
Setelah selesai berenang, Alia pun kini tengah mengeringkan rambutnya, sedangkan Reza sudah terlelap tidur.
Sesekali Alia menatap wajah suaminya yang tertidur pulas karena lelah setelah berenang. Pipi Alia kembali menghangat mengingat kejadian di kolam renang tadi, ia memegang bibirnya lalu tersenyum manis.
"Ternyata gitu ya rasanya ciuman," batin Alia.
Wanita itu kelewat senang, apa ini akan menjadi suatu pertanda baik untuk hubungan mereka ke depan.
Setelah selesai mengeringkan rambut, Alia ikut naik ke atas ranjang. Ia juga lelah dan mengantuk.
Alia pun membaringkan tubuhnya menghadap sang suami lalu mengelus rambut suaminya dengan lembut.
"Tetaplah seperti ini, mas. Semoga pernikahan kita selalu baik-baik saja," ucap Alia pelan lalu ikut terlelap bersama Reza.
******
Sore harinya.
Setelah shalat ashar, Alia memilih langsung memasak. Sebenarnya sudah ada pelayan sih, hanya saja ia merasa jika suaminya memakan masakannya, itu lebih lah bermakna.
"Masak apa?" tanya Reza yang kini sudah ada di dapur juga. Laki-laki itu tampak mengambil sebotol air dingin di kulkas.
"Macam-macam," jawab Alia menoleh sekilas lalu fokus pada masakannya.
"Hm, Aku keluar dulu ya. Ikut gak?"
Alia tampak berpikir, setelahnya ia langsung menggeleng. Jika ia ikut, bagaimana dengan masakannya.
"Memangnya mau kemana?" tanya Alia.
"Duduk di pinggir pantai aja, nyari angin."
"Oh, yaudah mas aja yang pergi. Adek lagi masak soalnya," ucap Alia. Reza pun mengangguk lalu mencium pipi Alia.
"Kalau udah selesai masak, nyusul ya," bisik Reza.
Alia pun mengangguk sembari tersenyum ke arah suaminya yang kini sudah berjalan keluar dari dapur.
Dengan semangat, Alia mengerjakan semua masakannya. Ia akan segera bergabung dengan suaminya nanti setelah selesai memasak.
Di luar sana.
Reza memilih duduk di kursi pinggir pantai sembari menikmati langit sore dan juga hembusan angin laut.
Drrrttt
Drrrttt
Ponsel Reza bergetar, laki-laki itu pun langsung melihat siapa yang menghubunginya.
"Bima," gumam Reza lalu menerima panggilan dari Bima.
"Iya Bim?"
"Lo dimana?"
"Gue...gue lagi di rumah orang tua gue." Tak mungkin juga Reza mengatakan sedang bulan madu.
"Oh, gue kirain lo liburan kemana gitu. Padahal kita mau liburan Za sama teman-teman lain," ucap Bima di seberang sana.
"Yah, telat dong. Kalian aja deh yang pergi. Gue belum di kasih kemana-mana nih sama Mama," kilah Reza pura-pura tak enak hati.
"Hm, oke deh."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, panggilan pun terputus. Reza menghela nafas panjang, tak enak juga rasanya terus berbohong.
Tapi, apa ia akan bisa mengakui statusnya di depan teman-temannya nanti.
Ia sedikit ragu.
Memang kalau dipikir-pikir, perasaan benci, kesal dan juga ingin menyingkirkan Alia dari kehidupannya perlahan sirna begitu saja. Entah mengapa ia malah merasa nyaman berada di dekat istri yang tak diharapkannya itu.
Bahkan, sekarang ia sudah mulai berani berekspresi dengan mencium istrinya.
Apa ia sudah jatuh cinta?
Reza menggelengkan kepalanya. Apa iya dia jatuh cinta? Tapi, mengapa hatinya masih berat untuk mengakui Alia sebagai istrinya.
"Kak Reza," sapa Nadia yang kini sudah berada di dekat Reza.
Melihat itu, Reza sedikit terkejut. Keningnya berkerut karena merasa aneh pada wanita hamil di hadapannya itu. Nadia seperti cenayang yang mengikutinya kemana-mana.
"Nadia? Kamu di sini juga?" tanya Reza.
"Iya, aku kalau sore suka jalan-jalan di pinggir pantai, suka aja gitu. Kak Reza gitu juga ya?"
Tanpa minta izin, Nadia duduk di kursi sebelah Reza sembari tersenyum manis.
Penampilan wanita tampak lebih berbeda dari sebelumnya, kini wanita itu tampak lebih anggun dan juga sedikit seksi, karena dress yang digunakan Nadia sedikit lebih pendek dan juga bagian dadanya yang rendah hingga memperlihatkan belahan dadanya.
Reza memilih memandang ke arah depan daripada memandang sesuatu yang tidak halal baginya.
"Hm."
"Oh ya, istri kakak mana? Kok gak kelihatan? Masa suaminya dibiarin duduk sendiri di sini, nanti kalau diambil orang, nangis." Tanya Nadia menatap Reza dengan tatapan kagum.
"Alia sedang masak, dia sangat memperhatikan makanan yang dimakan suaminya. Dia tak mau suaminya ini makan makanan yang dimasak orang lain, makanya dia masak sendiri. Romantis kan istriku?" Jawab Reza mendapat tatapan tak suka dari wanita di sampingnya itu.
"Iya, romantis sekali," sahut Nadia pelan.
