Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri
Bab 16. Menemaninya.


__ADS_3

Sesampainya aku di rumah, aku langsung mencarinya. Ternyata dia belum pergi, tapi sedang siap-siap mau pergi keluar.


"Wa'alaikumusalam, mas." Aku masuk mengucapkan salam dan dia pun menjawab.


"Lo mau kemana?" tanyaku sembari mencari-cari ponselnya.


"Mau keluar beli buku sama cemilan," jawabnya. Oh aku baru ingat dia tadi minta uang untuk alasan itu.


"Mana hp lo?" tanyaku tak melihat benda pipih itu.


"Di tas, mas."


Aku pun langsung mengambil alih tas nya itu dan mengambil ponselnya.


Ada notifikasi pengisian pulsa di layar kunci ponsel Alia.


"Buka!" titahku. Dia pun langsung membuka kunci ponselnya.


Aku langsung melihat nominal pulsa itu, yang benar saja Bima ini. Dia benar-benar mengisi pulsa Alia senilai seratus ribu.


Aku tak peduli masalah pulsa, aku langsung membuka aplikasi kontaknya dan mencari nama Bima.


Ketemu.


Aku langsung memblokir nomor buaya jantan itu dan beralih pada aplikasi pesan, lalu memblokir dan menghapus chat dari Bima.


"Hahahahaha, rasain lo!" Aku tertawa puas, nomor Bima sudah aku blokir. Sia-sia dia mengisi pulsa Alia karena tak akan bisa menghubungi istriku juga.


"Mas kenapa?" tanya si jelek itu yang bingung melihat ku.


"Bukan urusan lo!" ketus ku berhenti tertawa.


Aku pun meletakkan kembali ponselnya itu di dalam tasnya dan menaruh tas itu di atas meja.


"Lo ngapain pakai lipstik, ha?" tanyaku fokus pada bibirnya yang merah. Bukan merah menyala tapi merah alami, imut banget.


"Adek gak pakai lipstik kok, adek cuma pakai lipbam," jawabnya lembut.


Aku pun mendekat lalu memegang dagunya hingga ia menatapku yang lebih tinggi darinya.


"Ini lipstik!" ketus ku mengambil tisu lalu menggosokkan nya di bibir Alia. Berani sekali dia pakai lipstik keluar rumah.


"Lo mau godain siapa, ha? Jangan kegenitan deh, lo itu udah punya suami, ingat itu!" ucapku masih fokus menghapus merah-merah di bibirnya.


Imut banget bibirnya, sumpah.


"Bibir adek perih mas," ucapnya. Aku pun menghentikan aktivitas ku itu.


Ternyata bibirnya memang merah dari sananya. Ngapain juga pakai lipbam, memang nih cewek berniat mau godain cowok lain keknya.


Dia pun memegang bibirnya sembari menatapku.


"Mas cemburu ya kalau adek pakai lipstik?" tanyanya masih menatapku.


Hahahahaha.


Aku kembali tertawa dan menyentil keningnya itu.


"Siapa juga yang cemburu? Gue cuma mau mengingatkan lo kalau lo udah punya suami, jadi jangan kegenitan."

__ADS_1


"Iya, adek tau kok kalau adek udah nikah, gak mungkin juga adek genit sama laki-laki lain." Dia menjawab masih menatapku, kepalanya mendongak menatapku yang tinggi ini.


"Adek mau beli buku mas, bolehkan?" tanyanya.


"Beli buku dimana?" tanyaku menjauh darinya, entah kenapa mata ini tak bisa lepas dari bibir merahnya itu.


"Ke toko buku," jawabnya.


Ya aku tau juga beli buku di toko buku, masa di toko baju.


"Sama siapa?" tanyaku mengintrogasi nya.


"Sama teman adek," jawabnya.


Teman laki-laki atau perempuan. Ah, gengsi juga nanya itu.


"Gue juga mau beli buku buat tugas gue, karena gue baik hati jadi Lo bisa numpang di mobil gue," ucapku. Padahal aku sudah membeli buku untuk tugas ku, entahlah aku hanya ingin ikut dengannya saja.


Jangan salah paham!


Aku hanya ingin memastikan dia tak kegenitan di luar sana.


