
Malam harinya.
Alia dan Reza duduk di ruang keluarga bersama dengan Bu Sasmi. Mertua Reza itu ingin mengatakan, kalau besok ia akan pulang kampung.
"Kok mendadak sih bu?" tanya Alia langsung memeluk sang ibu.
"Bukan mendadak, tapi baru kecapaian setelah ditunda-tunda," jawab Bu Sasmi sembari tertawa kecil dan mengelus kepala putrinya.
"Biar Alia telepon ayah Bu, minta izin lagi biar ibu tinggal di sini beberapa hari lagi," ucap Alia mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor ayahnya.
"Eum, ibu mau dengar jawaban ayah mu. Mempan gak dia dibujuk sama anak perempuannya ini," ledek Bu Sasmi. Reza pun hanya tertawa saja melihat tingkah ibu dan anak itu.
"Assalamualaikum." Panggilan langsung terhubung dan terdengarlah suara sang ayah dari seberang sana.
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh, ayah. Ayah apa kabar?" jawab Alia sembari menanyakan kabar sang ayah.
"Alhamdulillah baik, kalian gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah baik juga, ayah."
"Suami sama ibu kamu mana?" tanya sang ayah.
"Ini duduk dekat Alia. Ayah Alia mau ngomong sesuatu," jawab Alia lalu mengutarakan maksudnya.
"Ngomong apa?" tanya sang ayah terdengar sedikit tertawa.
"Ih kok ayah ketawa sih?" ucap Alia pura-pura ngambek.
"Ayah tau kamu mau ngomong apa, pasti mau minta ayah izinin ibu mu nginap di situ beberapa hari lagi kan?" tebak sang ayah dan benar sekali jawabannya.
"Kok ayah tau?" Alia menjawab sembari memanyunkan bibirnya membuat dua orang yang ada di dekatnya hanya bisa tersenyum saja.
"Ya karena kamu anak ayah," jawab sang ayah kembali tertawa.
"Ayah, boleh kan kalau ibu nginap di sini lagi beberapa hari?" buku Alia manja.
Kembali terdengar tawa dari sana, kedua mertua Reza itu sangatlah humoris dan ramah.
"Kamu gak kasihan sama ayah tidur sendirian? Kamu setiap malam tidur bareng suamimu, lah ayah, sendirian." Alia menatap sang ibu yang sedang senyum-senyum malu.
"Kan ayah nanti bisa tidur lagi sama ibu kalau udah pulang," ucap Alia masih berusaha membujuk.
"Ayah kangen sama ibu," ucap ayahnya membuat Alia terkekeh geli.
"Yaudah deh, nanti kalau Alia paksakan bakalan ada yang kesepian di sana," ucap Alia mengalah. Tak mungkin juga ia memaksakan kehendak agar ibunya tetap tinggal di dekatnya.
"Nah gitu dong. Biarin ibu kamu pulang dan menemui pujaan hatinya, ibu pasti merindukan ayah juga. Sesekali, kalian juga datang kemarin dan menginap," ucap sang ayah.
__ADS_1
"Iya ayahku sayang."
******"
Setelah selesai curhat dan mengobrol, akhirnya Alia dan Reza sudah berada di kamar.
"Ayah sama ibu romantis banget yah," ucap Reza sudah berbaring di ranjang. Laki-laki itu kini tengah menatap sang istri yang tengah memakai skincare malam.
"Iya, dari dulu lagi memang gitu. Kalaupun bertengkar, ujung-ujungnya malah makin romantis," sahut Alia.
"Rumah tangga itu memang harus ada cek-cok nya ya baru semakin romantis?" tanya Reza.
"Tergantung, gak semua rumah tangga bakalan semakin romantis setelah bertengkar. Ada juga rumah tangga yang harus bubar karena sebuah pertengkaran dan juga sudah merasa tidak cocok lagi," jawab Alia menatap sang suami. Yang ditatap pun hanya tersenyum saja.
""Semoga rumah tangga kita tetap baik-baik aja yah," ucap Reza mengedipkan sebelah matanya.
Alia tak menjawab ucapan Reza, namun ia diam-diam mengaminkan doa Reza. Ia juga berharap rumah tangganya baik-baik saja, sama seperti rumah tangga ayah dan ibunya.
*******
Keesokan harinya.
Bu Sasmi sudah pergi pulang ke kampung halaman diantarkan menantu dan anaknya sampai ke terminal. Padahal, Reza ingin ibu mertuanya itu naik pesawat saja biar tidak lelah, tapi, ibu mertuanya itu menolak.