"Oh, masih di luar kota." Nadia menjawab dengan tak bersemangat.
"Lama ya di luar kota nya," ucap Reza tersenyum sinis.
"Iya."
Setelah itu, tak ada lagi perbincangan. Hanya ada keheningan yang menghampiri dua manusia itu.
"Kayaknya aku pulang dulu deh, soalnya udah sore banget," ucap Nadia sembari sesekali melirik ke arah belakang Reza.
"Hm."
Nadia pun berdiri lalu kembali celingak-celinguk.
"Aku pulang dulu ya kak," ucap Nadia.
"Iya, hati-hati."
Nadia tersenyum lalu berjalan selangkah ke arah Reza. Tiba-tiba saja, wanita hamil itu kehilangan keseimbangan membuat tubuhnya terjatuh ke arah Reza.
Refleks, Reza menangkap tubuh Nadia. Kini keduanya seperti tengah berpelukan karena Nadia mengalungkan tangannya di punggung suami Alia itu.
"Mas!" panggil Alia membuat Reza langsung mendorong tubuh Nadia.
Alhasil wanita itu kembali berdiri dan membenarkan rambutnya.
Reza langsung berbalik melihat sang istri yang tengah berdiri menatap benci ke arahnya.
__ADS_1
"Alia."
Alia pun kembali berjalan menuju penginapan dengan sepiring kentang goreng buatannya. Sedangkan Reza, langsung mengejar alia tanpa memperdulikan Nadia yang terus memanggilnya.
Nadia tersenyum sinis, ia pun pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang bahagia.
Di penginapan, Alia meletakkan sepiring kentang goreng yang ia masak dengan penuh cinta untuk dimakan bersama di pantai nanti di atas meja, lalu beranjak ke kamar.
"Sabar Alia, sabar." Alia mengelus dadanya. Matanya sudah berair, hatinya sakit melihat pemandangan di depan matanya tadi. Entah itu di sengaja atau tidak, tapi Alia sangat sakit melihat itu.
"Alia," panggil Reza menarik tangan Alia yang ingin masuk ke kamar mandi.
Alia langsung menepis tangan itu, namun tangan Reza menggenggam erat tangannya.
"Aku bisa jelasin, semua itu gak seperti yang kamu liat kok," lanjutnya ingin memberikan penjelasan.
"Jelasin apalagi, mas? Jelasin apalagi? Bilang kalau itu semua salah paham, bilang kalau Nadia jatuh dan mas nolongin, bilang kalau itu gak di sengaja! Yang mana satu penjelasan yang bakalan mas jelasin?" tanya Alia menghapus kasar air matanya.
"Iya, semuanya. Semua itu benar, Nadia jatuh dan aku cuma nolongin, semua itu salah paham, Alia."
"Enggak mas! Kalau aja mas jadi laki-laki yang tegas, itu semua gak bakalan terjadi!" ucap Alia penuh penekanan.
"Kalau aja mas tegas, mas gak bakalan duduk berduaan dengan perempuan lain! Kalau aja mas tegas, mas gak bakalan ngeladenin perempuan lain! Kalau aja mas tegas!..... " Alia menarik nafasnya yang memburu, menatap kecewa pada suaminya yang hanya bisa diam mendengar.
"Kalau aja mas tegas, mas gak bakalan nyentuh wanita lain dengan mudah!" lanjut Alia terisak. Hatinya begitu sakit, baru saja tadi pagi mereka berbahagia, kini sudah terluka lagi.
"Mas tau, hati adek sakit mas. Sakit banget! Dulu, ketika adek mau nyentuh tangan mas aja, mas bilang jijik! Tapi sekarang! Sekarang ada wanita yang bahkan tidak halal mas sentuh, mas malah menyentuhnya. Apa kurangnya adek bagi mas? Apa adek kurang cantik? Ya, adek akui, adek ini penuh kekurangan. Sudahlah tak cantik, tak seksi, tak anggun, tak selevel dengan mas yang kaya dan juga sempurna ini," ucap Alia mengeluarkan semua unek-uneknya yang sudah lama ia pendam.
"Maafin aku," ucap Reza lirih. Sungguh, ia menyesal karena tak langsung pergi saat Nadia menghampirinya.
Sungguh, ia sangat menyesal.
"Meminta maaf lah setiap hari mas, lalu lakukan kesalahan yang sama sampai istrimu yang tak berharga ini mati rasa padamu," ucap Alia menepis kasar tangan Reza lalu masuk ke kamar mandi meninggalkan Reza yang terdiam penuh penyesalan.
"Maafin aku, Alia!" teriak Reza penuh sesal sembari mengetuk pintu kamar mandi.
"Maaf," lirih Reza
Benar, ia tak tegas. Ia lembek dan tak bisa tegas pada Nadia, tapi ia tegas pada istrinya sendiri.
Ia mengaku salah. Adakah kata maaf untuknya? Adakah kesempatan kedua untuk kembali memperbaiki semuanya?
_
_
_
_
_
_
Waduh, gimana tuh ya. Paginya baikan, sorenya marah lagi.
Reza sih, lembek banget😕
Udah mau menuju konflik nih. Yang ini hanya permulaan aja.
Siapkan Kouta🤭 biar bisa baca😂
Jangan lupa like, komen dan juga votenya 😘
__ADS_1
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar. Boleh di komen yah yang ada typo berat nya.
tbc.