
Note: Reza itu bukan mafia, CEO yang berkuasa atau laki-laki yang punya asisten pribadi yang bisa mendeteksi bahaya yah. Reza itu sama kayak kita, hanya orang biasa yang cuma punya harta dan sikap sombong aja. Harap di mengerti ya😘
*******
Happy reading.
Malam harinya.
Setelah selesai shalat Isya, Reza pun sudah rapi menggunakan pakaian santainya. Sebenarnya, ia sangat tak mau pergi. Hanya saja, teman-temannya itu mengancam akan datang ke penginapan Reza dan nongkrong di sana, kan itu sangat bahaya nantinya.
"Lama gak mas?" tanya Alia menatap sang suami yang tengah merapikan rambutnya di depan cermin.
"Jam 10 udah pulang nanti," jawab Reza.
"Hm, yaudah. Hati-hati ya," ucap Alia.
Reza pun mengangguk lalu mendekati istrinya yang sedari tadi memperhatikannya.
"Aku janji, jam 10 udah pulang. Kalau udah ngantuk, jangan di tunggu yah, tidur aja duluan." Reza mencium kening istrinya lalu beralih ke pipi dan berakhir di bibir.
"Iya, hati-hati ya." Balas Alia mencium bibir Reza sembari tersenyum malu-malu.
Drrrttt.
Drrrttt.
Ponsel Reza bergetar. Reza pun langsung menerima panggilan dari Bima.
"Iya-iya, gue turun sekarang." Reza pun langsung memutuskan panggilan dan mengambil dompetnya.
Cup.
"Assalamualaikum," ucap Reza sekali lagi mencium bibir Alia.
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh," jawab Alia tersenyum malu menyentuh bibirnya.
Sepeninggalan Reza, Alia pun kembali ke ranjang dan mengambil ponselnya lalu menghubungi ayah dan ibunya untuk sekedar bertukar kabar dan juga curhat tentang pernikahannya.
Tentunya, Alia akan menceritakan yang baik-baik saja.
Di luar sana, Reza sudah naik ke mobil temannya. Hanya ada mereka berempat di dalam mobil.
"Kita nongkrong dimana?" tanya Reza.
"Cuma di cafe kok, bang." Doni yang duduk di sebelah Reza sembari memangku seekor kucing.
"Lo ngapain bawa kucing ha?" tanya Reza aneh melihat temannya yang nongkrong sembari membawa kucing.
"Oh, ini si mochi gak mau di tinggal. Jadi, gue bawa aja." Doni menjawab sembari nyengir.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya mereka pun sampai di tempat yang dikatakan Bima. Tempat yang ramai dengan pengunjung.
"Gue udah pesan yang VIP," ucap Bima.
__ADS_1
"Ngapain kita di VIP? Kan bisa di luar aja, menurut gue lebih bagus, bisa liat pemandangan." Reza menatap bingung temannya itu.
"Di VIP kita bisa ngobrol bahkan teriak sesuka hati, lagian pemandangan dari ruang VIP lebih bagus kok daripada di sini," jelas Bima.
"Udah-udah, buruan masuk yuk." Doni pun menarik tangan Reza lalu mereka masuk ke dalam tempat nongkrong itu.
"Oh ya, gue gak bisa pulang larut ya. Jam 10 gue udah harus pulang," ucap Reza membuka suara saat mereka sudah masuk di tempat yang dipesan Bima.
"Ada orang yang nungguin lo di penginapan ya? Lo kenapa si Za? Kayak ada istri aja gak boleh pulang larut," ucap Bima membuat Reza tertegun.
"Bukan gitu, gue cuma lagi banyak kerjaan yang harus gue selesain malam ini."
"Okelah gak apa, yang penting lo udah datang. Udah jangan diributin lagi," sela Rian saat Bima ingin membuka suaranya.
"Oh ya, jangan di makan dulu ya. Gue ngundang teman gue kemari, bentar lagi nyampek," ucap Bima saat pesanan sudah tertata rapi di meja.
"Ish, gue lapar tau!" ketus Doni mengambil minumannya.
"Don, please. Bentar lagi dia datang kok," ucap Bima kesal.
"Lagian siapa sih yang datang? Bukannya kita cuma berempat aja kan sesuai rencana," tanya Reza bingung.