Katanya takut jatuh.
Di kampus.
Setelah mendapatkan tanda tangan dari dosen pembimbingnya, Reza pun berjalan menuju kantin untuk bertemu teman-temannya.
"Cie yang bahagia banget, habis dapat jatah yah sebelum berangkat kampus?" ledek Rian saat melihat Reza datang dengan raut wajah bahagia.
"Eum, kepo." Reza duduk di kursinya lalu menatap Bima yang fokus dengan ponselnya.
"Gue udah liat siapa istri lo, gue gak nyangka Lo suka sama cewek syar'i ya," ucap Aldo diangguki teman-teman lainnya.
"Tapi, gue baru nyadar kalau cewek itu kan yang disukai Bima. Wah, ribet yah," lanjut Aldo menaikan sebelah alisnya sembari menatap Bima dan tersenyum kecil.
Bima pun menatap teman-temannya yang menatapnya juga.
"Gue udah move on kok," ucap Bima tersenyum manis. Laki-laki itu terlihat lebih tenang dari yang kemarin-kemarin.
"Yah memang harus move on, masa lo suka sama istri teman Lo sendiri," sahut yang lain.
"Kalau aja dari awal Reza jujur gak bakalan kok gue suka sama cewek itu. Maafin gue yah Za, sempat suka sama istri lo," ucap Bima menatap Reza dengan tatapan seperti dulu mereka berteman baik.
"Apa yang Lo rencanain, Bima? Gue yakin otak Lo lagi nyusun rencana jahat," batin Reza. Laki-laki itu membalas senyuman Bima dengan senyuman biasa saja.
__ADS_1
"Wait, wait! Berarti waktu Lo liburan di kota sebelah itu lo juga bawa istri lo kan?" tanya Rian mengingat momen di kota tempat mereka liburan kemarin.
"Iya, gue sengaja bohong biar kalian gak ke penginapan dan liat istri gue. Semua itu gue lakuin karena gue belum siap kalian tau kalau gue udah nikah," jawab Reza jujur.
"Kalian ngapain di sana bang?" tanya Doni pura-pura tak tau. Laki-laki yang lebih muda dari teman-temannya itu tampak tengah memancing emosi seseorang.
"Eum, bulan madu," jawab Reza santai.
"Huwaaa! Anj*r! Bulan madu? Ngapain aja?" sahut Aldo heboh. Teman-temannya yang lain pun ikut heboh.
"Lo semua mau tau?" tanya Reza serius membuat para teman-temannya itu mengangguk bersamaan, kecuali Bima.
"Kalau mau tau yah nikah," ucap Reza tersenyum meledek. Teman-temannya langsung berteriak kecewa karena hanya diberi harapan palsu.
Reza menatap Bima yang rahangnya tampak mengeras. Reza tersenyum sinis, senyuman ramah Bima tadi, hanyalah kebohongan semata.
"Semoga kakak ipar cepat hamil yah," ucap Doni langsung diaminkan oleh teman-temannya yang lain. Reza juga ikut mengaminkan doa itu. Ia juga berharap Alia lekas mengandung anaknya. Tapi, jika nanti ada sebuah kendala yang mengharuskan istrinya lama hamil atau tak bisa, ia akan tetap menerima itu.
Ia mencintai istrinya apa adanya.
"Lo kok keliatannya gak seneng, Bim." Bima langsung tersadar saat mendengar ucapan Doni yang terlihat sedang menyindir.
Bima tersenyum manis lalu memperlihatkan layar ponselnya. Di sana ada beberapa pesan yang dikirim oleh dosennya.
"Lagi emosi aja karena tingkah nih orang," ucap Bima kembali meletakkan ponselnya di atas meja.
"Gue kira lo cemburu," ledek Doni. Teman-temannya yang lain juga tertawa mendengar ledekan Doni.
"Cemburu? Cemburu kenapa, Don? Apa karena Reza suaminya cewek yang pernah gue suka? Gak lah! Gue mah kalau udah move on, yah move on. Lagian mana mungkin gue cemburu dan merasa gak bahagia sama kebahagiaan teman baik gue," sahut Bima mendapatkan tepuk tangan dari Doni dan juga Aldo.
"Bagus Bim, jangan jadi pebinor yah," ucap Aldo menepuk bahu Bima. Laki-laki itu pun hanya menanggapi dengan senyuman saja.
_
_
_
_
_
_
Telat lagi up-nya, author sedang kurang sehat.Maaf yah😭🤧
Semoga suka dan terimakasih sudah membaca❤️
__ADS_1
tbc.