
Sesuai dengan kesepakatan awal, akhirnya Reza dan Alia pun camping di depan rumah. Di hamparan rumput yang terawat, Reza membangun tenda yang biasanya digunakan orang untuk bermalam di pegunungan. Hanya saja, tenda ini lebih besar dan juga tinggi agar hingga Alia bisa berdiri di dalam tenda.
Malam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Alia kini tengah duduk di di luar tenda bersama sang suami yang tengah menghidupkan api.
"Mau minum kopi?" tanya Reza menancapkan kayu dengan kokoh agar bisa menahan beban tempat memasak air. Semuanya dilakukan secara manual, tidak ada bantuan alat-alat canggih. Alia langsung menggeleng, lebih baik minum teh daripada kopi, pikirnya.
"Teh aja," jawab Alia menatap api yang menyala membakar kayu.
"Sayang, kalau kita enak-enak di sini gimana?" tanya Reza asal. Ia hanya iseng bertanya saja. Lagi pula, dimana lagi mereka akan melakukan ritual kalau bukan dalam tenda, kan tidak mungkin harus kembali ke dalam kamar. Ini kan ceritanya lagi camping.
"Ya gitu," sahut Alia singkat.
"Gitu gimana, sayang?"
"Goyang-goyang tendanya, mas. Lebih baik jangan deh," jawab Alia.
"Kan gak ada yang liat," ucap Reza mulai mengedipkan sebelah matanya.
"Malu mas, kan ada scurity di dekat gerbang."
"Ck, harusnya tadi kita camping-nya dibelakang rumah, bukan di halaman rumah." Reza membaringkan tubuhnya, meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.
"Memangnya mas gak bisa hidup ya kalau tanpa 'itu' semalam aja?" tanya Alia mengelus rambut Reza dengan lembut.
Reza menatap langit-langit yang tidak ada bintangnya lalu menatap sang istri. "Bisa," jawab Reza. "Tapi, gak tau kenapa setiap malam mas selalu kedinginan dan pengen dihangatin," lanjutnya tersenyum genit.
"Itu api, mas. Pasti hangat," ucap Alia menunjuk api yang sedang membakar kayu dan panci.
"Api itu panas, sayang. Kalau kena kulit bisa luka. Nah, kalau hangat yang mas bilang itu, gak bakalan ngelukain, malahan ngangenin."
Plak. Alia menepuk lengan Reza membuat laki-laki itu tertawa.
"Yaudah, kalau memang mas pengen yang hangat-hangat, kita pulang aja ke kamar. Gak usah pakai acara camping segala," ucap Alia pura-pura merajuk. Reza langsung kembali duduk dan memeluk Alia dengan erat hingga wanita itu merasa sesak.
"Mas mau adek mati?" tanya Alia sedikit berteriak.
"Abisnya sayangnya mas ini suka banget ngambek," sahut Reza mencium gemas pipi Alia. "Mas bercanda kok, sayang. Kalau malam ini gak bisa enak-enak, yang penting bisa meluk kamu. Itu aja udah buat mas senang," lanjut Reza merenggangkan pelukannya.
"Mas, airnya udah mendidih." Reza langsung tersadar saat air mulai meluap dan membasahi kayu bakar.
__ADS_1
"Hampir aja lupa kalau lagi masak air," ucap Reza pelan lalu mengangkat panci yang biasa ia gunakan camping dengan teman-temannya. Setelah itu, Reza dan Alia pun menikmati minuman berbeda namun sama-sama menghangatkan.
Setelah mengobrol dan makan ala anak camping, kini waktunya tidur. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, Alia juga sudah sangat mengantuk karena tak biasa bergadang.
"Tempatnya luas loh mas, kok mas malah mepet ke adek?" gerutu Alia saat Reza menyempitkannya.
"Dingin," ucap Reza pelan. Laki-laki itu masuk ke selimut lalu meraba-raba apa yang ada di selimut.
"Jangan raba-raba, mas. Nanti tendanya goyang-goyang," tegur Alia saat suaminya sedang melakukan kebiasaan rutin setiap malam.
"Eum." Reza malah semakin meraba-raba dan mengendus aroma tubuh Alia.
