
"Salah paham? Kenapa bisa kamu bicara begitu, Reza? Apa buktinya kalau ini semua hanyalah salah paham?" tanya Mamanya Reza.
"Ma, percaya sama Reza, Ma. Reza ini anak Mama dan mama pasti tau bagaimana sifat Reza, Reza gak mungkin ngelakuin hal bejat itu." Jelas Reza menatap harap pada sang mama agar percaya padanya.
"Jangan mengelak lagi, Reza! Bahkan Alia sendiri yang melihat kamu di kamar hotel bersama dengan wanita hamil!" bentak Hery kembali melempar ponsel yang ada di atas meja, kali ini ponsel istrinya.
Reza kembali meringis dan mendapati luka di keningnya. Lemparan itu sangat keras sehingga keningnya pun mengeluarkan darah. Tapi, itu tak penting, yang terpenting sekarang bagaimana ia bisa menjelaskan semuanya.
Reza pun menatap sang istri yang sedari tadi tak menatapnya atau memperhatikannya, Alia lebih sibuk menatap ke arah lain dengan tatapan kosongnya.
"Alia, aku benar-benar gak bohong. Aku di jebak sama Nadia dan itu semua agar aku menikahi dia. Kami gak tidur bareng dan kami gak melakukan apa-apa, aku berani sumpah."
Alia tak merespon dan memilih untuk beranjak pergi dari tempat duduknya.
"Alia, kamu mau kemana?" tanya Reza ikut berdiri.
"Tetap di tempat, Reza Heryansyah!" bentak Hery membuat Reza langsung kembali duduk dan menatap sang istri yang sudah berjalan menuju kamar.
"Papa akan membawa Alia ke rumah," lanjut Hery. Seketika, tubuh Reza menegang.
"Pa jangan kekgitu," ucap Reza tak terima.
"Selama dia berada di rumah kami, dapatkan bukti dalam 1 Minggu ini kalau semua ini benar-benar salah paham. Atau, kamu dan Alia harus berpisah!" ancam Hery benar-benar membuat tubuh Reza bergetar.
Dengan cepat Reza berlari menuju kamar tak memperdulikan panggilan dari orang tuanya.
"Alia, Alia! Apa yang kamu lakukan, ha?" tanya Reza mengeluarkan kembali baju-baju yang baru saja dimasukkan Alia ke dalam koper.
"Mas!" bentak Alia marah. Ia sudah lelah memasukkan baju itu ke koper malah dibuat berantakan oleh suaminya.
"Aku tak akan mengizinkan mu untuk keluar dari rumah ini!" Tegas Reza lalu berjalan ke arah pintu dan mengunci pintu kamar.
"Jangan menghalangi adek, mas! Adek capek, mas. Adek butuh istirahat sejenak," ucap Alia kembali memasukkan baju-bajunya ke koper.
"Istirahat di sini saja, sayang." Reza kembali mendekat dan mengeluarkan baju-baju Alia yang baru saja dimasukkan kembali ke koper.
"Mas! Tolong jangan begini! Biarkan adek menenangkan diri dulu hingga adek percaya bahwa apa yang adek liat di depan mata itu hanyalah salah paham!" bentak Alia berusaha menahan tangisnya. Ia benar-benar kecewa dan sakit hati.
"Aku tidak akan membiarkan mu keluar dari rumah ini, tidak akan!" tegas Reza menatap sendu mata istrinya.
"Dengan izin atau tidak, adek bakalan pergi ke rumah Papa sama Mama." Alia memasukkan bajunya dengan berantakan ke koper.
"Aku ini masih suami kamu, Alia! Sebejat apapun aku, sejahat apapun aku, kau membutuhkan izinku untuk keluar dari rumah ini!" tekan Reza mencengkram tangan Alia yang sibuk memasukkan baju ke koper.
__ADS_1
"Kalau begitu, jadikan semuanya mudah, mas."
Alia menatap suaminya itu dengan tatapan benci.
"Maksud kamu apa?" tanya Reza tak mengerti.
"Ceraikan aku dan biarkan aku keluar dari rumah ini!" pinta Alia menepis tangan Reza.
Mendengar itu, sontak tubuh Reza kembali menegang.
"Itu tak akan pernah terjadi!" ucap Reza dengan rahang yang mengeras.
Meski dulu ia menginginkan momen ini, namun sekarang ia tak ingin! Ia tak ingin bercerai dari Alia karena ia sudah mencintai wanita itu.
