Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Istriku Sendiri
Bab 32. Salah paham terbesar.


__ADS_3

Note: Sekali lagi di ingatkan kepada para pembaca Budiman yang baik hati❤️ Reza ini bukan mafia, CEO berkuasa memiliki asisten cekatan dan juga tak terkalahkan. Reza hanyalah laki-laki biasa yang hanya memiliki harta dan juga sifat angkuh.


Happy reading.


*******


Sudah hampir jam 12 malam, tapi Reza tak kunjung pulang. Alia sangat khawatir, sesekali ia turun ke bawah dan melihat apakah suaminya sudah pulang atau belum.


"Ya Allah, kemana mas Reza? Kok lama banget ya pulangnya?"


Alia bahkan rela menahan kantuknya hanya untuk menunggu kepulangan suaminya.


Berkali-kali juga, Alia menghubungi Reza, tapi tak diangkat oleh laki-laki itu.


Alia pun duduk di tepi ranjang sembari kembali menghubungi nomor suaminya.


Masuk, namun tak diangkat.


"Mungkin mas Reza masih nongkrong sama temannya, gak mungkin juga dia aneh-aneh kan. Alia, Alia, kenapa juga kamu mikir aneh-aneh sih," gumam Alia mencoba berpikir positif.


Alia pun akhirnya mencoba untuk tidur, pasti suaminya akan pulang, ia percaya itu.


*****


Keesokan harinya.


Alarm berbunyi membuat tidur Alia terganggu, ia pun terbangun dan mematikan alarm yang ada di atas nakas lalu merenggangkan tubuhnya.


Matanya mencari-cari keberadaan suaminya yang tidak ada di sampingnya. Alia pun menyentuh sisi tempat biasanya Reza berbaring.


Dingin.


Itu berarti memang tak ada orang yang tidur di sampingnya.


Apa suaminya belum pulang juga? Apa dia menginap di rumah temannya? Tapi, kenapa tak memberitahu kalau menginap, lagi pula siapa temannya di sini? Apa teman yang diceritakannya itu, teman kampus?


Mendengar suara Adzan, Alia pun memilih untuk segera mandi. Ia harus terus berpikir positif, walaupun suaminya itu sering membuatnya sakit hati, tapi Alia tetap menanamkan rasa percaya pada suaminya.


Setelah selesai mandi, Alia langsung menunaikan shalat subuh lalu membaca Al-Qur'an sebentar.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah 8 pagi, tapi belum ada titik terang kemunculan suaminya.


Alia pun kembali meraih ponselnya lalu kembali menelepon nomor suaminya.


Masuk.


"Halo."


Deg!


Kenapa suara perempuan? Perasaan Alia sangat kacau sekarang. Ia pun melihat layar ponselnya dan nomor yang ia hubungi benar nomor suaminya.


"Halo, siapa di sana?" tanya si penerima.


"Halo, saya istri dari si pemilik ponsel ini. Anda siapa ya?" tanya Alia.


"Oh, kamu istrinya kak Reza ya. Ini kak Reza lagi tidur," ucap si penerima.


Tidur? Tapi ada perempuan? Maksudnya apa?


"Maksud anda apa ya?"

__ADS_1


"Semalam kak Reza mabuk dan aku membawanya ke hotel karena aku tak sanggup membawanya pulang, kamu bisa datang ke hotel X nomor kamar 219 ya." Setelah memberikan penjelasan itu, panggilan pun terputus.


Alia mengucap istighfar berkali mencoba untuk tetap berpikir positif, namun pikiran negatif tetap menghampiri pikirannya.


Dengan cepat Alia menggunakan pakaiannya, ia harus memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Ia tak mau termakan hasutan yang akan merugikan pernikahan mereka nantinya.


Ting.


Sebuah pesan masuk.


Alia pun langsung meraih ponselnya dan membuka pesan itu dari nomor suaminya.


Mata Alia terbelalak kaget melihat suaminya yang terbaring di ranjang dengan bertelanjang dada.


Dada Alia nyeri.


Ting.


Pesan kedua pun kembali masuk memberitahu nama hotel dan juga nomor kamarnya.


Apakah Alia harus pergi kesana? Sedangkan ia sudah melihat foto itu.


"Mungkin saja di edit," gumam Alia menyeka air matanya lalu memakai kaus kaki. Ia hanya memakai gamis hitam dan juga jilbab kurung.


Tak lupa ia membawa dompet, ia akan menarik uang terlebih dahulu ke atm. Uang tabungan yang ia gunakan jika ada keadaan darurat.