"Adalah, dia teman baik gue. Maaf baru bilang karena baru tadi dia setuju buat datang," jawab Bima santai.
"Cowok apa cewek?" tanya Rian. Ketiga laki-laki itu menatap penuh tanya pada Bima.
Tok-tok...
Pintu pun terbuka dan muncullah tamu yang ditunggu-tunggu Bima sedari tadi.
"Maaf ya telat," ucap Nadia tersenyum manis ke arah tiga temannya Bima.
"Gue pulang!" ucap Reza langsung berdiri.
"Za, lo jangan gitu dong. Masa main pulang-pulang aja sih," cegat Bima.
"Maaf kalau kak Reza gak nyaman, aku bakalan pergi kalau gitu," ucap Nadia dengan raut wajah bersalah.
"Aduh kalian berdua kenapa sih? Yang satu mau duduk yang satu mau pulang. Sekarang, dua-duanya mau pulang," ucap Bima kesal. Reza langsung menatap tajam ke arah Bima.
"Lo tau sendiri kalau gue gak suka nongkrong campur-campur gini kan? Terus ngapain lo ngundang dia ha?" tanya Reza marah.
"Ya, gue minta maaf. Cuma kan, Nadia ini teman baik gue, karena dia juga orang sini, jadi gue ngajak dia. Lagian, tempat ini juga atas rekomendasi dari Nadia kok," jawab Bima santai.
"Gini aja deh Bim. Kalau lo tetap pengen dia ada di sini, gue pulang!" tegas Reza berjalan menuju pintu namun langsung di cegat oleh Nadia.
"Biar aku aja yang keluar kak," ucap Nadia tak enak hati.
"Iya, yang harus keluar itu lo, karena lo gak diharapkan di sini!" sahut Doni tak kalah sengit menatap Nadia.
Wanita hamil itu pun menunduk lalu tersenyum dan pergi meninggalkan keempat laki-laki itu.
"Duduk lagi, Za. Lo jangan pulang dulu, kalau lo pergi percuma aja kita nongkrong," ucap Rian.
__ADS_1
"Dan Lo, Bim. Lain kali kalau mau ajak orang lain, bilang dulu. Jangan asal undang aja!" lanjut Rian membuat Bima menghela nafas berat lalu kembali duduk di kursinya.
Begitu juga dengan Reza yang kembali duduk di kursinya.
"Jadi udah boleh makan kan?" tanya Doni.
"Iya," jawab Bima malas.
"Hore, makan." Doni pun langsung mengambil pesanannya dan menyantapnya, sedangkan yang lain hanya geleng-geleng saja melihat Doni yang sudah seperti orang tak pernah makan.
"Dimakan Za," ucap Bima mempersilahkan.
Reza pun mengangguk dan meraih gelas jus nya.
Brakk!
"Doni!" teriak Reza saat Doni tak sengaja menyenggol minuman laki-laki itu hingga tertumpah dan mengenai celananya.
"Gue, gue minta maaf bang. Gue tadi mau ngambil kentang goreng," ucap Doni mengambil tisu lalu membantu membersihkan tumpahan jus alpukat di celananya Reza.
"Lain kali hati-hati Don! Lo ngerusak semuanya tau!" tegur Bima kesal.
"Yaelah, kok semua salah gue sih. Kan gue gak sengaja," sahut Doni tak terima di salahkan.
"Gimana ni Za? Lo bersihin dulu ke kamar mandi kalau enggak," saran Rian.
"Gak usah! Gue pulang aja deh. Gue gak nyaman juga pakai celana yang basah gini," ucap Reza.
"Berarti gak jadi dong nongkrongnya," ucap Bima.
"Kalian aja yang nongkrong, gue mau pulang aja. Lain kali aja kita nongkrongnya," ucap Reza berdiri dan mengambil ponselnya.
"Gue anterin yang Za?" tawar Bima, karena hanya laki-laki itu yang membawa mobil.
"Gak perlu, Bim. Gue naik taksi aja, kalian lanjutin aja nongkrongnya, assalamualaikum."
"Wa'alaikumusalam, hati-hati bang."
Bima pun menatap kepergian Reza yang kini sudah tak kelihatan lagi lalu beralih ke Doni yang kembali melanjutkan makannya.
"Ck!"
_
_
_
_
_
_
__ADS_1
Tbc.