.
"Capek banget tau, badan gue pegal-pegal." Rian ikut menimpali.
"Cuma Bima tadi yang pergi keluar jalan-jalan pagi, sanggup amat nih anak," ucap Doni menyenggol lengan Bima yang sedari tadi hanya diam.
Bima pun tersenyum simpul lalu mengangguk.
"Gue tadi pagi jalan-jalan, buat nikmatin udara pagi aja," ucap Bima.
Reza pun kembali mengangguk.
"Penginapan kalian dimana?" tanya Reza.
"Ah, susah jelasin nya. Nanti pas kita pulang aja liatnya," jawab Doni.
"Oke deh."
Mereka pun kembali mengobrol masalah kuliah, masalah gebetan Bima, masalah teman-teman lainnya.
Setelah selesai mengobrol dan makan yang membuat Reza double kenyang, mereka pun memilih untuk berjalan pulang.
"Penginapan kami di situ bang," tunjuk Doni. Reza pun kembali tertegun, karena penginapan teman-temannya dekat dengan penginapannya.
"Lo tinggal dimana bang?" tanya Doni.
Reza pun menunjuk tempat penginapannya.
"Berarti dekat dong, wah, bisa dong sesekali kita mampir dan nginap," ucap Doni antusias.
Reza pun mengangguk, lagi pula ia akan segera pulang. Sebisa mungkin, sebelum pulang ia harus menjauhkan teman-temannya dari penginapannya.
"Tunggu Za," cegat Bima membuat Reza langsung menghentikan langkahnya.
"Iya, kenapa?" tanya Reza.
"Nanti malam kita mau keluar, Lo ikut kan?" ajak Bima.
"Keluar kemana?" tanya Reza.
"Nongkrong Za, lo ikut kan?"
Reza pun tampak berpikir keras, tak mungkin ia ikut sedangkan ia baru saja baikan dengan Alia. Nanti kalau Alia mikir macam-macam gimana? Kan bisa kacau lagi nanti.
"Lain kali aja deh," tolak Reza.
"Gak ada lain kali! Lo harus ikut. Kan pekerjaan Lo cuma ngecek lokasi doang, jadi lo bisa dong bebas kemana-mana," ucap Bima penuh penegasan.
"Atau jangan-jangan ada sesuatu di penginapan lo yang buat lo gak bisa ninggalin itu," lanjut Bima membuat jantung Reza berdetak kencang. Teman-temannya kini menatapnya menunggu jawaban darinya.
"Hah, okelah. Nanti kabarin aja jam berapa." Reza pun akhirnya pasrah saja.
Bima tersenyum senang lalu menepuk bahu temannya itu.
"Nanti kita jemput ya," ucap Bima. Reza pun mengangguk lalu kembali pamit masuk ke penginapannya.
******
__ADS_1
"Darimana mas?" tanya Alia saat Reza memasuki kamar.
"Dari luar, tadi juga ketemu sama teman-teman kampus." Jawab Reza membaringkan tubuhnya di samping Alia yang tengah duduk di ranjang juga sembari bersandar.
"Kirain dari temuin ibu hamil itu," ucap Alia kembali fokus pada ponselnya.
Reza pun tersenyum lalu melingkarkan tangannya di perut Alia. Tak lupa, kakinya yang menindih kaki istrinya itu.
"Cemburu?" tanya Reza masih tersenyum.
"Iyalah, masa gak cemburu sih, kan mas ini suami adek," jawab Alia mengerucutkan bibirnya.
"Eum, kalau lagi cemburu cantik banget deh," ucap Reza membuat Alia langsung meletakkan ponselnya di nakas dan ikut berbaring di samping suaminya itu.
Alia menatap mata suaminya sembari tersenyum.
"Adek cantik ya?" tanya Alia.
"Hm." Reza mengangguk membuat Alia tertawa kecil.
"Tapi dulu mas suka bilang adek jelek loh," ucap Alia pura-pura merajuk.
"Kan dulu, kalau sekarang mah beda," sahut Reza pelan.
"Bedanya apa?" tanya Alia menatap dalam bola mata suaminya.
"Kalau dulu belum cinta, kalau sekarang sudah jatuh cinta." Ingin sekali Reza mengatakan itu, tapi ia masih gengsi. Reza pun memilih menutup matanya memeluk sang istri dengan erat.
"Loh, kok tidur sih. Jawab dulu bedanya apa?" ucap Alia menyentuh pipi suaminya.
"Jam berapa kita ke kota?" tanya Reza mengalihkan pembicaraan.
"Siap Dzuhur aja gimana?"
"Hm, boleh juga."
Alia pun mencium pipi suaminya dua kali lalu ikut menutup matanya.
Cup.
"Jangan tanggung-tanggung nyium nya," ucap Reza setelah mengecup manis bibir Alia.
Alia pun tersenyum malu lalu menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.
Berpelukan sedekat ini saat tidur adalah sebuah peningkatan untuk hubungan mereka.
_
_
_
_
_
_
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan juga votenya.
tbc.