
Mau tak mau ya harus pergi bulan madu, entah itu nanti akan menjadi momen romantis atau momen menjengkelkan, Reza juga tak tau.
Semalam, para pembantu sudah mempersiapkan barang-barang keperluan seperti baju, sepatu dan lain-lain.
Pagi ini mereka akan pergi ke bandara lalu menuju sebuah kota yang terkenal dengan tempat yang indah.
Reza menatap Alia yang tengah memakai jilbab, wanita itu tampak terdiam tak terlihat semangat seperti kemarin.
"Cepetan!" ketus Reza.
"Sabar mas," sahut Alia.
"Sabar, sabar, nanti kita ketinggalan pesawat!" oceh Reza membuat Alia tersenyum kecil.
"Mas udah gak sabar ya mau malam pertama, sabar ya sayang." Sontak Reza langsung memalingkan wajahnya sembari menggerutu tak jelas.
"Gue tunggu di parkiran, dalam 1 menit lo udah harus ada di sana, kalau enggak, lo gue tinggalin," ucap Reza berjalan menuju pintu.
"Lah, kalau adek di tinggal terus mas mau bulan madu sama siapa?" ledek Alia.
"Sama batu!" jawab Reza ketus lalu keluar dari kamar berjalan menuju parkiran.
Di dalam kamar, Alia menghela nafas panjang. Belum juga beraktivitas, ia sudah berkeringat.
"Aku takut banget," gumam Alia pelan sembari menatap dirinya di cermin.
"Tapi aku juga ingin punya anak dan dicintai oleh suamiku," lanjut Alia mengelus perutnya. Memang pernikahan ini tanpa cinta, tapi Alia berusaha sebisa mungkin menjadi istri yang baik dan juga menjadi seorang ibu.
Setelah selesai berkemas, Alia pun turun dari kamar menuju parkiran. Di sana, Reza tampak berdiri bersandar di mobil sembari sesekali melihat jam tangannya.
"Telat 2 detik, hampir aja Lo gue tinggalin!" ketus Reza langsung masuk ke mobil.
Hari ini, ia tak mengemudi melainkan ada supir. Reza pun duduk di kursi belakang bersama dengan Alia, lalu mobil pun melaju menuju bandara.
Sesampainya di bandara, Reza pun langsung berjalan di depan menuntun istrinya itu. Reza berpikir jika Alia pasti tak pernah naik pesawat, jadi ia harus menuntun wanita itu.
Padahal, Alia sudah sering naik pesawat, ia pun tampak biasa saja ketika memasuki area bandara. Melihat sikap suaminya yang menarik ujung lengan bajunya membuat Alia tersenyum geli, ia pun mengikuti saja kemana laki-laki itu menuntunnya.
"Lo tunggu di sini, jangan kemana-mana! Gue mau ke kamar mandi bentar," ucap Reza melepaskan ujung lengan baju Alia.
"Iya," sahut Alia duduk di kursi.
"Ingat! Jangan kemana-mana!" Alia pun kembali mengangguk sembari tersenyum manis ke arah Reza yang pergi ke kamar mandi sembari sesekali membalikkan badan untuk dan memberi peringatan pada Alia.
"Imut banget," ucap Alia pelan, gemas melihat tingkah suaminya.
Setelah selesai dari kamar mandi akhirnya Reza dan Alia pun sudah ada di dalam pesawat. Keduanya tampak diam saja dan memilih untuk sibuk dengan pikiran mereka.
*****
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan udara dan di tambah dengan perjalanan darat menuju villa, akhirnya kedua pasangan yang terpaksa menikah itu sampai juga.
"Ah, capek banget." Reza langsung membaringkan tubuhnya di ranjang yang sudah di taburi bunga mawar merah. Ia tampak berguling-guling kesana-kemari untuk merusak bentuk kelopak bunga mawar itu
Kelopak bunga yang awalnya berbentuk love, kini sudah berserakan di lantai.
"Cantik banget kamarnya, kalau bangun pagi bisa lihat laut," ucap Alia kagum sembari berdiri di dekat jendela yang arahnya langsung ke laut.
"Mas, sini lihat laut," ajak Alia. Wanita itu juga senang melihat laut, hanya saja ia tak suka berenang di laut karena takut ada hewan berbahaya di sana nanti.
"Jangan norak!" ketus Reza tanpa berniat menghampiri Alia.
Tak tersinggung dengan perkataan suaminya, Alia pun memilih untuk membersihkan diri. Ia ingin jalan-jalan dan membeli makanan, pasti sangat menyenangkan nanti.
Setelah selesai mandi, Alia melihat Reza sudah tidur. Ia ingin minta izin tapi tak tega juga membangunkan suaminya.