"Eum, boleh. Adek bilangin dulu ya sama teman adek kalau gak jadi perginya," ucapnya antusias.


Liat itu, dia kesenangan.


Maklum, siapa juga yang tak senang satu mobil dengan laki-laki tampan sepertiku.


Setelah menelepon temannya, aku pun langsung keluar dari kamar diikuti olehnya.


Sesampainya di parkiran, aku langsung masuk mobil dan dia memilih duduk di kursi belakang.


"Lo pikir gue supir lo, ha? Duduk di depan!"


"Tuh seatbelt di pakai atau mau gue yang pakaikan?"


Dia pun tertawa kecil lalu memakai seatbelt itu.


Aku pun langsung melajukan mobil menuju toko buku. Tak ada yang bicara diantara kami, kami memilih untuk diam hingga mobil pun masuk ke area toko buku.


Sesampainya di toko buku, aku pun turun begitu juga dengan dia. Kami masuk sama-sama ke toko itu, aku pun berpikir keras buku apa yang ingin ku beli.


Setelah berpikir keras, akhirnya aku menemukan buku yang berguna juga untuk ku. Setidaknya tak terlalu kelihatan kalau aku hanya ingin ikut dengannya.


"Mas, sini." Dia memanggilku dengan suara kecil. Aku pun langsung mendekatinya.


"Apa?" tanyaku jutek.


"Adek beli bukunya dua ya," ucapnya.


Hanya ingin beli buku dua saja dia harus bicara padaku, dasar cari-cari perhatian.


"Terserah lo."


Setelah selesai memilih buku, kami pun ke kasir. Awalnya ia ingin membayar dengan uang yang kuberikan tadi pagi, tapi langsung ku sela dengan kartu ku.


Biar kelihatan gentleman.


"Makasih mas," ucapnya tersenyum senang.

__ADS_1


"Lo mau kemana lagi habis ini? Mumpung gue lagi gak ada kegiatan," tanyaku ketus.


"Beli cemilan," jawabnya semangat.


Kami pun kembali masuk ke mobil dan melaju ke ind******t.


Hari ini biarkan saja dia merasa di awan karena aku sedang berbaik hati padanya.


Sesampainya kami di sana, dia langsung mengambil cemilan yang disukainya. Mulai dari kripik, biskuit, minuman dingin, eskrim dan permen. Aku hanya mengikutinya dari belakang saja tanpa berniat membeli apapun.


"Udah mas," ucapnya. Keranjang yang ia pegang itu pun sudah tampak penuh, aku pun mengambil alih dan membayar nya ke kasir.


Setelah membayar aku pun membawa belanjaan itu ke mobil dengan dia yang mengekor dari belakang.


"Kok semuanya dibayarin, mas? Kan adek ada uang," tanyanya.


"Gue lagi berbaik hati, lo jangan berpikir macam-macam," jawabku ketus.


Kami pun langsung masuk ke mobil.


"Kalau lagi baik hati mas ganteng banget deh," ucapnya tersenyum manis ke arahku.


Kok tiba-tiba pipiku menghangat sih?


"Gue memang ganteng, Lo aja yang buta!" sahutku ketus sembari memalingkan wajahku sesekali.


"Iya, adek tau. Tapi, kalau lagi baik gini gantengnya nambah," ucapnya tak tersinggung dengan kata-kata ku. Malah semakin gencar memuji ku.


Ya ampun, nih jantung lama-lama mau copot.


Padahal sudah banyak orang yang bilang aku tampan, tapi baru kali ini aku merasa senang banget karena di puji.


"Apalagi kalau mas lagi mengemudi gini, pakai jam tangan, pakai baju rapi, ganteng banget deh. Sumpah, adek gak bohong."


Deg, deg, deg.


Untungnya jalanan berisik, kalau tidak suara jantungku pasti terdengar oleh Alia.


"Udah-udah, fokus ke depan!" ucapku dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat.


Dia pun terkekeh lalu duduk dengan baik dan menatap keluar.


Huft, setidaknya itu menyelamatkan ku.


Sebenarnya aku ini kenapa ya?


_


_


_


_


_


_


ada yang tau si tampan kenapa?

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan juga votenya. Dukungan kalian sangatlah berharga bagi author.


tbc.


__ADS_2