
"Bagaimana Alia? Apa kamu jadi ikut papa sama Mama?" tanya Hery. Kini, mereka tengah berada di meja makan sembari menyantap makan malam.
"Yang pasti Alia harus ada di sini, pa. Alia itu istrinya Reza, dia gak boleh kemana-mana tanpa izin dari suaminya," timpal Reza.
"Papa gak nanya sama kamu, papa nanya sama Alia." Hery langsung fokus menatap wajah menantunya yang datar itu.
"Alia," panggil Hery.
"Mungkin Alia akan tinggal di sini untuk satu Minggu, pa. Alia ingin lihat semua bukti bahwa kejadian ini adalah salah paham. Kalau lebih dari satu Minggu dan tak ada juga bukti, maka Alia akan pulang ke rumah orang tuanya Alia di kampung," jawab Alia akhirnya membuka suara.
Mendengar pulang ke kampung, itu artinya Reza dan Alia akan berpisah jika dalam satu Minggu ini Reza tak bisa membuktikan ucapannya.
"Baiklah, semua terserah sama kamu, nak. Papa selalu mendukung," ucap Hery tersenyum sendu.
Sebenarnya, bukan hanya Reza yang tak ingin perpisahan, melainkan kedua orang tua Reza juga tak ingin adanya perpisahan pada anak dan menantu mereka.
Setelah selesai makan malam, Alia memilih langsung masuk ke kamar dan membereskan baju-bajunya yang berserakan.
Setelah selesai membereskan baju-bajunya kembali ke lemari, Alia pun mengambil ponselnya lalu menghubungi ibunya.
Nada masuk pun terdengar hingga panggilan terhubung.
"Assalamualaikum, ibu." Alia mencoba menahan tangisnya dengan menutup mata lalu merebahkan tubuhnya di kasur.
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh, apa kabar, nak?"
Mendengar suara sang ibu, air mata Alia kembali mengalir. Ingin rasanya ia bercerita mengenai masalah yang ia hadapi sekarang.
"Alhamdulillah baik, Bu. Ibu sama ayah gimana kabarnya?" jawab Alia dengan suara bergetar. Jujur, kali ini ia tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya seperti dulu.
"Alhamdulillah kabar kami baik juga."
"Kamu baik-baik aja kan, Lia?"
"Iya Bu."
"Kamu nangis ya? Kenapa nangis? Bertengkar sama suami ya? Sabar ya sayang, rumah tangga itu memang selalu ada aja ujiannya, kalau tentram-tentram aja nanti bosan."
Alia pun menghapus air matanya sembari terkekeh. "Iya ibu, kayak ibu sama ayah kan. Kadang-kadang suka ribut tapi tetap romantis," sahut Alia.
"Ah, kamu ini bisa aja. Oh ya, ayah kamu baru pulang tuh dari Masjid, ibu mau siapkan makanan dulu ya."
"Iya Bu, sampaikan salam sama ayah. Bilang kalau Alia rindu. Kalau ada waktu, datang kemari yah liatin Alia sesekali," ucap Alia.
"Iya, insyaallah bakalan kesitu habis panen ini. Udah ya nak, assalamualaikum."
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh."
__ADS_1
Setelah merasa sedikit lega karena mendengarkan suara sang ibu, Alia pun meletakkan kembali ponselnya di nakas.
Tanpa ia sadari, sedari tadi Reza terus memperhatikannya dari sela pintu. Laki-laki itu juga mendengar percakapan istrinya dan ibu mertuanya. Untung saja Alia tak menceritakan kejadian sebenarnya, kalau tidak, ia mungkin tak akan bisa mempertahankan pernikahan ini.
Betapa beruntungnya ia mendapatkan istri seperti Alia, kenapa ia baru menyadari itu.
Reza pun memilih untuk tak masuk ke kamar dulu, ia ingin memberikan ruang pada Alia untuk menenangkan diri. Sebaiknya, ia mencari bukti karena jika dalam satu Minggu ini ia tak bisa membuktikan kesalahpahaman itu, maka pernikahannya akan berakhir.
Reza memilih masuk ke ruang kerjanya, ruangan ini ia gunakan untuk memeriksa semua berkas dan juga memeriksa pemasukan dari usahanya.
"Kira-kira, gimana ya cara ngebuktiinya?" gumam Reza bingung. Ia pun menyandarkan tubuhnya lalu menutup matanya.