*******


Sesampainya ia di hotel X. Alia langsung turun dari taksi dan membayar ongkos nya. Setelah itu ia masuk dan menanyakan pada resepsionis mengenai suaminya dan juga agar ditunjukkan jalan ke sana.


Jantung Alia berdetak kencang, terasa nyeri saat langkah kakinya berjalan menuju kamar 219.


Tok


Tok


Tok


Tak lama terdengar suara pintu yang di buka.


Ceklek.


Tubuh Alia menegang saat melihat wanita yang ada di hadapannya sekarang. Wanita yang ia kenal dan juga tak ia sukai.


"Sudah datang ya, maaf ya gak bisa nganterin ke penginapan. Soalnya kak Reza berat banget," ucap Nadia dengan ekspresi bersalah.


Nadia pun membuka lebar pintu kamar lalu menampakkan seorang laki-laki yang tidur nyenyak di atas ranjang.


"Kak Reza mabuk dan tau sendiri kan orang mabuk gimana. Ta-tapi, aku sudah berusaha untuk menolak semalam, hanya saja, tenaga kak Reza sangat kuat sehingga aku pun kalah," jelas Nadia.


Alia pun menatap tajam ke arah wanita hamil yang memakai gaun tidur itu. Apa maksudnya tak bisa menolak? Apa mereka berdua sudah melakukan 'itu' tanpa sadar?


Astagfirullah. Alia kembali beristighfar.


"Kenapa kamu bisa bersama suamiku? Apa kamu menjebaknya?" tanya Alia menatap sengit lawan bicaranya itu.


"A-aku diundang makan malam bersama teman-temannya kak Reza di cafe A," jawab Nadia menunduk. Alia kembali mengingat nama cafe yang sempat diberitahukan Reza, itu cafe yang sama. Berarti, suaminya itu nongkrong bukan hanya dengan temannya saja, tetapi dengan wanita lain.


"Kamu dan suamiku sama saja! Kalian sungguh tak tau diri karena sama-sama memiliki pasangan, tapi kalian tetap jajan di luar!" Ucap Alia tegas.


"Ma-maafkan aku, aku tidak bermaksud....

__ADS_1


"Sudahlah!" Alia pun langsung pergi meninggalkan Nadia yang tertunduk tanpa berniat membangunkan suaminya.


Ia keluar dari hotel sembari terus menghapus air matanya yang tumpah. Tak ada suara tangis, hanya ada wajah dingin dan juga tatapan perih penuh luka yang mengiringi perjalanannya menuju penginapan.


Sepeninggalan Alia, Nadia kembali menutup pintu dan tersenyum sinis. Ia pun kembali duduk di sofa dan mengelus perutnya.


"Kau akan punya ayah baru."


*******


Flashback on.


Saat Reza keluar dari cafe, ia langsung mencari taksi. Tapi, sepertinya jarang sekali taksi lewat sini. Ia pun meraih ponselnya ingin memesan taksi online, namun dari kejauhan Reza melihat ada taksi yang akan melewatinya. Tanpa membuang waktu , Reza pun menghentikan taksi itu lalu naik ke dalam.


"Ke jalan S ya," ucap Reza. Supir taksi pun mengangguk lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Apa anda sakit?" tanya Reza saat melihat supir taksi itu menggunakan masker.


"Iya, saya sedikit batuk."


Reza pun mengangguk lalu menyandarkan punggungnya dan menutup matanya.


Ia ingin cepat-cepat pulang dan bertemu Alia lalu memeluk wanita itu sambil membisikkan bahwa ia mencintainya.


Beberapa detik setelah menutup mata, tiba-tiba saja Reza mencium bau aneh. Reza pun langsung membuka matanya.


"Bau apa ini?" tanya Reza ingin membuka kaca, namun tak bisa.


"Tolong buka kaca mobilnya!" pinta Reza tak tahan dengan bau yang membuat kepalanya pusing.


"Maaf, kacanya tak bisa di buka."


"Tapi kenapa?" tanya Reza mulai merasa lemas.


"Karena kalau dibuka, gas tidur ini akan ikut keluar juga," jawab supir itu santai.


"Sialan ka...


Belum selesai Reza mengumpat, laki-laki itu sudah tak sadarkan diri.


"Target sudah pingsan bos," ucap sang supir memberikan pesan suara melalui ponselnya.


Ting.


"Bawa ke hotel X!"


"Baik, tuan."


Flashback off.


_


_


_


_


_


_

__ADS_1


Waduh, gimana tuh? Apa yang bakalan terjadi ya sama pernikahan Reza dan Alia? Dan kira-kira enaknya untuk orang jahat, hukumannya apa ya?


Tbc.


__ADS_2