
Setelah insiden itu, Reza berusaha mengontrol kata-katanya yang pedas dan juga sikap semena-mena nya. Ia masih dihantui rasa bersalah karena Alia masih saja mengeluh sakit di punggungnya sesekali.
Hari ini Alia ada mata kuliah pagi, setelah selesai sarapan Alia langsung berkemas. Wanita itu memakai gamis dan akan tetap selalu memakai pakaian langsung daripada pakaian potong.
Setelah berkemas, tak lupa Alia berpamitan pada Reza yang kembali tidur dan melewatkan jam sarapan.
"Mas adek pergi dulu ya," ucap Alia duduk di tepi ranjang sebelah Reza.
Reza pun tampak menggeliat lalu membuka matanya.
"Itu di dompet gue ada uang, bawa semua! Jangan pulang sama laki-laki," ucap Reza. Alia pun mengangguk dan mengambil dompet suaminya itu lalu mengambil uang cash yang ada di dalamnya.
"Makasih mas, adek pergi dulu ya. Assalamualaikum," ucap Alia menyalim suaminya, tak lupa mencium punggung tangan Reza.
"Wa'alaikumusalam," jawab Reza pelan dan kembali terlelap.
Alia pun langsung pergi dari kamar menuju pekarangan rumah, sepertinya dia akan naik taksi hari ini, karena temannya juga masih di rumah sakit.
Sesampainya di kampus, Alia langsung bergegas menuju kelasnya. Hari ini ia ada 3 mata kuliah berturut-turut, sengaja Alia memadatkan jam kuliah agar hari Jum'at sampai Minggu ia bisa beristirahat.
"Alia," panggil seseorang membuat Alia langsung berhenti. Melihat siapa yang datang dari arah depan kelasnya membuat Alia menghela nafas berat.
"Assalamualaikum Alia," ucap Bima yang sedari pagi lagi sudah ada di depan kelas Alia yang akan digunakan untuk mata kuliah pertama.
Sangking tertariknya laki-laki itu pada Alia, ia bahkan mencari semua jadwal kuliah wanita itu.
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh," jawab Alia. Ia pun memilih untuk kembali melangkah melewati Bima namun laki-laki itu malah kembali menghadangnya.
"Ada apa kak?" tanya Alia mulai kesal tapi ia tampak tenang.
Hanya saja, ia takut jika ada yang melihatnya lalu melaporkannya kepada suaminya. Ia takut Reza akan marah lagi.
"Soal yang kemarin, lo bilang kalau lo udah punya suami, apa itu benar?" tanya Bima menatap penuh harap wanita yang tengah menundukkan kepalanya itu.
"Iya, aku udah punya suami kak. Jadi, aku mohon untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi," jawab Alia tenang.
"Siapa nama suami lo?" tanya Bima penasaran.
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Gue cuma ingin bukti aja kalau lo memang udah punya suami," ucap Bima melangkah satu langkah membuat Alia langsung memundurkan langkahnya.
Alia pun menghela nafas berat, dilihatnya jam yang ada di lengannya. Sebentar lagi kelas akan di mulai.
"Reza," ucap Alia.
"Maaf kak, aku harap setelah ini kakak tak mengganggu ku. Aku masuk dulu, assalamualaikum," lanjut Alia memilih masuk ke dalam kelas meninggalkan Bima yang masih berdiri dengan tatapan bingung.
"Wa'alaikumusalam," gumamnya pelan lalu berjalan meninggalkan area kelas Alia.
"Reza? Reza siapa? Di kota ini banyak yang namanya Reza," lanjut Bima sembari menggaruk kepalanya.
"Kan gak mungkin Reza teman gue, itu mustahil karena Alia bukan tipe wanita yang disukai Reza. Tapi, Reza siapa ya?"
Bima pun memilih untuk pulang karena ia tak ada kelas pagi, melainkan siang.
"Gue harus cari siapa Reza yang dimaksud Alia," ucap Bima sudah masuk di mobilnya.
"Mencintai istri orang itu ternyata sangat menantang dan menyenangkan," lanjutnya tersenyum sembari melajukan mobil menuju rumahnya.
Bayangkan saja, ia hanya ke kampus untuk menemui Alia lalu kembali pulang.
Setelah selesai 3 mata kuliah, Alia pun berniat untuk segera pulang, namun teman sekelasnya ingin makan bersama dan Alia pun tak keberatan.
Mereka pergi ke kantin umum yang besar dan juga banyak menu di sana.
"Al, kok aku sering banget ya liat kak Bima nyamperin kamu," ucap Sindi salah satu teman baik Alia.
"Entahlah, dia tiap hari mau kenalan, mau minta nomor ponsel, mau tau nama suamiku, ada-ada aja." Ucap Alia yang kini mereka sudah ada di kantin dan duduk di meja mereka.
Hari sudah siang, bahkan sudah lewat shalat Dzuhur. Alia dan Sindi juga sudah shalat di musholla fakultas.
"Segitu tertariknya dia sama kamu, Al."
"Gak tau juga sih, tapi aku rasa itu hanya ketertarikan sesaat. Bisa jadi juga dia sedang melakukan undian ataupun tantangan, laki-laki seperti mereka sering banget buat tantangan untuk menaklukkan satu wanita," ucap Alia membuat Sindi mengangguk mengerti.
"Iya, laki-laki nakal seperti mereka memang suka tantangan seperti itu. Nanti kalau udah dapat ataupun berhasil, nah si ceweknya bakalan disakitin," sahut Sindi.
"Apalagi laki-laki kayak kak Bima yang terkenal playboy," lanjutnya.
__ADS_1
Alia pun hanya tersenyum kecil saja mendengar itu. Tak lama pesanan mereka pun datang.
"Al, antara kak Bima sama suami kamu mana yang lebih ganteng?" tanya Sindi asal membuat Alia tertawa kecil.
"Ya suami aku lah," jawab Alia.
"Cie, aku penasaran banget loh sama suami kamu. Kenalin kek sesekali," ucap Sindi di sambut tawa Alia.
"Nanti kamu naksir lagi," ucap Alia membuat Sindi tersedak.
"Hahahaha, bisa aja kamu Al."
"Eh, Al. Itu kak Bima," lanjut Sindi membuat Alia menoleh ke arah rombongan yang selalu duduk di kantin setelah maupun sebelum jam kuliah.
"Dari rombongan mereka menurut aku yang paling ganteng itu kak Reza, sumpah ganteng banget. Tapi, dia itu terkenal sombong dan juga jutek sama perempuan," ucap Sindi.
Alia pun menatap sang suami yang tengah mengobrol sembari memegang sedotan. Bibirnya tertarik melengkung lalu kembali fokus pada makanannya.
"Dia memang ganteng, tapi kasar dan galak juga. Tapi, aku masih tetap tak menyerah membuat dia mencintaiku dan menerimaku."
_
_
_
_
_
_
_
Alia masih berusaha nih untuk membuat Reza jatuh cinta, namun ketika usahanya sudah terwujud malah ia yang akan menjauh karena sebuah kesalahan 🙃
Waduh, gimana tuh kelanjutannya 🥺
Jangan lupa like, komen dan juga votenya. Dukungan kalian sangatlah berarti bagi author.
__ADS_1
tbc.