
Lama Alia tak sadarkan diri, akhirnya wanita itu membuka matanya juga. Alia mengedipkan kedua matanya berulangkali agar penglihatannya kembali jelas.
"Mas," lirih Alia menggerakkan tangannya, namun tak bisa. Tangannya diikat kebelakang dan kakinya juga diikat. Posisinya kini duduk di kursi dalam sebuah kamar yang besar dan mewah.
Suara pintu kamar terdengar di indera pendengaran Alia, wanita berhijab itu langsung menatap orang yang muncul dari balik pintu.
"Udah sadar ternyata," ucap Bima tersenyum ramah. Ia datang sembari membawa makanan dan juga minuman.
"Kak Bima," ucap Alia pelan. Sangking lemahnya tubuh wanita itu, ia bahkan tak mampu mengeluarkan suaranya dengan keras.
Bima meletakkan makanan dan minuman yang ia bawa di atas meja lalu berjalan mendekati Alia. Laki-laki itu pun berjongkok sembari menatap wajah pucat Alia.
"Aku udah lama nunggu kamu bangun, seneng deh karena kamu udah bangun," ucap Bima tak lagi menggunakan kosa kata lo-gue karena mereka hanya berdua saja. Lagi pula, bagi laki-laki itu, kosa kata lo-gue terlalu kasar untuk wanita pujaan hatinya.
"Kenapa kak Bima ngelakuin ini? Apa aku ada salah?" tanya Alia memalingkan wajahnya. Bima pun tersenyum manis lalu menggeleng.
"Gak ada kok, yang salah itu bukan kamu, melainkan hati kamu yang gak ada aku di sana," jawab Bima lembut. Kelembutan yang tak diharapkan Alia.
"Tolong lepasin aku kak, aku mau pulang." Bima langsung tertawa mendengar permintaan Alia. Laki-laki itu meninggikan tubuhnya hingga wajahnya dan Alia saling berhadapan.
"Dengan satu syarat," ucap Bima tersenyum licik. Alia yang tak menatap wajah Bima hanya bisa terus beristighfar karena takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
"Kamu harus jadi istri aku," lanjut Bima membuat Alia langsung menatap laki-laki di depannya itu. Alia tersenyum kecil membuat Bima jadi bingung.
"Sampai matipun, aku gak bakalan mau jadi istri kamu!" ucap Alia tegas tak lagi menggunakan embel-embel kak. Bima langsung tertawa mendengar itu, ia bahkan sampai memegangi perutnya.
"Masa sih? Aku gak percaya tuh. Gimana kalau ku bilang, suami kamu yang sok hebat itu udah mati," ucap Bima tersenyum menyeringai. Tubuh Alia langsung menegang hebat mendengar perkataan laki-laki yang ada dihadapannya sekarang.
Tidak. Tidak mungkin suaminya kenapa-kenapa, toh Reza baru saja pergi ke luar kota, bahkan ia sendiri yang mengantarkan suaminya ke bandara.
Ini semua pasti hanya tipu daya Bima agar ia merasa sedih dan putus asa.
"Sayangnya aku gak percaya," sahut Alia tersenyum kecil berusaha untuk tetap tenang.
Bima kembali tertawa, kini laki-laki itu berdiri lalu menggeser kursi yang diduduki Alia menghadap ranjang. Bima pun berjalan menuju ranjang lalu duduk di tepi nya.
"Sebenarnya aku rada ragu nyampein kabar buruk ini ke kamu. Yah, tapi karena kamu gak percaya, aku bakalan buktiin kalau suami kamu itu udah...." Bima memperagakan memotong lehernya sendiri sembari menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"....... mati." Bima langsung tertawa setelah itu, membuat Alia benar-benar ketakutan. Laki-laki yang ada di depannya ini sepertinya benar-benar sudah gila.
"Suami aku masih hidup! Aku bahkan baru aja ngantar dia ke bandara! Jangan mengada-ada deh, aku gak bakalan percaya sama orang kayak kamu. Mendingan lepasin aku!" tegas Alia tetap pada pendiriannya bahwa sang suami baik-baik saja.
Bima pun menghentikan tawanya lalu menatap tajam Alia, laki-laki itu mengeluarkan ponselnya lalu tersenyum.
"Kau ingin bukti, bukan? Akan kuberikan," ucap Bima berdiri dan mendekati Alia lalu memperlihatkan sebuah gambar. Di sana tampak tertulis berita beberapa jam yang lalu kalau sebuah pesawat jatuh dan pesawat itu adalah pesawat yang ditumpangi suaminya.