Tiba-tiba saja, matanya kembali terbuka dan ia langsung meraih ponsel yang ada di atas meja.
"Nadia, aku harus bisa membuat dia mengakui kesalahannya."
Namun, tiba-tiba Reza menjadi lesuh lalu kembali menyandarkan punggungnya dan menutup matanya.
"Dia aja di kota sana, aku di sini. Gimana cara nangkap tuh cewek ya?"
Lama Reza berpikir hingga sebuah ide muncul di otaknya.
"Doni," gumam Reza.
Laki-laki itu pun langsung mencari kontak Doni dan langsung menghubungi nomor temannya itu.
"Ayo dong Don, please."
"Don, Lo masih liburan kan?" tanya Reza to the point.
"Iya, besok pulang nih. Lo kemana sih, bang? Gue cariin gak ada, udah pulang ya?"
"Iya, gue udah pulang tadi siang. Don, gue boleh gak minta tolong sama lo," ucap Reza penuh harap.
"Minta tolong apa?" tanya Doni terdengar tengah menguap.
Reza pun langsung menceritakan kejadian mulai pulang dari cafe hingga ancaman perpisahan. Mendengar itu, terdengar suara Doni yang sedikit berteriak karena terkejut.
"Lo kenapa Don?" tanya Reza saat mendengar suara temannya itu berteriak.
"Mochi cakar kaki gue," jawab Doni membuat Reza menghela nafas lega.
"Gue pikir kenapa gitu," ucap Reza.
"Jadi lo sedang dalam kesalahpahaman kan? Wah, kacau banget si Bima."
Reza yang sedari tadi fokus tiba-tiba gagal fokus.
__ADS_1
Bima? Maksudnya?
"Kenapa dengan Bima, Don?" tanya Reza.
"Lo kan tau kalau Bima suka sama istri lo. Nah, dia itu lagi rencanain supaya lo pisah sama kakak ipar," jawab Doni semakin membuat Reza kebingungan.
"Jadi, maksud Lo ini semua rencana Bima? Bukan Nadia?"
"Ya Nadia juga sama, mereka itu satu kubu."
"Lo tau darimana, Don?" tanya Reza memastikan jika semua itu benar dan bukan hanya tebakan belaka.
"Gue punya rekaman pas Bima telponan sama orang. Awalnya, gue gak tau itu siapa. Mereka bahas Lo dan juga obat tidur. Nah, gue gak sempat tuh dengerin kelanjutannya karena si mochi nyenggol tong sampah dan alhasil si Bima sadar kalau pintunya gak di tutup. Yah, gue kabur lah dan ninggalin si mochi di situ biar Bima kagak curiga," jelas Doni.
"Nah, pas kita keluar nongkrong. Ternyata, Nadia tuh yang datang. Berarti yang teleponan sama Bima itu, Nadia. Makanya, malam itu gue jatuhin minuman lo ke celana biar lo gak jadi minum dan lo cepat pulang karena gak nyaman sama celana lo itu," lanjut Doni.
"Ya mana gue tau ternyata Bima punya rencana cadangan dan bius lo di taksi. Gue kira lo udah selamat," sambung Doni menjelaskan semuanya dengan singkat dan padat.
"Makasih ya Don, lo udah berusaha nyelamatin gue." Reza merasa bodoh sekarang, mengapa ia mengaggap biasa aja dengan sifat Bima yang belakangan ini berubah.
"Eh, Don. Si Bima tau gue suaminya Alia darimana?" tanya Reza baru kepikiran.
"Lah, mana gue tau. Mungkin dia ngecek datanya kakak ipar," jawab Doni.
"Ya Allah." Reza memijit pelipisnya.
"Jadi lo maunya gimana, Za? Mumpung gue masih ada di sini?" tanya Doni.
Seperti ada angin segar yang bertiup, Reza pun langsung menyampaikan niatnya.
"Gue mau lo.....
_
_
_
_
_
Mau apa tuh😂
Oh ya, author mau promo nih novel baru author.
Mampir yah di novel baru author yang judulnya "MELAHIRKAN ANAK UNTUK TUAN MAJIKAN" di Fi*z0 novel.
__ADS_1
baru aja netas, kalau punya apk jangan lupa mampir ya😘
tbc.