Alia bimbang antara pergi atau tidak, akhirnya ia pun membangunkan Reza. Tak baik juga seorang istri pergi tanpa izin suaminya terlebih dahulu.
"Mas."
"Hm."
"Mas, adek keluar ya jalan-jalan," ucap Alia. Reza pun membuka matanya yang masih mengantuk itu.
"Jangan jauh-jauh," ucap Reza pelan.
"Iya, adek juga minta uang ya," ucap Alia dan Reza pun mengangguk lalu kembali tidur.
Dengan langkah yang semangat Alia keluar dari penginapan dan pergi ke pinggir laut. Ia berjalan sembari menikmati hembusan angin laut.
Di sisi lain, Reza tampak menggeliat dan membuka matanya. Entah kenapa kantuknya tiba-tiba saja hilang setelah mendengar jika sang istri akan keluar.
"Ah, nyusahin aja sih tuh cewek. Kalau dia kesasar gimana? Gue juga yang susah," gerutu Reza memilih untuk bangun dari tidurnya.
Ia pun memilih untuk mandi terlebih dahulu sebelum keluar mencari istrinya itu.
Kembali pada Alia, wanita itu kini membeli kelapa muda lalu duduk di kursi yang sudah di sediakan dan meminum kelapa muda itu.
Tak lupa ia juga memesan mie instan dalam cup rasa kari lalu menyantapnya dengan tenang.
"Hai," sapa seorang laki-laki muda membuat Alia menghentikan suapannya.
"Iya?" Alia menatap sekilas laki-laki itu lalu kembali fokus pada mie nya.
"Mbaknya cantik banget deh, boleh minta tolong gak?" ucap laki-laki itu yang membawa sebuah kamera.
"Terimakasih, minta tolong apa ya?" tanya Alia mulai resah, karena laki-laki dihadapannya ini tak ia kenal. Ia takut laki-laki itu melukainya atau melec*hkannya.
"Jadi model sebentar boleh gak, mbak? Nanti saya kasih bayaran," pintanya.
__ADS_1
"Model apa ya?" tanya Alia bingung.
"Saya lagi ngambil gambar di sini, kebetulan ada jadwal motret sama model saya tapi dia gak datang karena halangan dan saya butuh hasilnya hari ini. Jadi, karena mbaknya cocok makanya saya tawarin," jelas laki-laki itu.
"Mbak mau kan jadi model saya sebentar aja, cuma 5 foto aja kok," lajut laki-laki itu seperti mendesak Alia untuk mau.
"Berani bayar berapa lo?" tanya Reza dari arah belakang membuat kedua insan itu menoleh. Laki-laki itu baru saja selesai mandi terlihat dari rambutnya yang sedikit basah. Karena terus kepikiran pada Alia, ia pun bergegas mencari istrinya yang tengah di palak tukang potret.
"Gue suaminya," lanjut Reza seperti tau tatapan tanda tanya laki-laki yang kini di hadapannya itu.
"Oh, saya kira siapa. Saya pinjam istrinya bentar boleh gak?" tanya laki-laki itu tersenyum canggung.
"Gue bilang berani bayar berapa lo?" tanya Reza ketus. Mendengar itu, Alia pun menunduk karena sedikit tersinggung dengan kata 'bayar berapa'. Apa suaminya berniat menjualnya.
"Satu foto 50 ribu, gimana?" tanya laki-laki itu.
"Atau 100 ribu deh karena mbaknya cantik," lanjut laki-laki itu.
"Bahkan dengan seluruh harta yang lo punya, lo gak bisa bayar istri gue! Bahkan seisi dunia ini pun gak bakalan bisa bayar istri gue! Camkan itu!" tegas Reza penuh penekanan.
"Ta-tapi saya gak maksud apa-apa kok, saya cuma mau ngambil foto aja," ucap laki-laki itu gugup.
"Mendingan lo pergi dari sini sekarang sebelum gue laporin lo karena perbuatan yang tidak menyenangkan!" ancam Reza membuat laki-laki itu semakin takut dan memilih untuk pergi.
Reza pun menghembuskan nafas kasar lalu duduk di samping istrinya yang kini sedang senyum-senyum sendiri.
"Ngapain lo senyum-senyum, ha?" tanya Reza mengambil kelapa muda milik Alia lalu meminumnya.
"Gak kenapa-kenapa kok mas, cuma senang aja." Alia tak menyangka akan mendapatkan pembelaan dari suaminya, cukup seperti ini saja ia sudah merasa seperti wanita yang dicintai setulus hati.
"Tetaplah seperti itu, mas." Batin Alia.
_
_
_
_
_
_
Hm, aku pada mu mas Rezaš
Katanya gak mau makan sisa Alia, tapi kelapa muda punya Alia di minum jugaš
Jangan lupa like, komen dan juga votenya agar author makin semangat updatenya.
__ADS_1
TBC