"Seru juga ya camping. Nanti sesekali kita camping di pinggir danau atau di pantai, biar bisa ngeliat matahari terbit," ucap Alia pelan. Suasana malam yang sunyi, ditambah suaminya juga yang hanya diam membuat ia merinding. Jadi, ia hanya bisa bicara pelan-pelan, takut ada yang menanggapi selain suaminya.
"Sayang?" Alia menatap sang suami yang sudah menutup mata, entah itu tidur atau hanya pura-pura tidur. Tapi, melihat tangan Reza sudah berhenti di perutnya dan tak bergerak lagi, itu berarti laki-laki itu memang sudah tertidur.
"Udah tidur rupanya," gumam Alia pelan.
Alia pun menggerakkan badannya agar menghadap sang suami dari posisinya yang terlentang tadi. Setelah berhasil menghadap suaminya, Alia langsung masuk ke pelukan Reza dengan buru-buru saat mendengar suara tanaman yang bergoyang. Tanpa ia sadari, sebuah senyuman tipis tercetak di bibir suaminya yang katanya sudah tidur.
******
Keesokan harinya.
Setelah shalat subuh, Alia langsung menyiapkan bahan-bahan untuk sarapan. Tidak ribet-ribet, hanya roti panggang dan segelas susu.
"Sayang, nanti kita camping ke pantai yuk," ajak Alia merasa kalau camping depan rumah tidak terlalu menyenangkan. Tak ada tantangan. Padahal semalam wanita itu tampak ketakutan saat suaminya sudah tidur.
"Boleh," jawab Reza. Kebetulan mereka juga tak kuliah karena hari ini libur dan besok juga libur, maka pergunakan waktu itu dengan sebaik-baiknya.
"Kapan perginya?" tanya Alia.
"Siap Ashar aja, nanti sebelum itu mas pergi beli bahan-bahan dan alat yang kurang untuk camping," jawab Reza memakan roti panggang buatan istrinya.
"Adek ikut ya," pinta Alia. Ia akan bosan seharian di rumah jika tak ada suaminya.
"Boleh, sekalian liat tempat yang bagus nanti untuk camping."
"He'em."
__ADS_1
*****
Tibalah siang harinya. Setelah berbelanja keperluan, Reza membawa Alia menelusuri pinggiran pantai mencari tempat yang bagus dan aman serta ada fasilitas listrik dan kamar mandi. Kebetulan, memang ada beberapa lokasi di pinggir pantai yang menyewakan tempat untuk camping.
Setelah menentukan tempat yang pas, tak lupa Reza juga membayar uang sewa pada si pemilik tenda dan pengelola lahan. Setelah itu, Reza pun membawa Alia untuk pulang.
"Kenapa gak tempat terpisah aja, mas?" tanya Alia.
"Kalau tempatnya terpisah, kita susah dapet fasilitas kamar mandi bersih sama listrik, sayang. Jadi, mas pilih di situ aja," jelas Reza sembari fokus mengemudi.
"Tapi kan di situ juga ada orang camping mas? Gak bebas dong," ucap Alia.
"Gak banyak kok, sayang. Palingan keluarga atau anak-anak muda kayak kita, gak bakalan se-rame pas hari-hari tertentu," sahut Reza menatap sekilas istrinya yang juga menatapnya.
"Kenapa liatin mas gitu?" tanya Reza kembali fokus mengemudi.
"Eum, gak kenapa-kenapa. Adek cuma lagi bayangin nanti malam kita camping," jawab Alia tersenyum antusias.
"Jadi gak masalah 'kan kalau di tempat rame? Mas juga pilih tempat di ujung biar gak rame-rame banget," tanya Reza memastikan. Jika istrinya tak mau, ia akan mencari tempat yang lain.
"Iya gak apa-apa," jawab Alia tak masalah. "Kan kita gak bakalan ngapa-ngapain juga," lanjut Alia terkekeh kecil.
"Eum, ya udah mas nyari yang sepi aja deh, biar bisa ngapa-ngapain."
"Mas!"
_
_
_
_
_
Jaringan baru aja bagus nih, setelah beberapa hari cuaca buruk. Ini aja baru bisa buka aplikasi NT, makanya baru bisa Update 🙏
Terimakasih sudah menunggu ya.
__ADS_1
Ini belum tamat kok🙂
tbc.