"Itu lebih baik daripada kita saling menyakiti, mas. Ceraikan adek biar semuanya baik-baik saja," ucap Alia masih dengan tatapan benci nya.
"Tidak ada yang baik-baik saja setelah perpisahan, Alia! Kalaupun kau merasa baik, tapi aku tidak!" teriak Reza tak terima dengan permintaan istrinya itu.
"Kenapa tidak, mas? Bukannya mas membenci adek? Mas sebenarnya ingin bercerai dari adek sedari dulu kan, makanya mas selalu jahat sama adek. Sekarang, adek beri kebebasan. Ceraikan adek, mas!" balas Alia tak kalah sengitnya.
"Tak akan ada perpisahan diantara kita!" Reza langsung bangun dan menggendong paksa Alia,membawa wanita itu ke ranjang.
"Mas mau ngapain?" tanya Alia berontak.
"Mas!" teriak Alia tak habis pikir dengan perlakuan Reza padanya.
"Mari kita buat ini semakin mudah, sayang. Aku akan menanamkan benih ku di rahimmu sehingga kamu gak bisa ninggalin aku," ucap Reza membuka atasannya lalu membuka jilbab bahkan merobek gamis Alia dengan paksa.
"Mas jangan kekgini, gak baik." Alia mulai melunak, bukan karena pasrah melainkan karena takut.
"Terus yang baik itu gimana, ha?" tanya Reza. Laki-laki itu benar-benar hampir gila hanya dengan mendengarkan kata cerai, bagaimana jika benar-benar bercerai, mungkin ia akan langsung gila.
"Biarin adek pergi mas," pinta Alia memohon.
"Tidak akan, Alia. Itu tidak akan pernah terjadi." Reza pun kembali melakukan aktivitas lalu menyelimuti tubuh Alia agar tak dilihat oleh setan.
Reza lalu memeluk tubuh Alia dari balik selimut.
"Sekeras apapun kamu menjerit dan memohon, aku tak akan melepaskan mu! Kamu adalah milikku dan akan tetap menjadi milikku!" bisik Reza mulai menciumi wajah istrinya itu.
Alia hanya bisa pasrah saja, ia harus ikhlas untuk yang satu ini, karena ini semua adalah kewajibannya walau hatinya tengah terluka parah dan merasa benci pada laki-laki yang ada di atasnya ini.
Di luar sana, kepanikan terjadi. Hery berulangkali mengetuk pintu bahkan mengancam akan mendobrak pintu kamar. Ia takut, anaknya itu melukai menantunya.
__ADS_1
"Pa, biarkan saja. Mama yakin Reza tak akan melukai Alia. Kita tunggu nanti malam bagaimana kejelasannya," ucap Mela.
Hery pun menyerah dan memilih menunggu hingga malam saja. Ia berharap, di dalam sana semuanya baik-baik saja.
*****
Malam harinya, setelah shalat Maghrib.
Kedua insan itu baru saja selesai shalat Maghrib.
Senyuman tak pudar dari wajah Reza yang baru saja memenangkan permainan. Sedangkan Alia, hanya memasang wajah datarnya saja.
"Aku akan membuktikan kalau semua ini hanyalah salah paham, aku janji. Jangan pergi ya," ucap Reza memeluk Alia dari belakang.
Alia pun memutar bola mata malas lalu berusaha melepas pelukan suaminya itu.
"Terimakasih untuk yang tadi," bisik Reza membuat Alia menghela nafas berat. Walau Reza melakukannya dengan lembut dan penuh kasih sayang, namun Alia tetap saja masih tak bisa memaafkan laki-laki yang memeluknya ini.
Ia masih merasa sakit, kecewa dan juga benci pada suaminya dan tak mudah untuk menghilangkan rasa itu.
"Aku mencintaimu," ucap Reza pelan di telinga Alia.
Alia pun lantas menatap sang suami.
"Tapi aku tidak," ucap Alia lalu pergi meninggalkan Reza yang masih saja tersenyum walau mendengar kata-kata menyakitkan dari Alia.
"Aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta, seperti dulu kamu yang membuat aku jatuh cinta, Alia."
_
_
_
_
_
Yang udah ngikutin author pasti tau kalau author tidak akan menulis adegan ranjang yah😘
Masalah Bima, tenang guys, kita tak akan melupakan Bima ya. Seng sabar.
tbc
__ADS_1