Bima pun menggeser layar menampilkan sebuah foto deretan nama penumpang. Sontak melihat itu Alia langsung kembali lemas dan alhasil, kesadarannya pun hilang dalam sekejap.
Bima menatap Alia dengan tatapan mendamba, laki-laki itu benar-benar sudah gila hanya karena seorang wanita yang statusnya adalah istri temannya sendiri.
Satu jam kemudian, Alia kembali sadarkan diri. Setelah matanya terbuka sempurna dan nyawanya sudah terkumpul, wanita itu langsung menangis dalam diam tanpa suara. Ia tak mau Bima datang dan mengganggunya, biarlah ia menangis sejenak sebelum memikirkan bagaimana cara keluar dari rumah ini.
"Mas," lirih Alia dengan air mata yang membasahi pipi. Menahan tangis agar tak bersuara sangatlah sakit, selain sakit di hati, juga sakit di dada karena sesak.
"Kenapa mas tega ninggalin adek sendirian? Kenapa mas ninggalin adek," tangis Alia pelan. Tangannya memberontak untuk lepas, kakinya pun ikut berusaha untuk melepaskan tali yang mengikatnya erat di kursi.
"Ya Allah, semoga suami hamba baik-baik aja. Semoga semua yang disampaikan Bima itu hanyalah kebohongan. Hamba mohon, hamba mohon, Ya Allah."
"Lagi nangis yah?" tanya Bima membawa makanan yang ia bawa ke arah Alia.
"Nangisnya break dulu ya, waktunya makan." Bima menarik kursi yang diduduki Alia mendekat ke arah ranjang.
Kini, mereka duduk berhadapan. Alia duduk di kursi, Bima duduk di tepi ranjang.
"Buka mulutnya," ucap Bima menyuapkan nasi beserta lauknya. Alia tak membuka mulutnya, yang ada wanita itu malah memalingkan wajah.
"Jangan ditangisi terus, kalau mati yah mati, gak bakalan hidup lagi. Lagian kalau yang mati itu kamu, pasti Reza gak bakalan nangis, yang ada dia bakalan seneng karena bisa nikah sama cewek lain," ucap Bima menyodorkan sendok yang berisikan nasi dan lauk ke mulut Alia. Alia langsung bergerak menolak membuat nasi yang ada di sendok jatuh berserakan.
Cuih!
Alia langsung meludah ke arah wajah Bima membuat laki-laki itu langsung menutup matanya. Dengan kasar Bima mengelap wajahnya, matanya kembali terbuka dan menatap tajam Alia.
Plak!
"Meski aku cinta sama kamu, bukan berarti kamu boleh semena-mena sama aku!" bentak Bima setelah melayangkan satu tamparan ke wajah mulus Alia. Sebelah tangannya yang masih memegang piring pun langsung melempar piring itu ke sembarang arah hingga pecah dan berserakan.
__ADS_1
"Aku punya batas kesabaran, Alia! And now, kesabaran ku udah habis!" Bima membuka ikatan tangan Alia yang melekat di kursi lalu kembali mengikat tangan itu ke arah depan, begitu juga dengan kaki yang di lepas ikatannya dari kursi dan kembali di ikat lagi.
Dengan kasar, Bima menarik Alia lalu menggendong wanita bersuami itu dan melemparnya ke atas ranjang.
Alia berteriak kencang memohon saat Bima kembali memukuli wajahnya. Hatinya yang hancur mendengar kabar kematian suaminya, di tambah lagi dengan tubuhnya yang sakit karena dipukuli.
"Mari kita nikmatin siang yang panas ini dengan kegiatan yang panas juga," ucap Bima tertawa lepas. Laki-laki itu mulai melucuti pakaian atasnya membuat Alia berteriak minta tolong.
"Sampai suara kamu habis pun gak bakalan ada yang nolongin kamu, sayang. Udahlah, nikmatin aja permainannya. Aku bakalan puasin kamu melebihi suami brengsek kamu itu," lanjut Bima naik ke atas ranjang, merangkak mendekati Alia yang sudah babak belur dibuatnya.
"Ampun! Tolong jangan!" teriak Alia histeris.
"Gak ada yang bisa nolongin kamu, sayang. Pasrah aja dan nikmati aja!" ucap Bima tersenyum mengejek.
Alia langsung meludahi Bima berulangkali pertanda penolakannya. Lebih baik ia mati dipukuli daripada harus dinodai.
"Kurang ajar!"
Bugh!
_
_
_
_
_
_
_
Jangan lupa like, komen dan juga votenya kawan-kawan.
Tbc
__ADS_1